BALIEXPRESS.ID – Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Provinsi Bali, I Ketut Anom Putra Darsana mengungkapkan kondisi logistik di Bali mengalami tekanan berat setelah amblesnya jalan nasional di Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan.
Peristiwa yang terjadi sejak awal Juli 2025 ini menyebabkan arus kendaraan logistik terganggu dan berimbas pada pembengkakan biaya operasional hingga denda demurrage.
“Kemarin kita mengadakan Zoom meeting dengan DPP, kemudian ada DPD Jawa Timur, DPD Bali saya sendiri yang mewakili, sama teman-teman juga ada pengusaha truck, ada juga dari DPP. Dari pembahasan dalam Zoom meeting itu memang dari pengusaha aturan itu banyak terjadi cancel, banyak terjadi tidak bisa lewat. Jadi mungkin itu (ratusan miliar) kalkulasinya secara global mungkin ya, disampaikan di sana karena ini terkait juga dengan demoret apa yang tidak bisa berjalan, ekspor-impor yang jadi kalau secara detail artinya kalkulasi itu belum kita lakukan secara detail, baru istilahnya kalkulasi global, tafsiran saja,” ungkap Anom saat diwawancarai, Jumat (11/7).
Baca Juga: Nonton Bola Makin Seru! Ini 5 Perbedaan Menonton di TV Biasa vs TV Polytron
Anom menjelaskan, sesuai hasil rapat dengan Dinas Perhubungan Bali, kendaraan berat kini dialihkan melalui dua jalur alternatif, yakni Singaraja via Bedugul dan Karangasem.
Namun, jalur Bedugul tak disarankan untuk truk dengan sumbu tiga ke atas karena risikonya tinggi.
Truk besar diminta berhenti di kantong-kantong parkir dan memindahkan muatan ke truk kecil.
Baca Juga: Pemkab Badung Bakal Kembangkan Investasi, Adi Arnawa Berencana Bangun Kawasan Wisata Nusa Penida
“Sesuai arahan dari Bapak Kadishub, kemarin sudah ada rapat dan hasil rapat juga sudah di-share ke kita semua, memang ada dialihkan ada yang ke Singaraja, ada yang ke Karangasem. Tapi untuk belakangan kita malah tidak disarankan untuk sumbu tiga ke atas, disarankan untuk berhenti dan masuk kantong-kantong parkir. Kemudian ada yang memang urgent ya memang harus dilansir, dalam artian dipindahkan ke truck-truck kecil untuk dibawa ke Denpasar atau ke kota-kota lain di daerah Tabanan, Gianyar dan lain sebagainya,” jelasnya.
Menurutnya, jalur memutar ini membuat beban operasional meningkat tajam.
Truk kontainer yang harus tetap menyala saat berhenti, penggunaan truk kecil untuk pengalihan muatan, hingga jarak tempuh yang melonjak hingga 260 kilometer menjadi beban tersendiri.
Baca Juga: Ahmad Dhani Bongkar Aib Mantan Istri di Podcast, Warganet Justru Bela Maia Estianty
“Kalau dari BBM untuk truk tertentu yang river container kan dia harus hidup ya, itu juga perlu biaya tinggi. Kemudian kalau untuk yang berjalan seperti yang saya jelaskan tadi ada ngelansir, otomatis biayanya itu jadi double. Truck besar dipindah ke truk kecil-kecil setelah itu diangkut ulang lagi ke sentra-sentranya, otomatis itu juga menimbulkan biaya logistik yang tinggi, nambah biaya lagi,” katanya.
“Kemudian untuk yang kecil-kecil ini, yang biasanya truk 6 roda ataupun truk CDD long, orang bilang yang 5 ton ke atas itu kan diarahkan melalui Singaraja, Bedugul, itu kan kondisinya agak curam, dengan lewat sana pun kita nambah 145 km. Untuk truk besar, tronton, zumbo 3 itu harus lewat ke Karangasem, nah dengan lewat Karangasem itu sekitar 260-an km lagi nambah dari rute awal, jadi pembengkakan biaya juga, jadi itu yang harus ditanggung oleh pengusaha truk,” imbuhnya.
