BALIEXPRESS.ID – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menanggapi temuan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 yang mencatat mayoritas pekerja di Bali masih berada dalam sektor informal, terutama mereka yang berpendidikan SMP ke bawah.
Giri menegaskan bahwa Pemprov Bali tidak tinggal diam dan akan membahas persoalan tersebut bersama tim teknis dan kelompok ahli.
“Jadi itu sudah masuk kepada data sekarang. Nah, nanti kita akan laporkan tim koordinasi bersama dengan tim teknis kita di pemerintah, begitu juga dengan kelompok ahli,” ujar Giri saat diwawancarai di Kantor Gubernur Bali, Selasa (15/7).
Baca Juga: Proyek MRT Bali ‘Menggantung’, Wagub Giri Prasta Pastikan Tetap Jalan
Data Sakernas tersebut menunjukkan adanya tantangan serius dalam struktur ketenagakerjaan di Bali, di mana sektor informal masih mendominasi, menandakan kerentanan terhadap jaminan sosial, perlindungan tenaga kerja, dan kestabilan pendapatan.
Menanggapi hal itu, Giri menyebut bahwa penyusunan kebijakan berbasis data akan terus diperkuat, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Gubernur Bali.
“Bagaimanakan keputusan ini? Pada saat kami menyampaikan program ini, kami harus menyampaikan dulu sama Pak Gubernur. Nanti beliau akan menyampaikan jumpa pers tentang hal itu,” lanjutnya.
Baca Juga: Jelang Kongres di Solo: PSI Siap Ganti Logo, Bocorkan Tiga Nama Calon Ketua Umum
Meskipun belum merinci program atau kebijakan teknis yang akan dilakukan, Giri menyampaikan optimisme bahwa pemerintah akan menemukan solusi yang tepat untuk persoalan ini.
“Saya yakin dan percaya semua masalah tidak bisa kita selesaikan sendiri, tapi semua masalah ada solusinya,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat tingkat pengangguran tertinggi per Februari 2025 berasal dari lulusan diploma ke atas, yakni 2,91 persen.
Sementara itu, pengangguran terendah berasal dari lulusan SMP ke bawah sebesar 0,61 persen.
Jika dibandingkan Agustus 2024, terjadi penurunan pengangguran pada lulusan SMP ke bawah dan SMA, namun justru meningkat pada lulusan diploma dan sarjana.
Hal ini menunjukkan lulusan perguruan tinggi menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran di Bali.
Baca Juga: Babak Baru Dugaan Perselingkuhan Oknum Staf DPRD Buleleng, GA Laporkan Penyebar Video
Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menyatakan bahwa pemerintah telah merespons melalui pelatihan vokasi dan fasilitasi bursa kerja daring dan luring.
Job fair offline direncanakan pada Agustus, sementara job fair online difasilitasi melalui platform Siapkerja dan media sosial Dinas Tenaga Kerja.
"Sudah terdata lebih dari 2.000 lapangan kerja dari 33 badan usaha," ujarnya.
Baca Juga: Dandim 1610/Klungkung Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kantor Pertanahan Klungkung
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi solusi awal untuk menekan angka pengangguran di Bali.(***)
Editor : Rika Riyanti