BALIEXPRESS.ID - Pengelolaan Kampung Kuliner Serangan, di Lapangan Wayan Bulit, Kelurahan Serangan, Denpasar, resmi diserahkan kepada desa adat pada Maret 2025.
Hingga kini, kampung kuliner yang diharapkan dapat menjadi destinasi kuliner unggulan tersebut masih belum beroperasi.
Alasannya adalah adanya sejumlah permasalahan terkait fasilitas yang belum memadai.
Ketua Pokja Kampung Kuliner Serangan Nyoman Puja mengungkapkan, operasional Kampung Kuliner ditunda karena beberapa fasilitas yang belum lengkap dan belum memenuhi standar.
Pada awalnya, kampung kuliner ini sempat dibuka untuk umum selama dua haru saat Hari Raya Kuningan dengan melibatkan 24 pedagang.
Selama operasi singkat tersebut, banyak pedagang yang mengeluhkan fasilitas yang disediakan.
Salah satu permasalahannya adalah air yang digunakan dengan rasa asin.
“Itu bukan air PDAM, tetapi air tanah yang asin. Air asin ini sangat dikeluhkan karena dapat merusak perabotan," ungkap Puja, Kamis (24/7/2025).
Selain masalah air, kondisi bangunan yang belum sepenuhnya siap juga menjadi keluhan.
Menurutnya, perlu adanya tambahan kanopi untuk melindungi pengunjung dari terik matahari dan hujan.
Pasalnya, area tempat duduk pengunjung berada di luar ruangan yang terbuka.
“Kalau seperti itu kan panas terik, dan kalau hujan pasti kehujanan,” tambahnya.
Puja juga menyoroti saluran air yang ada di Kampung Kuliner, yang dinilai belum memadai dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Sebagai seorang pedagang kuliner, ia memiliki pengalaman bahwa saluran air yang buruk rentan mengalami penyumbatan, apalagi jika digunakan untuk olahan seafood.
Terkait dengan permasalahan tersebut, pihaknya telah dihubungi oleh Dinas Pariwisata Denpasar untuk menyusun proposal yang nantinya akan diajukan untuk mendapatkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR).
Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Pariwisata Kota Denpasar, I Gusti Agung Komang Widnyana menjelaskan, setelah sempat beroperasi, pihaknya langsung mengadakan pertemuan dengan Pokja untuk membahas masalah-masalah tersebut.
Salah satu solusi yang telah disepakati adalah pengalihan sumber air dari sumur bor ke PDAM.
Ada dua opsi terkait pengalihan PDAM tersebut, pertama lewat amprahan yang dilakukan desa adat dan kedua melalui PUPR Denpasar.
"Kami lewat Bu Kadis sudah koordinasi ke PUPR, ada program dengan dana APBD, dan kami mohonkan untuk dialihkan ke Kampung Kuliner. Program ini akan berjalan tahun ini," ujarnya.
Selain itu, untuk masalah kanopi, pihaknya telah meminta Pokja untuk segera menyusun proposal yang akan diajukan ke beberapa perusahaan untuk CSR, seperti BPD atau Pelindo.
Widnyana juga berharap agar operasional Kampung Kuliner bisa segera beroperasi.
Hal ini agar fasilitas yang ada tidak terabaikan dan tidak rusak. Meskipun aset telah diserahkan kepada desa adat, Dinas Pariwisata Denpasar tetap berperan sebagai fasilitator.
"Kami sebagai fasilitator. Aset dan lahan memang milik desa adat, tetapi kami tidak lepas tangan," imbuhnya. (*)
Editor : I Made Mertawan