Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Semburan Belerang Sebabkan Kematian Massal Ikan Danau Batur, 10 Ton Dibawa ke Pengotan

I Made Mertawan • Kamis, 17 Juli 2025 | 00:31 WIB
Semburan belerang di Danau Batur mengakibatkan kematian ikan secara massal.
Semburan belerang di Danau Batur mengakibatkan kematian ikan secara massal.

BALIEXPRESS.ID– Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, kembali mengalami fenomena semburan belerang yang menyebabkan kematian massal ikan.

Peristiwa ini berlangsung sejak beberapa hari lalu dan memicu keresahan pembudidaya di sekitar kawasan Danau Batur.

Hingga Rabu (16/7/2025), petugas berhasil mengangkat sekitar 10 ton bangkai ikan dari perairan Danau Batur.

Pembersihan bangkai ikan difokuskan di wilayah Desa Terunyan, yang menjadi area terparah terdampak semburan.

Tim gabungan dari berbagai instansi seperti TNI, Polri, dinas terkait di Pemkab Bangli, Dinas Kehutanan Provinsi, hingga BWS Bali Penida turut dilibatkan.

Evakuasi dilakukan secara bertahap karena masih banyak bangkai ikan yang belum mengapung ke tepi danau.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli I Wayan Sarma mengatakan, bangkai ikan yang berhasil dikumpulkan langsung diangkut menuju Desa Pengotan, Bangli.

Di sana, bangkai ikan akan diolah menjadi pupuk organik agar tidak mencemari lingkungan.  

Sarma mengatakan bahwa upaya pembersihan akan terus dilakukan hingga kondisi danau benar-benar bersih.

Ia memperkirakan jumlah total ikan mati mencapai 30 ton, baik itu ikan liar maupun yang dibudidayakan dalam keramba jaring apung (KJA).

Nilai kerugian akibat kejadian ini diperkirakan menembus angka ratusan juta rupiah.

Lanjut Sarma, saat ini, kondisi air di Danau Batur mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Warna air sudah mulai normal. Pun demikian dengan bau belerang mulai menghilang.

Fenomena semburan belerang di Danau Batur merupakan kejadian tahunan yang sifatnya alami.

Meski demikian, dampaknya selalu dirasakan para pembudidaya ikan di wilayah tersebut.

Tahun ini, pesisir timur danau, khususnya di Desa Terunyan, menjadi titik paling terdampak.

Selain evakuasi bangkai ikan, Dinas PKP juga berkoordinasi dengan Balai Karantina Hewan Bali untuk mengecek kualitas air danau pasca-kejadian.

Pemeriksaan sudah dilakukan, namun hasilnya belum keluar.

“Biasanya pengecekan air dilakukan tiap tiga bulan, tapi karena ada kasus ini, kami minta pengecekan segera,” kata Sarma. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#Danau Batur #ikan mati #Kintamani