Aptrindo Bali belum membuat laporan kerugian secara resmi, namun memperkirakan potensi kerugian bisa mencapai ratusan miliar rupiah, berdasarkan taksiran global yang beredar di media sosial.
“Kalau ke kita secara signifikan, hitung-hitungan seperti yang tadi saya bilang itu secara tertulis sih belum ada. Karena jujur kita juga akan tahu ini force major ya. Jadi force major ini yang kita harapkan memang gerak cepat dari PU ataupun dinas yang menangani. Yang sudah kita lihat memang sudah kita apresiasi juga sangat cepat dalam hal ini. Mungkin walaupun dalam estimasinya dianggap 1 bulan, mungkin bisa lebih cepat dari itu,” katanya.
Anom menuturkan bahwa komunikasi terus dijalin dengan Dinas Perhubungan Provinsi Bali, termasuk dengan Bidang Angkutan Jalan.
Ia menyebut kondisi darurat ini dipahami sebagai bencana alam sehingga Aptrindo memilih mendukung langkah pemerintah dalam penanganan situasi.
“Saat ini kita proaktif komunikasi juga dengan Dishub Provinsi Bali, kita komunikasi kemarin dengan bidang Angkutan Jalan, Pak Nyoman, Pak Kabid Pak Sunarya. Kita juga komunikasi, jadi hal begini seperti yang saya bilang tadi, kita tahu juga artinya kondisi ini disebabkan oleh force major, ya bencana alam. Jadi kita melakukan komunikasi dan kita saling support lah. Kita sampaikan juga ke anggota bahwa kondisinya memang seperti ini, apalagi untuk teman-teman yang di luar Bali, kita sudah sampaikan informasinya, di-update informasinya agar teman-teman juga paham dengan kondisi ini,” ujarnya.
Baca Juga: Aksi Wanita Curi Barang di Circle K Gunung Sanghyang Terekam CCTV, Kerugian Hampir Rp 200 Ribu
Aptrindo juga telah mengusulkan kepada pemerintah untuk membuka jalur penyeberangan alternatif, seperti Banyuwangi–Padangbai atau Banyuwangi–Benoa, guna mengurangi ketergantungan pada jalur darat yang kini terganggu.
“Kemarin memang ada masukan dari teman-teman juga yang di Jatim, kenapa nggak buka line penyeberangan dari Banyuwangi ke Padangbai, Banyuwangi ke Benoa. Kita sudah sampaikan juga masukan itu ke Dinas Perhubungan, cuman dari Dinas Perhubungan kan tidak segampang itu juga. Kajian-kajiannya itu untuk dermaga-dermaga itu bagaimana. Kita kan nggak bisa juga artinya seketika untuk membuat jalur itu. Jadi kita sudah sampaikan saja masukan-masukan itu, sekarang tinggal dari regulator ataupun dinas-dinas yang handle itu yang akan menganalisa seperti apa,” jelasnya.
Sebagai penutup, Anom berharap perbaikan bisa selesai lebih cepat dari estimasi satu bulan dan pemerintah bisa mempertimbangkan sistem buka-tutup jalur agar truk besar yang kini tertahan di Bali bisa segera keluar.
“Harapan kami dari Aptrindo, semoga ini bisa seperti yang tadi ya, estimasi satu bulan itu semoga nggak molor, bisa dipercepat. Dengan kondisi itu, ekonomi bisa, lalu lintas logistik juga bisa lancar lagi. Kita berharap semoga nggak ada halangan dari cuaca juga. Semoga teman-teman di Satker PU Jalan Nasional ini bisa bekerja dengan maksimal. Karena kemarin kita lihat kan sudah juga 24 jam unit sudah mulai dipasang, kita monitor terus juga, teman-teman juga di lapangan ikut juga melihat. Jadi karena seperti yang tadi, ini force major, kita nggak bisa juga terlalu protes. Semoga harapannya kita bisa cepat saja selesai perbaikannya itu dan diprioritaskan mungkin untuk bisa buka tutup, satu jalur dulu terutama untuk truk-truk yang panjang yang sudah terkunci, terjebak di Bali bisa keluar dulu,” pungkasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti