BALIEXPRESS.ID— Jalan amblas di depan Pasar Bajera, Kabupaten Tabanan, Bali, yang tengah diperbaiki, berdampak besar pada kelancaran arus transportasi di jalur utama Denpasar–Gilimanuk.
Meski kerusakan jalan tidak tergolong parah, dampaknya terasa luas, khususnya bagi pengusaha truk yang kini menanggung lonjakan biaya operasional.
Baca Juga: Perbaiki Tandon Air Berujung Tewas Tersetrum, Korban Sempat Tolak Matikan Listrik
Penutupan jalan bagi kendaraan berat, terutama truk bermuatan besar (sumbu tiga ke atas), menyebabkan kemacetan dan pengalihan arus ke jalur alternatif yang lebih jauh dan ekstrem.
Hal ini dikeluhkan oleh Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Bali, I Ketut Anom Putra Darsana, dalam keterangannya kemarin (11/7).
“Pengusaha truk sekarang harus menanggung biaya operasional yang membengkak, termasuk risiko denda demurrage akibat keterlambatan pengiriman. Bahkan beberapa pengusaha mengalami pembatalan order karena akses terputus,” ungkap Anom.
Baca Juga: Derita Kanker Ganas, Remaja Buleleng Tak Punya Biaya Berobat, Warga Bali Galang Donasi
Dalam rapat daring bersama pengurus pusat Aptrindo dan DPD Jawa Timur, Anom menyebut potensi kerugian yang dialami pengusaha truk bisa mencapai ratusan miliar rupiah secara global, meskipun saat ini masih sebatas perkiraan awal.
Dari hasil rapat dengan Dinas Perhubungan Provinsi Bali, kendaraan berat dialihkan melalui dua jalur alternatif yakni via Singaraja–Bedugul dan Karangasem. Namun, rute Bedugul dinilai tidak layak dilalui oleh truk sumbu tiga karena kondisi jalan yang tidak mendukung.
“Yang sumbu tiga bahkan disarankan berhenti dan masuk ke kantong-kantong parkir. Jika benar-benar mendesak, maka barang harus dilansir, dipindahkan ke truk kecil agar bisa melewati jalur,” jelas Anom.
Baca Juga: Pria Misterius Keluarkan Celurit, Mahasiswi Panik lalu Kecelakaan di Jalan Rawan Kriminalitas
Praktik “lansir” ini menyebabkan biaya logistik meningkat dua kali lipat. Selain biaya bahan bakar, pengusaha juga harus membayar ongkos pemindahan barang serta operasional tambahan dari truk kecil.
Anom juga menyoroti kondisi jalan alternatif via Singaraja yang curam dan ekstrem, dengan tambahan jarak hingga 145 km. Sementara untuk truk besar dan tronton yang harus memutar lewat Karangasem, jarak tempuh bertambah sekitar 260 km, meningkatkan beban logistik secara signifikan.
Meski belum ada laporan kerugian resmi yang dibuat oleh DPD Aptrindo Bali, estimasi awal menyebutkan angka kerugian industri bisa mencapai ratusan miliar rupiah. “Itu masih kalkulasi global, hanya tafsiran awal. Kami akui ini force majeure, tapi dampaknya nyata,” ujar Anom.
Baca Juga: TRAGIS! Niat Jual Feroza, Wayan Garsana Tewas Dihantam Truk Semen, Warga Bali Galang Donasi
Aptrindo berharap adanya solusi jangka pendek dari pemerintah daerah untuk mempercepat perbaikan jalan dan memberikan kompensasi logistik atau insentif tertentu kepada pengusaha yang terdampak.
Editor : Wiwin Meliana