BALIEXPRESS.ID – Tak hanya sukses menekuni bisnis tanaman hias, Kadek Oka, 35, warga Banjar Bale Agung, Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, juga merambah usaha jual beli koin kuno.
Hobi unik ini ia jalankan sejak dua bulan terakhir dan kini mulai memberi hasil yang menjanjikan.
Kadek mengaku mulai tertarik dengan dunia koin kuno setelah beberapa kali membuat konten di media sosial yang menampilkan koleksi uang bolong.
Selain sebagai bahan konten, ketertarikannya juga dipicu oleh pergaulannya dengan teman-teman yang lebih dulu terjun ke bisnis tersebut.
“Awalnya hanya iseng buat konten soal uang bolong, lalu ada teman yang memang bergerak di jual beli koin kuno, dari sana saya mulai tertarik dan memanfaatkan peluang itu,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Bisnis ini ia mulai pada tahun 2025, tepatnya dua bulan terakhir. Ia berburu koin kuno lewat platform media sosial, baik dengan membeli langsung dari kolektor maupun menerima tawaran dari warganet yang tertarik menjual koleksinya.
Jenis koin yang paling banyak dicari antara lain koin Gulden Belanda, seperti ½ G, ¼ G, 1 G, 2 G, dan 2,5 G, dengan tahun cetakan antara 1931 hingga 1942. Harga koin-koin tersebut bervariasi, mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 300 ribu per keping, tergantung tahun dan ukuran.
Sementara itu, untuk jenis uang bolong, beberapa kategori yang paling dicari di antaranya adalah koin dengan kode Jiankinx, kode IBe, kode Triple, hingga yang paling mahal dengan kode 1E/IE. Koin-koin tersebut memiliki nilai historis dan estetika yang tinggi di mata para kolektor.
“Kalau sudah terkumpul, biasanya ada kolektor atau pengepul yang datang membeli. Sekarang koleksi saya sudah mencapai sekitar 1.000 jenis koin,” tambahnya.
Bermodal jaringan dan promosi via media sosial, Kadek kini mampu menyeimbangkan dua lini usaha sekaligus, yakni tanaman hias dan koin kuno. Baginya, kerja keras, konsistensi, dan memanfaatkan peluang adalah kunci untuk terus bertumbuh dalam dunia usaha. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana