BALIEXPRESS.ID- Banyaknya sekolah dasar (SD) negeri di Bangli yang hanya mendapatkan siswa baru di bawah 10 orang tahun ini, tidak serta-merta membuat Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Bangli mengambil keputusan untuk melakukan regrouping atau penggabungan sekolah.
Disdikpora masih memiliki opsi lain untuk mengoptimalkan jumlah peserta didik.
Kepala Disdikpora Bangli, I Komang Pariartha, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin gegabah menggabungkan sekolah yang minim siswa dengan sekolah lainnya.
Penggabungan sekolah bukan satu-satunya solusi. Ia menekankan pentingnya kajian yang komprehensif sebelum mengambil keputusan tersebut.
Jumlah siswa baru yang sedikit tahun ini, bukan berarti tahun depan kondisinya sama.
Bisa saja sekolah tersebut kembali ramai. Pariartha juga mempertimbangkan aspek geografis.
Jika di satu wilayah hanya ada satu sekolah dan jarak ke sekolah lain cukup jauh, maka regrouping bukan pilihan tepat.
“Kami tidak bisa grasa-grusu regrouping,” tegas Pariartha saat dikonfirmasi Minggu (20/7/2025).
Ia lebih setuju jika penerimaan siswa baru diatur antar sekolah yang berdekatan dan mudah dijangkau.
Sebagai contoh, SD Negeri 5 Batur tahun ini hanya mendapat satu siswa baru, sementara SD Negeri 1 Batur yang berada di area yang sama mendapat 44 siswa baru.
Orang tua cenderung memilih SD Negeri 1 Batur. “Bagaimana agar anak-anak bisa dibagi sehingga tidak ada sekolah yang kekurangan siswa," katanya.
Seperti diketahui, kondisi minim siswa di SD Negeri 5 Batur bukan hal baru.
Tahun lalu sekolah ini hanya mendapat empat siswa baru, enam siswa pada tahun sebelumnya, dan bahkan nihil siswa baru pada 2020.
Hal ini berdampak pada komposisi kelas saat ini. Dari total 28 siswa aktif, tidak ada satu pun yang duduk di kelas V.
"Kalau regrouping, kami juga harus mempertimbangkan dampak psikologis anak," tegasnya.
Selain SD Negeri 5 Batur, tercatat ada 25 SD negeri lainnya di Bangli yang juga menerima siswa baru di bawah 10 orang.
SD Negeri 5 Batur menjadi sekolah yang paling sedikit jumlah siswa baru. (*)
Editor : I Made Mertawan