BALIEXPRESS.ID – Polemik politik yang menimpa Gubernur Bali Wayan Koster kini melebar ke ranah personal, menyeret nama sang istri, Nyonya Putri Suastini Koster.
Hal ini bermula dari pernyataan Gubernur Koster soal isu pengelolaan sampah yang kemudian ditanggapi sinis oleh beberapa pihak di media sosial.
Baca Juga: Kecelakaan di Karangasem Melonjak, Kapolres Soroti Pengemudi di Bawah Umur
Merasa sang suami terus disudutkan, Putri Suastini pun angkat bicara dan kini, justru ia menjadi sasaran komentar miring.
Menanggapi perkembangan ini, Dekan Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati, Prof. Dr. I Ketut Sukawati Lanang Perbawa, SH., M.Hum., menilai bahwa sikap Nyonya Putri Suastini membela suaminya adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi.
Bahkan menurutnya, dalam budaya dan nilai-nilai spiritual, itu bisa diibaratkan seperti Dewi Parwati yang menjelma menjadi Mahakali saat Siwa diganggu.
Baca Juga: Disentil Soal Karya, Putu Artha Tantang Gubernur Koster Debat Soal Pengelolaan Sampah
“Ibaratnya Dewi Parwati, ketika Siwa diganggu. Dewi Parwati akan membela Siwa dan menjelma menjadi Mahakali,” ujar Lanang Perbawa, yang juga dikenal sebagai seniman topeng Bali dikutip pada Rabu (13/08/2025).
Menurut Lanang, polemik ini bermula dari pernyataan Gubernur Koster soal konsep pengelolaan sampah berbasis sumber yang disalahpahami dan digoreng di media sosial.
Padahal, ujar Lanang, pernyataan itu adalah sebuah analogi, bukan bentuk menyalahkan individu atau kelompok tertentu.
“Kan sudah jelas, sampah dengan jumlah besar akan dikelola dengan insinerator. Sedangkan sampah dengan jumlah kecil ditangani berbasis sumber. Artinya, kelola sampah sendiri, jangan lempar ke desa lain,” jelasnya.
Baca Juga: Ngeri! Pelajar MTs Tewas Ditusuk Siswa SD Kelas 4, Polisi Selidiki Motif Pelaku
Ia menambahkan bahwa selama ini Gubernur Koster justru jarang membalas serangan atau komentar negatif yang diarahkan padanya.
Namun ketika serangan tersebut sudah menyasar secara terus-menerus, wajar jika sang istri akhirnya bersuara.
“Pak Koster saya lihat selama ini jarang menanggapi pihak-pihak yang membully. Tapi yang namanya istri, mungkin nggak terima kalau suaminya terus diserang. Apa pun yang dilakukan selalu salah di mata mereka,” sambungnya.
Lanang juga menyesalkan bagaimana ruang diskusi soal kebijakan publik berubah menjadi ajang serangan personal, terutama melalui media sosial yang kerap digunakan untuk memelintir konteks.
Di tengah memanasnya polemik antara tokoh-tokoh publik, Lanang mengajak masyarakat untuk tetap berpikir jernih dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang dibentuk tanpa pemahaman utuh terhadap konteks kebijakan.
Editor : Wiwin Meliana