WASPADA! Akun WhatsApp Palsu Mengatasnamakan Bupati Jembrana, Kembang Hartawan Minta Uang ke Pengusaha Tambak
I Gde Riantory Warmadewa• Jumat, 27 Juni 2025 | 02:05 WIB
Tangkapan layar no whatsapp ang mengatasnamakan Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan.
BALIEXPRESS.ID – Sebuah modus penipuan baru terungkap di Jembrana, di mana sejumlah akun WhatsApp mengatasnamakan Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, mencoba mengeruk keuntungan dari para pengusaha tambak udang.
Akun-akun palsu ini menggunakan foto Bupati Kembang dan menghubungi korban untuk meminta sejumlah uang.
Bupati Kembang Tegas: Itu Hoaks dan Penipuan!
Bupati Kembang Hartawan sendiri telah mengonfirmasi bahwa nomor-nomor yang beredar, yaitu 081388877954 dan 082114183877, sama sekali bukan miliknya.
Ia menegaskan ini adalah murni penipuan.
"Saya tidak pernah menggunakan nomor tersebut. Saya hanya punya satu nomor, tidak ada nomor kedua. Jadi jelas itu penipuan," ujar Bupati Kembang pada Kamis (26/6).
Ia juga menambahkan bahwa nomor telepon pribadinya tidak pernah diganti sejak tahun 1999. Hal ini diharapkan bisa menjadi penanda bagi masyarakat agar tidak mudah tertipu.
"Saya hanya pernah mengganti nomor satu kali saat tamat kuliah pada tahun 1999. Nomor yang sekarang sudah lebih dari 26 tahun saya pakai. Banyak yang sudah tahu," tuturnya.
Imbauan Waspada dan Kaitannya dengan Sidak Tambak Ilegal
Bupati Kembang mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya pelaku usaha di sektor perikanan dan tambak, untuk sangat waspada terhadap segala bentuk permintaan mencurigakan yang mengatasnamakan pejabat daerah.
Modus ini bisa datang melalui pesan singkat, telepon, atau media sosial.
"Saya mengajak masyarakat waspada terhadap berbagai modus penipuan, terutama yang meminta imbalan," ungkapnya.
Di sisi lain, kebetulan kasus penipuan ini mencuat bersamaan dengan langkah tegas yang diambil oleh Satpol PP Jembrana.
Mereka sedang gencar melakukan sidak perizinan tambak, termasuk melakukan penyegelan tambak seluas 15 hektar di Yeh Buah, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo.
Tambak tersebut diketahui belum mengantongi izin air bawah tanah (ABT) meski memiliki 12 titik sumur bor.
Sidak ini merupakan respons atas keluhan warga yang sumurnya mengering, diduga akibat eksploitasi air tanah oleh belasan sumur bor tersebut.
Apakah ada kaitannya antara penipuan ini dengan maraknya sidak tambak? Yang jelas, di tengah upaya pemerintah daerah menertibkan perizinan, oknum tak bertanggung jawab justru memanfaatkan kesempatan untuk melancarkan aksinya. ***