Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bajra Geni Tampilkan Topeng Bondres “Damar Sasangka” di PKB 2025, Angkat Isu Kepemimpinan dan Krisis Lingkungan

Putu Resa Kertawedangga • Kamis, 10 Juli 2025 | 22:21 WIB
Sanggar Seni Bajra Geni dari Desa Mengwi, duta Kabupaten Badung saat tampil dalam PKB ke-47, Rabu (9/7).
Sanggar Seni Bajra Geni dari Desa Mengwi, duta Kabupaten Badung saat tampil dalam PKB ke-47, Rabu (9/7).

BALIEXPRESS.ID – Sanggar Seni Bajra Geni dari Desa Mengwi, Kabupaten Badung, tampil memukau di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 dengan membawakan Topeng Bondres bertajuk Damar Sasangka.

Pertunjukan yang digelar di Panggung Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali pada Rabu (9/7) ini berhasil mencuri perhatian penonton dengan pesan mendalam tentang kepemimpinan, spiritualitas, dan pelestarian lingkungan.

Mewakili Kabupaten Badung sebagai duta seni Topeng Bondres, Sanggar Bajra Geni membalut cerita tradisional dengan pendekatan kontemporer yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali.

Lakon Damar Sasangka terinspirasi dari tokoh Ida Cokorda Nyoman Mayun, Raja Kawya Pura, yang dihadapkan pada krisis air dan konflik di Subak Batan Tanjung.

Alih-alih mengambil jalan kekuasaan, sang raja memilih bertapa di Pucak Pengelengan, mencari solusi melalui perenungan spiritual.

Jawabannya datang dalam bentuk upacara sakral Aci Tulak Tunggul di Dam Pura Taman Ayun, sebagai simbol harmonisasi manusia, alam, dan spiritualitas Bali.

“Pemimpin ideal adalah pelita di tengah kegelapan, bukan pencari pembenaran,” ujar Anak Agung Bagus Sudarma, Pembina Tari Sanggar Bajra Geni.

Narasi ini bersumber dari Babad Mengwi, menegaskan pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi tantangan modern, termasuk kelestarian pertanian dan kesejahteraan masyarakat Subak.

Pementasan dibuka dengan tabuh pembuka, dilanjutkan dengan rangkaian Topeng tradisional Bali: Topeng Keras (simbol kekuatan), Topeng Tua (kearifan), dan Topeng Bondres Monyer Manis (kelucuan sosial yang menyindir realita kehidupan).

Pertunjukan ini merupakan hasil latihan intensif sejak Maret 2025, melibatkan 50 seniman muda, baik penari maupun penabuh.

“Hari ini adalah puncak ekspresi dan persembahan kami untuk Bali,” ungkap Bagus Sudarma, seraya menyampaikan apresiasi atas konsistensi PKB dalam menjadi wadah pelestarian budaya.

I Wayan Griya, Pembina Tabuh, menekankan bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi sarana edukasi karakter dan penguatan identitas budaya bagi generasi muda. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan seniman lokal.

“Dukungan dari Kabupaten Badung menunjukkan komitmen nyata dalam membina kesenian dari akar rumput,” ujarnya.

Pagelaran Damar Sasangka bukan hanya pertunjukan visual. Ia menjadi panggung kontemplatif yang mengajak penonton merenungi arti kepemimpinan yang bijak, pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan, dan bagaimana warisan budaya Bali tetap relevan dalam tantangan zaman.

Sanggar Bajra Geni menegaskan bahwa seni tradisional Bali tetap hidup dan berdampak, bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai wahana transformasi sosial dan spiritual. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#bondres #krisis lingkungan #mengwi #Duta Badung #pkb