BALIEXPRESS.ID – Tawa renyah penonton itu tak pernah berubah. Sejak puluhan tahun lalu, hingga kini, nama Ni Wayan Suratni tetap menjadi pemantik gelak yang ampuh di panggung drama gong Bali.
Meski zaman sudah berubah dan layar gawai mulai menggantikan panggung, Suratni tetap punya tempat istimewa di hati penontonnya.
Perempuan kelahiran 6 Januari 1972 ini dikenal lewat karakternya yang khas, bawel, kocak, enerjik, dan tentu saja menggelitik.
Ia selalu memerankan tokoh dengan karakter jenaka yang sering menjadi bumbu penyegar dalam setiap pertunjukan drama gong.
Dan seperti sudah menjadi jodoh panggung, setiap kemunculannya tak pernah gagal mengundang tawa.
“Kalau sudah Suratni yang muncul, pasti lucu. Sudah ditunggu-tunggu. Saya suka perannya jadi Luh Mongkeg,” kata Made Sumartini, salah satu penggemarnya.
Baca Juga: Truk Pengangkut Semen Terguling di Tulamben, Jalur Amlapura-Singaraja Macet: Diduga Ini Penyebabnya
Suratni memang bukan sembarang seniman. Ia adalah pekerja seni sejati yang mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk dunia seni peran Bali.
Dari kota ke kota, dari satu banjar ke banjar lainnya, ia menghibur penonton tanpa lelah. Bahkan, dalam kondisi hamil besar pun, Suratni tetap naik panggung.
“Tujuh hari sebelum melahirkan saya masih pentas,” ucapnya mengenang, sambil tertawa kecil.
Itulah Suratni. Totalitasnya dalam berkesenian bukan sekadar jargon. Ia benar-benar menjalaninya dengan cinta dan ketulusan.
Tak heran, meskipun sempat vakum cukup lama, karakternya tetap hidup di ingatan publik. Saat ia kembali tampil, tawa itu muncul lagi—seolah tak pernah pergi.
Wajahnya yang ceria dan lontaran banyolannya yang segar membuat drama gong terasa lebih hidup.
Suratni tak hanya menjual lelucon, tapi juga membangun koneksi emosional dengan penonton.
Ia bisa membuat tawa menyatu dengan cerita, menghadirkan kegembiraan yang menyegarkan.
Kini, di usia 53 tahun, Suratni masih tampil prima. Energinya seolah tak pernah berkurang. Di balik layar, ia tetap perempuan sederhana yang ramah dan bersahaja.
Tapi begitu berada di atas panggung, ia berubah menjadi magnet tawa. Tak ada yang bisa menyaingi gayanya yang khas itu.
Bagi dunia seni pertunjukan Bali, Suratni bukan sekadar seniman. Ia adalah ikon, pelipur lara, dan pengingat bahwa tawa adalah obat mujarab di tengah peliknya hidup. Bahwa seni yang tulus akan selalu menemukan jalannya kembali ke hati penonton. (*)
Editor : Nyoman Suarna