Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keren! Peternakan Ayam di Tabanan Tanpa Kandang, Produksi 1.000 Telur Sehari: Ini Rahasianya

IGA Kusuma Yoni • Kamis, 7 Agustus 2025 | 00:06 WIB
AYAM: Peternakan ayam Bahagia di Desa Perean Baturiti milik I Nyoman Merta.
AYAM: Peternakan ayam Bahagia di Desa Perean Baturiti milik I Nyoman Merta.

BALIEXPRESS.ID – Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, dikenal sebagai salah satu sentra peternakan di Bali. Tidak hanya mengandalkan sistem peternakan konvensional, wilayah ini kini juga mulai menerapkan sistem peternakan ramah lingkungan dan menyejahterakan hewan, yakni peternakan ayam petelur tanpa kandang (cage-free).

Salah satu pelopor sistem ini adalah peternakan ayam milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Dharma Santhika Tabanan, yang berlokasi di Banjar Puseh, Desa Perean, Kecamatan Baturiti.

Direktur Utama Perumda Dharma Santhika, Kompiang Gede Pasek Wedha, menjelaskan bahwa peternakan cage-free tersebut merupakan yang pertama di wilayah Perean.

Sistem ini dikembangkan sebagai upaya menyesuaikan permintaan pasar, khususnya dari industri perhotelan di Bali yang kini mulai beralih ke telur cage-free atau yang dikenal juga dengan sebutan “telur bahagia”.

“Peternakan ini adalah program baru yang kami kembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar hotel yang terus meningkat,” ungkapnya, Rabu (6/8).

Sistem cage-free memungkinkan ayam hidup bebas di dalam area tertutup, tanpa dikurung dalam kandang sempit. Ayam dapat bergerak leluasa, bertelur di sarang, bertengger, serta menggaruk tanah sebagaimana perilaku alaminya.

Penerapan sistem ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas telur, serta menurunkan tingkat stres pada ayam.

Saat ini, peternakan cage-free milik Dharma Santhika mampu menghasilkan sekitar 3.000 butir telur per hari. Seluruh hasil produksi telah terserap untuk memenuhi kebutuhan hotel-hotel di Bali.

“Permintaan telur cage-free sangat tinggi. Bahkan, produksi saat ini masih belum mampu memenuhi permintaan pasar yang mencapai 20 ribu butir per hari,” jelas Pasek Wedha.

Melihat potensi yang besar ini, pihaknya menargetkan hingga akhir 2025 bisa bermitra dengan 20 peternak baru, masing-masing mampu menghasilkan 1.000 butir telur per hari.

Salah satu peternak yang sudah menerapkan sistem ini adalah I Nyoman Merta (73). Ia mulai beralih ke sistem cage-free sejak sembilan bulan terakhir, dan kini memelihara sekitar 1.500 ekor ayam petelur di rumahnya.

“Dulu pakai sistem kandang biasa. Sekarang setelah pakai cage-free, hasilnya naik. Tiap hari saya bisa panen 850 sampai 1.000 butir telur,” kata Merta.

Seluruh hasil panen milik Merta dibeli oleh Perumda Dharma Santhika dengan harga Rp 2.000 per butir. Untuk operasional, ia membeli pakan campuran (jagung, dedak, dan konsentrat) seharga Rp 6.500 per kilogram, dengan konsumsi sekitar 230 kg per hari.

“Dengan biaya pakan dan hasil panen seperti sekarang, sistem ini sangat menguntungkan. Saya juga berencana menambah jumlah ternak ke depannya,” ujarnya.

Untuk mendapatkan ayam siap bertelur, Merta mengaku membelinya dari peternak lokal di Tabanan dengan harga sekitar Rp 85 ribu per ekor.

Dengan kualitas telur yang lebih baik dan permintaan pasar yang tinggi, sistem peternakan ayam cage-free dinilai sangat potensial menjadi masa depan peternakan modern di Bali. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#kandang #ayam #ternak #telur #tabanan