Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Selamat Jalan Juliawan! Sosok Pendiam dan Penyayang, Korban Insiden Proyek Bak Penampungan Air di Seribatu

I Made Mertawan • Selasa, 5 Agustus 2025 | 14:10 WIB
Ni Luh Sriani, istri Ketut Juliawan, menunjukkan foto sang suami di ponsel, Senin (4/8/2025).
Ni Luh Sriani, istri Ketut Juliawan, menunjukkan foto sang suami di ponsel, Senin (4/8/2025).

BALIEXPRESS.ID- Senin (4/8/2025) siang sekitar pukul 11.45 Wita, suasana rumah duka I Ketut Juliawan di Banjar Seribatu, Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Bangli,  tampak lengang.

Namun duka mendalam terasa begitu kuat. Di teras rumah, istri almarhum, Ni Luh Sriani, duduk ditemani dua anak mereka dan keluarga lainnya.

Air mata yang tak terbendung dan wajah lelah menandai kesedihan yang mendalam atas kepergian sang suami.

Juliawan merupakan salah satu korban meninggal dunia dalam insiden di proyek gudang sepeda Bali Echo di Banjar Seribatu, Sabtu (1/8/2025) pagi.

Juliawan gagal napas di dalam proyek bak penampungan air bersama dua korban meninggal lainnya, yaitu I Nengah Darman,53, dan I Wayan Buda Adnyana,52.

Saat itu, Juliawan diduga hendak menolong rekannya yang masuk ke dalam bak untuk melepas steiger.

Mereka berasal dari banjar yang sama. Satu korban lain, Anak Agung Rimbawan, 55, warga Desa Tamanbali, masih menjalani perawatan di RSUD Bangli. 

Menurut I Nengah Arus, ipar Juliawan, prosesi makingsan telah dilakukan pada Minggu (3/8/2025) di Setra Seribatu.

Upacara bersamaan dengan dua korban meninggal lainnya. Upacara lanjutan ngurug dijadwalkan pada 13 Agustus.

Bagi keluarganya, Juliawan dikenal sebagai sosok yang pendiam namun penuh perhatian.

Ia tak pernah sekalipun menunjukkan amarah pada kedua anaknya.

Ia dikenal sebagai ayah yang selalu memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, terutama sebelum berangkat sekolah.

“Kalau anaknya mau berangkat sekolah, bapaknya pasti cek motor. Cek bensin, kalau kurang, bapaknya yang pergi beli. Uang bekal juga selalu disiapkan,” kenang Sriani dengan lirih.

Sriani masih berusaha tegar, namun mengenang momen terakhir bersama suaminya membuatnya tak kuasa menahan kesedihan.

Sebenarnya, pagi sebelum peristiwa nahas terjadi, orang tua Juliawan menyarankan agar tidak bekerja dulu karena bambu di kebun masih berserakan.

Juliawan disarankan membersihkan bambu yang sebelumnya sudah dipilah untuk dijual sebagai steiger.

Sriani sendiri juga menawarkan diri untuk ikut bekerja karena kepala tukang sebelumnya sempat menawari pekerjaan yang bisa dilakukan perempuan.

“Saya dilarang ikut, katanya saya capek, istirahat saja di rumah,” ucap Sriani, pelan.

Ia tak menyangka larangan sederhana itu adalah bentuk perhatian terakhir dari sang suami.

Tidak sedikit pun ia menyangka momen itu akan menjadi hari terakhirnya bersama suami.

Juliawan meninggalkan seorang istri dan dua anak. Anak pertama, seorang perempuan, saat ini tengah menempuh pendidikan Diploma 1. Sedangkan anak bungsunya, laki-laki, duduk di bangku kelas XII SMA. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#kecelakaan kerja #bangli #Bak penampungan air