BALIEXPRESS.ID – Kain ulos Batak, simbol kasih sayang, kekuatan, dan kehormatan, menghiasi bahu para seniman asal Toba, Sumatera Utara, saat mereka hadir dalam pembukaan pameran seni di Santrian Art Gallery, Sanur, Jumat (11/7) petang.
Kegiatan bertajuk “Weaving the Colours of the Archipelago” Pertiwi Negeriku, Toba Bali Art Project 2025 ini menjadi wadah bagi para seniman Toba dan Bali mengekspresikan karya-karya mereka dalam nuansa kolaboratif.
Pameran dibuka secara resmi oleh Senior Vice President Bernard Tampubolon.
Baca Juga: Kisah I Wayan Kariasa, dari Ngirisin Tuak hingga Kelola Resort dan Restoran di Karangasem
Sebanyak 30 karya seni, mulai dari lukisan hingga ukiran khas Toba, akan menghiasi ruang galeri dari 11 Juli hingga 30 Agustus 2025.
Pameran ini diharapkan bisa menjadi pijakan para seniman Toba untuk mengikuti jejak Bali yang telah berhasil mendunia lewat kekuatan seni dan budaya, serta memberikan kontribusi nyata pada sektor pariwisata.
Pemilik Hotel Griya Santrian Sanur, Ida Bagus Gde Sidharta Putra atau akrab disapa Gusde, menyampaikan bahwa Santrian Art Gallery memang diperuntukkan sebagai ruang berekspresi, baik bagi seniman pemula maupun maestro.
“Pariwisata Bali berawal dari Sanur melalui seni rupa,” ungkapnya.
Gusde menuturkan, awal mula perkembangan pariwisata Bali terjadi di sekitar tahun 1930 ketika sejumlah pelukis asal Eropa menetap di Bali.
Namun, jauh sebelumnya, pada tahun 1902, Bali sebenarnya sudah dikenal dunia.
Ia berharap, kolaborasi seni antara Bali dan Toba dapat menjadi pemicu tumbuhnya pariwisata di kawasan Danau Toba.
“Pariwisata yang dijalankan dengan baik maka akan menimbulkan multiplier effect. Mulai dari atraksi budaya, pertanian, hingga usaha kecil menengah. Pariwisata mampu memberikan kemakmuran,” tandasnya.
Kurator pameran, Wayan Seriyoga Parta, mengungkapkan bahwa karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil seleksi ketat dari berbagai karya yang masuk.
Baca Juga: TRAGIS! Niat Jual Feroza, Wayan Garsana Tewas Dihantam Truk Semen, Warga Bali Galang Donasi
“Ada banyak karya, namun kami simpan sebagian, dan sebagian kecil kami pamerkan di sini,” tuturnya.
Ia menambahkan, karya-karya ini merupakan representasi dari budaya Bali dan Toba, dengan ragam medium seperti lukisan, ukiran, fotografi, hingga visualisasi keindahan Danau Toba.
“Karya yang dipamerkan tidak hanya seni lukis saja, namun juga ada ukiran, fotografi, dan juga keindahan Danau Toba,” sebutnya.
Selama berada di Bali, para seniman dari Toba juga dijadwalkan mengunjungi berbagai institusi seni.
Fotografer Charis Martin Purba menyebutkan, terdapat sembilan seniman Toba yang ikut serta dalam lawatan ini.
“Kami akan ke museum, sekolah seni, ISI Bali, dan kami akan diskusi langsung,” ungkapnya.
Baca Juga: Influencer Motor Dianiaya di Area Pemakaman, Polisi Sebut Masalah Sepele yang Dibesar-besarkan
Ia berharap pengalaman berpameran di Bali dapat menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan seniman Toba, yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan.
“Di Toba sendiri dukungan pemerintah terhadap seni belum maksimal, kendatipun galeri sudah ada. Sepulang dari Bali, kami juga berencana akan menggelar pameran,” tandasnya.
Senada dengan itu, Ni Ketut Ayu Sri Wardani atau yang akrab disapa Mbok Ayu, mengungkapkan bahwa seni di Toba kerap dianggap sebelah mata karena dipandang tidak menjanjikan masa depan.
Tantangan lainnya, lanjut dia, adalah kesulitan mendapatkan material berkesenian seperti kanvas.
“Padahal bakat mereka sangat tinggi. Banyak seniman Batak di Indonesia, namun mereka tidak tinggal di Toba,” imbuhnya.
Dalam pameran kali ini, Mbok Ayu menampilkan dua lukisan berukuran 110 cm x 100 cm.
Baca Juga: Pemkab Badung Bakal Kembangkan Investasi, Adi Arnawa Berencana Bangun Kawasan Wisata Nusa Penida
Salah satunya berjudul “Beli Lapet di Onan Balige”, yang menggambarkan keseharian masyarakat Toba di pasar.
“Karya ini menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Toba saat membeli Lapet di pasar,” tuturnya.(***)
Editor : Rika Riyanti