Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jadi Perhatian Wisatawan, Upacara Tumpek Kandang di Pura Uluwatu Dimeriahkan 100 Penari Pendet

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 14 Juli 2025 | 00:02 WIB

 

MENARI: Seratus anak-anak dari Pasraman Desa Adat Pecatu saat menari Pendet dalam rangkaian upacara tumpek kandang di Pura Luhur Uluwatu, Sabtu (12/7).
MENARI: Seratus anak-anak dari Pasraman Desa Adat Pecatu saat menari Pendet dalam rangkaian upacara tumpek kandang di Pura Luhur Uluwatu, Sabtu (12/7).

BALIEXPRESS.ID - Pelaksanaan upacara untuk memperingati hari Tumpek Kandang di Data Tarik Wisata (DTW) Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu, Sabtu (12/7) dikemas berbeda.

Pelaksanaan upacara setiap enam bulan sekali ini biasanya hanya memberikan persembahan gebogan buah kepada kawanan monyet.

Namun kai ini ada 100 penari Pendet yang merupakan anak-anak dari Pasraman Desa Adat Pecatu.

Baca Juga: 529 Atlet Klungkung Jalani Tes Fisik Jelang Porprov Bali 2025

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta mengatakan, Tumpek Kandang kali ini dikemas lebih meriah, dengan menghadirkan pementasan tari kolosal anak-anak pasraman dan seka tabuh dari desa setempat.

Penampilan ini bahkan mendapat sambutan meriah dari wisatawan yang berkunjung.

“Penampilan ratusan penari ini tentu menambah semarak upacara Tumpek Kandang yang memang rutin digelar setiap enam bulan sekali,” ujar Sumerta.

Baca Juga: CCTV Rekam Aksi Pencurian Motor di Perbatasan Tohpati-Bungbungan, Honda Scoopy Raib

Pihaknya menyebutkan, pelaksanaan upacara sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada satwa, khususnya monyet yang menjadi penjaga alami kawasan tersebut.

Namun kali ini, pihaknya berinovasi agar pelaksanaan upacara tidak terkesan monoton.

Ia juga menyatakan, ada lebih dari 330 anak terdaftar di Pasraman Desa Adat Pecatu, mulai dari kelas 3 hingga kelas 6 SD.

Baca Juga: Hendak Pamit Kerja, Suami Pergoki Istri di Atas Kasur dengan Oknum Kadus: Begini Reaksi Suaminya

Dari jumlah tersebut, dipilih 100 penari untuk tampil membawakan Tari Pendet.

Meski persiapan terbilang singkat, semangat anak-anak dan dukungan orang tua disebut membuat penampilan lebih meriah.

“Kami sadar belum sempurna. Namun ke depan kami akan terus berinovasi agar bisa melibatkan lebih banyak generasi muda dan menambah daya tarik wisata di Uluwatu,” ungkapnya.

Sementara, Manajer Pengelola DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu, I Wayan Wijana menyatakan, upacara Tumpek Kandang menjadi salah satu bentuk pelaksanaan konsep Tri Hita Karana.

Upacara ini juga disebutkan sebagai wujud rasa syukur kepada satwa, khususnya monyet yang menjadi ikon di DTW Uluwatu.

Selain itu juga menjadi daya tarik, selain Kecak, sunset, pura, dan panorama alam.

“Ini adalah bagian dari Tri Hita Karana, di mana kami sebagai manusia harus taat dan berbakti kepada Ida Betara, menjaga hubungan dengan sesama, dan mencintai lingkungan,” ungkap Wijana.

Dalam kesempatan tersebut, diakui bahwa ada gebogan buah yang dipersembahkan kepada ratusan monyet.

Selain persembahan tersebut, kawanan monyet yang kini berjumlah 650 ekor juga diberi makan sebanyak tiga kali sehari.

“Kami juga punya satu monyet putih yang menjadi ikon Uluwatu. Dia kami rawat khusus karena warnanya langka, supaya wisatawan bisa melihatnya. Kami bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Unud, dan sudah memiliki sertifikat bebas rabies. Anjing liar di sini juga sudah divaksin bersama Dinas Peternakan Kabupaten Badung,” jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#tumpek kandang #Uluwatu #gebogan #PENDET #Pecatu