Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Situs Arjuna Metapa di Gianyar: Diduga Permandian Suci Zaman Bali Kuno, Diyakini Menjadi Tempat Ruwatan

I Putu Mardika • Kamis, 31 Juli 2025 | 16:16 WIB

 

Situs Arjuna Metapa di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Bali
Situs Arjuna Metapa di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Bali
BALIEXPRESS.ID – Sebuah situs purbakala yang berada di wilayah Desa Pejeng, Gianyar, Bali, diduga merupakan bekas patirthan atau tempat permandian suci dari masa Bali Kuno. Situs ini dikenal sebagai Situs Arjuna Metapa, dan menyimpan sejumlah artefak arkeologis yang unik dan sakral.

Situs Arjuna Metapa terletak di area persawahan, tepat di sebelah barat Pura Kebo Edan dan tidak jauh dari Sungai Petanu. Lokasi ini berada di antara dua daerah aliran sungai penting, yakni Sungai Pakerisan dan Petanu, yang selama ini dikenal kaya akan peninggalan sejarah dan keagamaan.

Dalam artikel yang ditulis Coleta Palupi Titasari dan Rochtri Agung Bawono dari Prodi Arkeologi Universitas Udayana memaparkan sejumlah temuan penting yang mendukung identifikasi situs ini sebagai patirthan. Temuan tersebut mencakup arca pancuran seorang pertapa (Arjuna) dan arca pancuran bidadari.

Kedua arca ini memiliki saluran air yang mengalir dari bagian tubuh tertentu—suatu ciri khas dari arsitektur patirthan pada masa Hindu-Buddha di Nusantara. Air diyakini keluar dari guci yang dipegang sang pertapa dan dari pusar arca bidadari.

Menariknya, arca bidadari dengan bentuk dan ukuran yang serupa juga ditemukan di Pura Desa Bedulu, yang berdekatan dengan lokasi situs.

Para ahli menduga ketiga arca ini awalnya berdiri bersama sebagai bagian dari satu kesatuan struktur permandian.

Nama "Uma Telaga" yang disematkan warga setempat pada wilayah persawahan tempat situs berada semakin memperkuat asumsi itu.

Dalam bahasa lokal, uma berarti sawah dan telaga berarti kolam atau danau, yang secara simbolik menunjukkan fungsi ritual masa lalu.

Penelusuran literatur dan wawancara dengan warga lokal menunjukkan bahwa Uma Telaga diyakini dulunya adalah kolam pemandian suci yang digunakan oleh para raja atau pendeta kerajaan Bali Kuno.

Tak hanya data arkeologi dan lisan, situs ini juga diperkuat dengan bukti tertulis. Penemuan Prasasti Air Tiga di kawasan ini memberi konfirmasi penting bahwa dulunya di lokasi ini berdiri bangunan suci yang bernama Air Tiga.

Prasasti yang ditulis dalam bahasa Bali Kuna dan Jawa Kuna itu ditemukan tahun 1975 dan menyebutkan tentang lokasi pertapaan serta bangunan suci yang diperuntukkan bagi orang-orang suci di daerah Jatismara.

Disebutkan dalam prasasti tersebut bahwa Air Tiga adalah tempat suci dengan batas wilayah yang jelas dan merupakan lokasi penting untuk ritual penyucian diri.

Nama "Air Tiga" diperkirakan merujuk pada tiga sumber pancuran air, sesuai dengan jumlah arca yang ditemukan.

Dari hasil analisis para ahli, arca pertapa Arjuna berada di tengah dan diapit oleh dua arca bidadari, satu di sisi kanan dan satu di sisi kiri.

Formasi ini serupa dengan cerita tokoh Arjuna dalam epos Mahabharata yang melakukan pertapaan dan digoda para bidadari.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa struktur utama situs telah terkubur di bawah areal persawahan.

Namun, jejak artefak seperti jaladwara (pancuran berbentuk makara), fragmen kala, dan arca-arca masih tersisa dan disimpan di pura sekitar.

Menurut kajian arsitektur suci Hindu-Buddha, patirthan umumnya dibangun sebagai kolam terbuka tanpa atap, dilengkapi pancuran dan saluran air. Unsur-unsur ini sebagian besar telah ditemukan di Situs Arjuna Metapa.

Keberadaan patirthan sangat penting dalam sistem keagamaan Hindu di Bali. Patirthan bukan hanya tempat mandi, tetapi juga tempat pengambilan tirtha (air suci) yang digunakan dalam upacara penyucian diri dan ruwatan.

Situs Arjuna Metapa juga memiliki nilai historis yang tinggi. Wilayah Pejeng dan Bedulu sudah lama diyakini sebagai pusat kerajaan Bali Kuno, sehingga keberadaan situs-situs keagamaan seperti ini adalah wajar dan mendukung catatan sejarah yang ada.

Penggunaan air dalam konteks sakral masih berlanjut hingga kini dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Pura-pura beji yang khusus digunakan untuk pengambilan tirtha juga merupakan kelanjutan dari tradisi patirthan masa lalu.

Bentuk arca pancuran di situs ini pun menunjukkan langgam yang serupa dengan arca pancuran di situs Goa Gajah, yang terkenal sebagai tempat permandian suci. Ini menguatkan dugaan bahwa Arjuna Metapa adalah bagian dari jaringan situs suci zaman Bali Kuno.

Tim peneliti merekomendasikan ekskavasi lanjutan di kawasan ini, khususnya di area barat Pura Arjuna Metapa, untuk mengungkap struktur kolam atau bangunan pendukung lainnya yang masih tertimbun tanah.

Jika hasil ekskavasi berhasil menemukan kolam atau bangunan lainnya, maka Situs Arjuna Metapa dapat dipastikan sebagai situs penting dalam jaringan patirthan kuno di Bali yang sejajar dengan Tirta Empul dan Goa Gajah.

Temuan ini menjadi salah satu kontribusi besar dalam mengungkap warisan arkeologis Bali yang belum banyak diketahui publik. Selain penting secara akademis, situs ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan spiritual.

Keunikan Arjuna Metapa juga terletak pada narasi lokal yang hidup dan diwariskan turun-temurun. Tutur masyarakat tentang Uma Telaga menjadi pintu masuk untuk memahami konteks sakral kawasan ini.

Baca Juga: Senyum Lebar Saat Ditahan, Kades Cikujang Bikin Geram Usai Diduga Korupsi Dana Desa dan Jual Posyandu

Dengan data artefaktual, tutur masyarakat, dan prasasti kuno sebagai basis, temuan ini membuka peluang besar untuk konservasi dan pengembangan kawasan sebagai situs cagar budaya sekaligus daya tarik wisata heritage di Gianyar.

Situs Arjuna Metapa adalah bukti nyata betapa Bali tidak hanya kaya akan budaya yang hidup, tetapi juga menyimpan jejak-jejak spiritual masa lalu yang sakral dan penuh makna. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #metapa #gianyar #situs #purbakala #arjuna #Pejeng