Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kawanan Monyet Serang Subak Laplapan Gianyar, 50 Hektare Lahan Pertanian Jadi Semak Belukar

I Wayan Ananda Mustika Putra • Sabtu, 5 Juli 2025 | 13:45 WIB

 

Ilustrasi monyet menyerang pertanian di Subak Laplapan, Gianyar.
Ilustrasi monyet menyerang pertanian di Subak Laplapan, Gianyar.

BALIEXPRESS.ID- Serangan monyet yang semakin menjadi-jadi membuat petani di Subak Laplapan, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, gigit jari.

Puluhan hektare lahan pertanian, terutama tegalan di sepanjang Sungai Petanu, kini terbengkalai.

Petani memutuskan tak menggarap lahannya. Alasannya adalah petani rugi besar. Mereka terpaksa merelakan hasil panen lenyap sebelum sempat dinikmati.

Kelian Subak Laplapan, Wayan Sadra, mengungkapkan bahwa kawanan monyet ini sudah lama menjadi momok bagi petani.

“Keberadaan monyet ini mungkin sudah ratusan tahun, dan sudah mengganggu hasil pertanian warga,” ujar Sadra pada Jumat (4/7/2025). Ia menambahkan, kini monyet-monyet tersebut tak hanya merusak ladang, tetapi juga mulai memasuki perkampungan warga karena sumber makanan di habitat aslinya semakin menipis.

Dulu, petani Subak Laplapan rutin menanam pisang dan kelapa dengan hasil melimpah. Namun kini, banyak yang menyerah.

“Pohon kelapa saya ada sekitar 50 pohon. Dulu, dua bulan sekali bisa panen sampai 1.000 buah. Sekarang kelapanya belum sempat besar, sudah habis dimakan monyet. Mangkin bungkak ten polih (sekarang kelapa kecil tidak dapat),” keluh Sadra.

Tak hanya itu, padi yang ditanam di sawah dekat sungai juga tak luput dari serangan.

Kawanan monyet sering menginjak-injak tanaman padi hingga rusak.

“Kalau burung masih bisa diusir, tapi kalau monyet ini susah. Kami juga tidak bisa memburu atau melukai karena takut melanggar aturan,” jelas Sadra.

Akibatnya, banyak lahan yang seharusnya produktif di Subak Laplapan kini menjadi lahan tidur.

Sekitar 50 hektare lahan pertanian yang terletak di pinggir Sungai Petanu berubah menjadi semak belukar, mirip hutan kecil.

Ironisnya, para petani tetap dibebani pajak tinggi atas lahan-lahan yang tak menghasilkan apa-apa ini.

“Lahan banyak, tapi jadi lahan tidur. Pajaknya tetap tinggi, sementara hasil tidak ada,” tutup Sadra, menyoroti kerugian yang terus menerus mereka alami. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#serangan monyet #gianyar #Subak Laplapan