BALIEXPRESS.ID– Kejadian meninggalnya bayi berusia empat bulan berinisial NKAMP di RSUD Sanjiwani Gianyar pada Rabu (6/8/2025) pukul 17.44 WITA menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.
Baca Juga: Kronologi Remaja Perempuan Tewas Terlindas Truk di Jalur Sidemen, Jalan Berlubang Diduga Jadi Pemicu
Sang ayah, Wayan Eka Saputra, warga Banjar Kelusu, Desa Pejeng Kelod, Kecamatan Tampaksiring, akhirnya angkat bicara dan menyampaikan kesedihannya secara terbuka.
Dalam unggahan di akun media sosial Facebook miliknya, Wayan Eka sempat mencurahkan isi hati dan menyampaikan dugaan bahwa obat yang diberikan kepada anaknya berasal dari seorang perawat siswa magang.
Baca Juga: Niat Baik Berujung Tragis, Widiana Tewas Tertimpa Pohon Bayur di Jembrana
Unggahannya tersebut sempat viral dan menyita perhatian publik.
“Selama ini anak saya tidak pernah rewel. Tapi tiba-tiba panas tinggi sampai 40,3 derajat. Tumben begini,” kenangnya.
Wayan Eka menjelaskan bahwa awalnya kondisi anaknya mulai membaik saat menjalani perawatan di RSUD Sanjiwani.
Ia menyebut suhu tubuh bayi sudah kembali normal, bahkan dalam kondisi tidur tenang sebelum akhirnya terjadi henti napas.
“Kami juga kaget, sebelum masuk obat, suhu sudah normal, posisi bayi tidur,” ujarnya.
Namun, tak lama kemudian, bayi NKAMP dinyatakan meninggal dunia. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi keluarga.
Baca Juga: Bayi 4 Bulan Meninggal di RSUD Sanjiwani, Sekda Tegaskan Penanganan Medis Sudah Sesuai Prosedur
Dalam kondisi emosional, Wayan Eka mengaku sempat menyebut nama-nama publik figur dalam unggahan media sosialnya, termasuk Anggota DPD RI Arya Wedakarna dan aktivis Ni Luh Djelantik. Namun, kini unggahan tersebut telah dihapus.
“Saya upload dan sudah saya take down. Saya dalam keadaan seperti ini, agar tidak ada gangguan lagi. Supaya kami cepat recovery mental,” ujarnya saat ditemui di rumah duka, didampingi istrinya yang masih berkabung.
Ia pun berharap agar kejadian ini menjadi bahan refleksi bagi semua pihak, baik institusi kesehatan maupun masyarakat. “Dalam kejadian ini, agar semua orang sadar,” tambahnya.
Sebagai umat Hindu, Wayan Eka menyampaikan bahwa dirinya memilih untuk ikhlas dan menyerahkan sepenuhnya kepada hukum karma.
“Biarlah ini berlalu. Saya percaya karma,” ucapnya lirih.
Baca Juga: Kelangkaan Semen Hambat Proyek Fisik, Pembangunan Gedung DPRD Badung Puluhan Miliar Terancam Molor
Pihak keluarga kini memilih untuk fokus pada proses pemulihan mental dan menerima duka dengan lapang dada.
Sementara itu, perhatian publik terus tertuju pada transparansi penanganan medis dan komitmen pelayanan kesehatan yang menjadi sorotan pasca insiden ini.
Editor : Wiwin Meliana