BALIEXPRESS.ID– Kasus meninggalnya bayi perempuan berusia 3 bulan di salah satu rumah sakit di Gianyar terus menyita perhatian publik.
Dugaan kelalaian medis hingga pemberian obat oleh petugas praktik tanpa pendampingan membuat warganet geram.
Kini, Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, ikut angkat bicara.
Lewat akun media sosial pribadinya, Niluh Djelantik menyampaikan duka dan keprihatinannya atas tragedi yang menimpa keluarga korban. Ia juga menyampaikan doa dan dukungan kepada orang tua sang bayi.
“Mimih ratu niki bayi diberikan obat apa sampai meninggal dunia. Kepada pihak orang tua, doa Mbok bersama kalian. Kuat dan tabah nggih kesayangan,” tulis Niluh dalam unggahan yang dikutip Jumat (8/8/2025).
Tak hanya menyampaikan empati, Niluh juga mendesak pihak rumah sakit segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik dan bertanggung jawab atas kejadian memilukan tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Perkuat Sinergi Lintas Lembaga untuk Berantas Judi Online di Indonesia
"Kepada rumah sakit terkait, ditunggu klarifikasi karena permintaan maaf saja tidak cukup. Fakta-fakta dan pemberian jenis obat harus disampaikan ke publik sebagai pertanggungjawaban kepada pihak orang tua yang telah kehilangan buah hati mereka,” tegasnya.
Peristiwa ini pertama kali mencuat ke publik setelah akun Facebook Ezra Wisqey membagikan curhatan menyayat hati.
Ia adalah ayah dari bayi malang tersebut. Dalam unggahan yang kini viral, Ezra mengisahkan bagaimana sang anak awalnya hanya mengalami demam tinggi dan sempat dibawa ke puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.
Setelah mendapat perawatan awal dengan paracetamol dan ranitidine, kondisi sang bayi sempat membaik.
Namun, kondisi berubah drastis setelah pemberian antibiotik, yang diikuti tangisan histeris dari sang bayi. Saat keluarga panik dan meminta tindakan medis, mereka justru hanya disarankan memberikan minyak angin.
Baca Juga: Fenomena Bendera Bajak Laut: Ancaman Terhadap Nilai-Nilai Kemerdekaan Indonesia
Puncak tragedi terjadi pada Rabu (6/8/2025) siang, saat seorang petugas yang belakangan diketahui adalah siswa praktik menyuntikkan obat baru sekitar 250 mililiter tanpa pendampingan dokter.
Belum habis diberikan, wajah bayi langsung menghitam dan nyawanya tak tertolong, meski telah mendapat penanganan selama dua jam.
Pihak keluarga menyebut, pada saat kejadian tidak ada dokter spesialis anak yang standby, hanya dokter jaga. Usai pemakaman, mereka kembali ke rumah sakit untuk meminta pertanggungjawaban, namun hanya diberi permintaan maaf tanpa penjelasan memadai.
Editor : Wiwin Meliana