SINGARAJA, BALI EXPRESS — Di tengah semarak Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, sebuah pemandangan menyentuh terjadi di salah satu sudut area workshop. Puluhan siswa dari SLB Negeri 1 Buleleng tampak antusias mengikuti kegiatan pewarnaan kain menggunakan bahan alami. Bukan sekadar aktivitas seni biasa, workshop ini menjadi pengalaman pertama mereka merasakan proses kreatif yang melibatkan indra, perasaan, dan semangat kolaborasi lintas kemampuan.
Kegiatan ini difasilitasi oleh dua pelaku kreatif lokal yang telah lama berkecimpung di dunia tekstil ramah lingkungan, yakni Andika Putra dari Pagi Motley dan Dina Widiawan dari Din’z Handmade. Dengan pendekatan inklusif dan penuh kesabaran, keduanya membimbing para peserta disabilitas melalui setiap tahapan pewarnaan—dari pengenalan bahan alami, perendaman kain, hingga teknik pelipatan dan pencelupan ke dalam larutan pewarna berbahan dasar indigofera.
“Ini bukan sekadar mewarnai kain, tapi memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi dan merasakan sendiri proses alami yang penuh kejutan ini,” ujar Andika Putra, Jumat (25/7), sambil memandu seorang siswa yang tengah menggulung kain dengan penuh semangat.
Baca Juga: Singaraja Literary Festival 2025: Menghidupkan Pengetahuan di Masa Lalu dalam Napas Baru
Indigofera, sebagai bahan pewarna utama, menghasilkan warna biru yang kuat namun menenangkan. Warna ini dipilih bukan hanya karena sifat estetikanya, tetapi juga karena proses pewarnaannya yang relatif aman dan mudah disesuaikan dengan berbagai tingkat kemampuan peserta.
Meskipun sebagian besar siswa memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi verbal, ekspresi wajah dan gestur mereka mencerminkan kegembiraan yang tak terbantahkan. Salah satu siswa bahkan terus mengelus kainnya yang telah berubah warna seolah sedang memandangi hasil karya seni yang sangat personal.
“Yang menarik dari proses ini adalah bagaimana mereka menyerap informasi dengan cara yang berbeda. Ada yang belajar lewat sentuhan, ada yang lewat pengamatan visual. Tapi semuanya menyatu dalam proses yang alami,” kata Andika Putra.
Workshop ini bukan hanya menjadi ajang keterampilan, tetapi juga panggung kesetaraan. Di ruang ini, tidak ada perbedaan antara mereka yang ‘mampu’ dan ‘berkebutuhan khusus’. Semua berdiri sejajar sebagai pencipta, sebagai perajin, sebagai pewarna kain yang penuh semangat dan rasa ingin tahu.
SLF sebagai tuan rumah acara ini, tampaknya benar-benar ingin menghadirkan festival yang tidak hanya literer dalam arti tulisan, tapi juga literasi rasa, pengalaman, dan keberagaman.
“Kami ingin memberikan pengalaman pula kepada mereka mengenai pemanfaatan bahan alami. Saya sendiri fokus pada pemanfaatan kain perca yang dikreasikan dan dikombinasikan dalam sebuah busana,” ujar Dina Widiawan. Tangannya tetap berpacu pada jarum dan benang merajut kenangan bersama peserta.
Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari lebih banyak ruang inklusif di ranah seni dan budaya, terutama di Buleleng. Seperti warna biru indigo yang menenangkan namun kuat, semangat para peserta disabilitas dalam workshop ini memberi warna baru bagi festival dan masyarakat luas.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini tak berhenti di sini. Karena mereka juga punya hak untuk berproses, berkarya, dan dihargai,” tutup Dina dengan senyum hangat, di tengah tawa dan sorak antusias para siswa yang bangga memamerkan hasil karya kain berwarna biru mereka. ***
Editor : Dian Suryantini