BALIEXPRESS.ID – Sejarah panjang dan sakral Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, menggema penuh makna dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025.
Lewat penampilan memukau Sekaa Gong Kebyar Dewasa (GKD) Wira Agra Kusuma sebagai duta seni Kabupaten Badung, ribuan pasang mata terpukau di panggung terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Sabtu (11/7).
Bersanding di panggung yang sama dengan duta dari Kabupaten Buleleng, penampilan 32 seniman muda Desa Blahkiuh berhasil menyedot perhatian publik, terutama dengan tema utama yang mengangkat Sejarah Desa Blahkiuh.
Konseptor pertunjukan, I Gusti Made Darma Putra, menjelaskan bahwa Sekaa Gong Wira Agra Kusuma menampilkan tiga karya utama:
- Tabuh Nem Lelambatan Periring Kreasi Giri Kusuma
- Tari Kreasi Kekebyaran "Kakundur"
- Fragmentari "Sabda Prawara"
Ketiganya sarat nilai historis dan spiritual, menggambarkan warisan budaya serta nilai-nilai luhur Desa Blahkiuh.
- Tabuh Giri Kusuma: Doa Syukur dan Spirit Lokal Religius
Garapan pembuka, Tabuh Nem Lelambatan Periring Kreasi Giri Kusuma, merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Melalui irama dan pola ritmis yang khas, karya ini menggambarkan harapan, keharmonisan, dan kemudahan yang telah dicapai oleh masyarakat Blahkiuh.
“Giri Kusuma menjadi simbol spiritual desa, refleksi dari euforia atas pencapaian yang dituangkan dalam komposisi melodius penuh makna,” ujar Darma Putra.
- Tari Kreasi "Kakundur": Energi Leluhur dalam Irama Cak
Garapan kedua, Tari Kreasi Kekebyaran Kakundur, merupakan interpretasi dari energi spiritual yang bersumber dari Hyang Ratu Panji di Pura Luhur Giri Kusuma. Karya ini lahir dari semangat leluhur yang membentuk karakter budaya Blahkiuh.
Dengan hentakan irama cak khas Desa Blahkiuh, tarian ini menjadi representasi kekuatan tradisi yang terus hidup. Setiap gerakan menjadi simbol semesta yang menari, mengangkat derajat Blahkiuh sebagai benteng spiritual yang tak lekang waktu.
Baca Juga: Wayan Suparta, Terpilih Menjadi Ketua MGPSSR Karangasem
“Kakundur bukan hanya tari, tetapi pusaka gerak yang beresonansi dengan nadi semesta,” tambah Darma Putra.
- Fragmentari "Sabda Prawara": Tragedi Kekuasaan dan Spirit Dharma
Penampilan pamungkas, fragmentari "Sabda Prawara", menyuguhkan kisah penuh makna tentang konflik batin dan ambisi kekuasaan. Cerita ini menggambarkan bagaimana cinta, kekuasaan, dan politik saling berbenturan.
“Sabda Prawara bukan hanya drama panggung, tetapi cermin jiwa yang diuji di persimpangan takdir. Saat pusaka sakral terangkat dan mantra menggema, medan laga berubah menjadi altar pengorbanan,” ungkap Darma Putra penuh makna.
Dalam penampilan istimewa ini, Sekaa Gong Wira Agra Kusuma melibatkan 32 orang seniman muda, terdiri atas penabuh dan penari.
Keterlibatan mereka menjadi bukti bahwa warisan budaya Desa Blahkiuh terus diteruskan dan dilestarikan melalui generasi muda. (*)
Editor : Nyoman Suarna