SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Adat Pedawa kedatangan tamu istimewa dari berbagai penjuru dunia. Para pemuda yang tergabung dalam Global Youth Forum berkunjung ke Sekolah Adat Manik Empul, Kamis (24/7), untuk melihat langsung geliat pelestarian budaya Bali Aga yang dilakukan secara swadaya oleh para pemuda desa. Suasana penuh semangat, tawa, dan bahasa yang beragam menghiasi hari itu, menyatukan semangat pemuda adat dari belasan negara dengan pemuda lokal Bali dalam satu semangat: menjaga dan merawat warisan leluhur.
Kunjungan ini terlaksana berkat kerja sama antara Sekolah Adat Manik Empul dan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN). Dalam sambutannya saat membuka acara, Kelian Desa Adat Pedawa, Wayan Sudiastika menyatakan bahwa pertemuan lintas negara ini merupakan momen penting bagi Pedawa.
“Bukan hanya sebagai panggung memperkenalkan budaya Bali Aga kepada dunia, tapi juga menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda kami untuk mengasah kemampuan berkomunikasi lintas budaya,” tegasnya.
Baca Juga: Simbol, Sesajen, dan Suara Perempuan dalam Revitalisasi Tradisi Megebeg-Gebegan dari Bali Utara
Para peserta Global Youth Forum berasal dari berbagai negara, di antaranya Filipina, Kamboja, Peru, Myanmar, India, Bolivia, Brazil, Honduras, Ekuador, Kolombia, Panama, Guatemala, dan Argentina. Mereka datang dengan semangat belajar, menyelami kehidupan masyarakat adat, dan tentu saja bertukar pengalaman budaya.
Acara kunjungan ini tak hanya berhenti pada diskusi. Interaksi hangat terjadi ketika para pemuda adat dari berbagai negara secara spontan menampilkan tarian-tarian khas daerahnya. Ruang terbuka di Pedawa sore itu seolah menjadi panggung budaya dunia. Tak kalah seru, pemuda-pemudi Sekolah Adat Manik Empul juga mengajak mereka untuk belajar gerak dasar tari Bali, membuat canang, serta bermain permainan tradisional Bali yang mulai jarang dijumpai.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika peserta diajak menyusuri desa untuk melihat langsung proses pembuatan gula aren—produk lokal khas Pedawa yang sarat makna budaya. Mereka juga diajak observasi ke Rumah Adat Bandung Rangki serta menyaksikan proyek konservasi air di kawasan Kayuan Gelunggang. Seluruh kegiatan ini dipandu langsung oleh siswa-siswi Sekolah Adat Manik Empul. Antusiasme para peserta dari luar negeri begitu terasa saat mereka aktif bertanya dan tertawa bersama para pemuda desa, seolah tak ada sekat bahasa di antara mereka.
Ketua Sekolah Adat Manik Empul, I Wayan Sadyana, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk menunjukkan apa yang telah mereka kerjakan selama ini.
“Kami memperkenalkan program konservasi, inventarisasi, hingga revitalisasi budaya yang sedang kami jalankan di desa. Ini bukti bahwa pemuda adat Pedawa tidak tinggal diam melihat warisan budaya kita tergerus zaman,” ujarnya.
Sekolah Adat Manik Empul sendiri berdiri pada tahun 2024, lahir dari kegelisahan anak-anak muda Pedawa melihat budaya lokal mulai ditinggalkan. Tanpa menunggu lama, mereka langsung terjun menyelamatkan tradisi-tradisi sakral yang hampir punah. Salah satu pencapaian monumental sekolah adat ini adalah keberhasilan merevitalisasi tiga jenis tari rejang sakral yang tak lagi ditarikan selama lebih dari 50 tahun: Rejang Sirigkuri, Rejang Kepet, dan Rejang Pengecek Galuh.
Setelah melalui proses panjang berupa penelusuran sejarah, pelatihan intensif, dan dokumentasi adat, ketiga tari sakral tersebut akhirnya berhasil dipentaskan kembali pada acara Saba Ngelemekin di Pura Bingin, 15 Januari 2025. Momen itu menjadi bukti nyata bahwa pemuda adat mampu menjadi garda depan dalam menjaga budaya leluhur mereka.
Kunjungan Global Youth Forum ini menegaskan bahwa Pedawa bukan hanya desa kecil di pegunungan Bali, tapi juga simpul penting dari jaringan pemuda adat dunia yang berjuang menjaga kearifan lokal di tengah gempuran globalisasi. Sekolah Adat Manik Empul membuktikan bahwa gerakan pelestarian budaya bisa dimulai dari kesadaran anak-anak muda yang mencintai tanah kelahiran mereka. ***
Editor : Dian Suryantini