Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Duta Kabupaten Badung Ngelawang di PKB ke-47, Angkat Cerita Nangiang Warih

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 14 Juli 2025 | 00:56 WIB
NGELAWANG: Penampilan Sanggar Seni Tindak Alit dari Banjar Sengguan, Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi yang membawakan parade ngelawang di area Art Centre, Denpasar, Sabtu (12/7).
NGELAWANG: Penampilan Sanggar Seni Tindak Alit dari Banjar Sengguan, Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi yang membawakan parade ngelawang di area Art Centre, Denpasar, Sabtu (12/7).

BALIEXPRESS.ID -  Sanggar Seni Tindak Alit dari Banjar Sengguan, Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, tampil apik dalam gelaran Parade Ngelawang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 pada Sabtu (12/7/2025).

Duta Kabupaten Badung ini membawakan pertunjukan bertajuk Nangiang Warih. Tema ini diangkat sebagai wujud penghormatan terhadap warisan leluhur dan kebangkitan kembali sekaa barong yang sempat vakum selama lebih dari 40 tahun.

Parade ngelawang berjalan dari pelataran Kalangan Ayodya menuju pelataran Gedung Kriya, Taman Budaya Art Center. Dalam pertunjukan tersebut, Sanggar Seni Tindak Alit menggandeng Yowana Sempidi yang diwakili oleh pemuda dari 10 banjar. Sebanyak 100 orang terlibat, diantaranya terdiri dari 8 anak-anak penari barong, 20 penari, 26 penabuh, serta pembawa uparengga dan papan nama.

Koordinator sekaligus Pemilik Sanggar, I Putu Candra Pradhita mengatakan, inspirasi Nangiang Warih berasal dari dokumentasi pertunjukan barong era tahun 60-an. Namun sejak banyaknya anggota sekaa yang meninggal, kesenian ini vakum selama puluhan tahun dan baru kembali dihidupkan di PKB 2025.

“Tema yang kami angkat adalah sejarah lahirnya kembali sekaa barong yang 40 tahun pakum. Momen ini menjadi kebangkitan sekaa yang dulu pernah menghibur masyarakat kala itu. Kami bahkan menghadirkan sejumlah topeng yang dulunya digunakan sebagai ngelawang,” ujar Candra Pradhita.

Pihaknya menyebutkan, ada belasan topeng tua berusia lebih dari 50 tahun yang ditampilkan kembali. Pertunjukan ini juga dikemas dengan alur cerita mengharukan, bermula dadi seorang anak kecil yang bercita-cita menari barong. Tiba-tiba didatangi sosok kakeknya, seorang penari lawas, yang kemudian menyampaikan nilai-nilai leluhur. Cerita ini membentuk hubungan antar generasi dan menegaskan bahwa apa yang diwariskan para leluhur harus terus dijaga oleh generasi muda.

Kemudian keterlibatan pemuda dari 10 banjar juga menjadi momen penting untuk mempererat interaksi dan rasa kebersamaan antar desa adat. “Teman-teman yowana menyambut baik, mereka akan berinteraksi sehingga mengakrabkan pemuda dari 10 banjar ini,” paparnya.

Penampilan seni lawas dalam ngelawang ini disebutkan mampu menyentuh emosi penonton. Banyak yang larut dalam nostalgia, bahkan meneteskan air mata. “Memang sangat sulit menghidupkan kembali. Jujur, rekaman tidak ada, namun beberapa pelaku lama masih hidup. Ini menjadi ajang nostalgia,” tambahnya.

Lebih lanjut dirinya pun mengajak masyarakat untuk menjadikan PKB sebagai wadah kebanggaan dalam melestarikan seni budaya. “Ayo jadikan ajang ini sebagai kebanggaan dalam melestarikan budaya. Goal-nya memang di sini,” pungkasnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#parade #sanggar seni #badung #ngelawang #pkb