Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Arja Klasik Duta Badung Tampil Di PKB 2025, Angkat Kisah Sirnaning Dirada Sungsang

Putu Resa Kertawedangga • Kamis, 26 Juni 2025 | 14:29 WIB

Penampilan Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, desa Mengwitani, Mengwi, Duta Kabupaten Badung di PKB 2025, Selasa (24/6).
Penampilan Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, desa Mengwitani, Mengwi, Duta Kabupaten Badung di PKB 2025, Selasa (24/6).

BALIEXPRESS.ID- Dira Kabupaten Badung dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, desa Mengwitani, Mengwi di panggung Kalangan Ayodya, Art Centre, Denpasar, Selasa (24/6), sukses membuat ratusan penonton terkesima.

Dalam pertunjukan Arja Klasik, Sanggar Citta Usadhi menampilkan mengusung cerita Sirnaning Dirada Sungsang. Penampilan di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 ini digarap atau ditulis langsung oleh sang pemimpin sanggar yang juga guru besar ISI Denpasar, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi bersama suaminya, I Nyoman Cakra.

 Baca Juga: Viral Dugaan Eksploitasi Anak oleh Yayasan di Tabanan, DPRD Temukan Sederet Kejanggalan

Naskah ini bercerita tentang tokoh Made Umbara yang berhasil memenangkan sayamebara mengalahkan Raksasa Dirada Sungsang untuk merebut hati Raden Galuh Diah Ratna Juita. Sebelum hal tersebut terjadi, Raden Galuh dijadikan tumbal oleh Ratu Pramiswari dari keraton Kastila Manik Ratna untuk Raksasa Dirada Sungsang. Syukurnya Dirada Sungsang belum mau memangsa Raden Galuh, bahkan malah menyisakan makanan untuknya. Dalam kondisi itu, Raden Galuh berdoa agar Tuhan mengirimkan malaikat penolong. Jika yang menolongnya adalah seorang wanita dia akan dijadikan sebagai saudara teman hidupnya. Namun jika yang menolongnya adalah lelaki, dia akan bersedia untuk mengabdikan hidupnya berbakti untuknya.

 

Di sisi lain, Made Umbara yang sudah menginjak dewasa disarankan untuk segera mencari pendamping hidup oleh gurunya bernama Ki Dukuh. Made Umbara lalu diminta sang guru untuk menyelamatkan Raden Galuh, putri mahkota kerajaan Swarnakaradwipa, dengan cara membunuh Raksasa Dirada Sungsang yang bermukim di Kawah Gohmaya Cambra di Gili Parang Gamping.

 Baca Juga: Inovasi Anak Muda di Jembrana! Kadek Rama Hadirkan SATRIA, Solusi Mudah Bayar Pajak Lewat Banjar

Pertarunganpun bergolak dan akhirnya raksasa dapat dibunuh dengan menggunakan taring permata kalung Radeb Galuh, yakni Motiwirasadi. Sang Raksasa adalah penjelmaan kutukan seorang Gandarwa harus ditebus di duniapada dan dia berterima kasih sudah menyupat dirinya untuk kembali ke kahyangan.

 

Dalam perjanan kembali ke Swarnakaradwipa dia dihadang oleh prabu Gilingwesi. Pertempuranpun tidak dapat dielakkan. Prabu Gilingwesi percaya pada keyakinan dan penglihatannya bahwa musuhnya sudah mati ditusuk pusaka Liwungpitana pusaka milik Swarnakaradwipa. Ia pun merampas punggalan Raksasa dan sang putri diboyong sebagai tanda bukti kemenangannya.

 Baca Juga: Dolanan Gayung Batu Gianyar, Lebih dari Hiburan: Tradisi, Keseimbangan, dan Pesan Luhur

Dihadapan sang Prameswari sang prabu dengan bangga mempersembahkan bukti kesuksesannya. Raden Galuh Diah Ratna Juita membeberkan bahwa pembunuhnya bukan sang prabu. Dia merampas dari seorang pangembara dan bila diperkenankan dialakukan perang tanding secara terbuka yang disaksikan oleh rakyat.

 

Diluar dugaan prabu Gilingwesi muncullah  bukti bahwa dia bukanlah pembunuh raksasa yang sesungguhnya. Tidak terima sang raja dipermalukan perang tandingpun terjadi di Kastila Manik Ratna pusat pemerintahan kerajaan Swarnakaradwipa. Akhirnya sang prabu Gilingwesi Rahaden Warak Worosakara bertekuk lutut dibawah kekuatan Made Umbara yang sesungguhnya adalah Rahaden Anindita Kirtana trah prabu Kenakadwipa.

 

Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi selaku penulis naskah mengatakan banyak pesan yang terkandung dalam kisah ini. Mulai dari pesan tentang kejujuran, tentang cinta dan kedudukan hingga tentang sikap patriotisme atau kepahlawanan.

 Baca Juga: Dolanan Gayung Batu Gianyar, Lebih dari Hiburan: Tradisi, Keseimbangan, dan Pesan Luhur

“Pesan yang disampaikan bahwa berapa kejujuran sangat penting dalam kehidupan. Berawal dari kejujuran maka masa depan bangsa ini akan mencapai kemuliaan. Karena dewasa ini kan sulit sekali mencari mana benar. Semua mengaku benar, semua mengaku jujur. Kita tak tau yang mana sebenarnya yang jujur. Pesaannya semua harus waspada,” ujarnya.

 

Pihaknya mengaku, mempersiapkan pementasan Arja Klasik mulai dari latihan dan perangkat lainnya sejak awal bulan September 2024 lalu. ”Kami latihan sejak awal September. Dar kurang lebih 30 seniman yang terlibat," ujar wanita kelahiran Banjar Kawan Manggis, Karangasem, 28 Maret 1959 ini.

 

Menariknya seniman yang terlibat, khususnya penari juga didominasi dari kalangan anak muda. ”Seniman yang dilibatkan adalah seniman muda. Bahkan ada juga yang baru tamat SD. Ini karena banyak pemula, makanya kami latihan sejak awal September tahun lalu," imbuhnya. (esa/bea)

Editor : Wiwin Meliana
#arja klasik #badung #pkb