Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Mejurag Tipat: Simbol Optimisme Petani Timuhun yang Berpeluang Jadi WBTB

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 15 Agustus 2025 | 16:17 WIB

BERPELUANG : Tradisi unik Mejurag Tipat yang digelar masyarakat Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.
BERPELUANG : Tradisi unik Mejurag Tipat yang digelar masyarakat Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

BALIEXPRESS.ID – Tradisi unik Mejurag Tipat yang digelar masyarakat Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, kini tengah diupayakan untuk diajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Upaya ini diawali dengan peliputan dan pengumpulan data oleh tim pengkaji WBTB Kabupaten Klungkung.


Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Klungkung, I Ketut Suadnyana, S.Pd., M.Si, dan dihadiri oleh tim pengkaji WBTB Kabupaten Klungkung yang diketuai Prof. Dr. Anak Agung Bagus Wirawan, beserta tim, tokoh masyarakat Wayan Buda Parwata yang juga anggota DPRD Klungkung, Perbekel Desa Timuhun, Bendesa Adat Timuhun, tokoh masyarakat, unsur pemuda, serta tim pelaksana dari Dinas Kebudayaan.


Menurut Panglingsir setempat, Jero Mangku Pasek Gde Lepang, tradisi Mejurag Tipat merupakan warisan turun-temurun masyarakat Desa Timuhun. Upacara ini dilaksanakan setiap tahun pada Purnama Sasih Kenem oleh krama subak Desa Timuhun. “Tradisi ini menjadi bagian dari ritual Mapag Toya yang dilakukan di tengah proses pembagian air atau disebut temukan aya,” terangnya didampingi Kelian Subak Kadek Suarmayasa.


Dalam pelaksanaan upacara, disuguhkan berbagai prosesi adat seperti atraksi berebut ketupat (Mejurag Tipat), pecaruan, pakelem babi guling, hingga megibung nasi pengangon. Keunikan tradisi ini terletak pada keterlibatan seluruh krama subak, termasuk mereka yang baru pulang dari sawah.


Hal menarik lainnya adalah adanya ritual nunas Bacin Lawah (memohon kotoran kelelawar) yang diambil langsung dari Pura Goa Lawah. Menurut para panglingsir Timuhun, upacara ini memiliki makna penting dalam kehidupan pertanian. Tradisi ini sempat tidak dilaksanakan pada era 1990-an, dan dampaknya dirasakan langsung berupa kekeringan serta serangan hama. Namun sejak kembali dilaksanakan, hasil pertanian menjadi baik dan lancar.


“Upacara Mejurag Tipat adalah simbol optimisme dan kegembiraan sebelum mengolah sawah. Jika diawali dengan rasa gembira, hasilnya akan maksimal,” lanjutnya.


Ditambahkan oleh Wayan Buda Parwata yang juga anggota DPRD Klungkung asal Timuhun, dengan keunikan dan nilai filosofi tersebut, Mejurag Tipat diharapkan dapat diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Selain itu, tradisi ini diharapkan terus dilestarikan oleh masyarakat, khususnya generasi muda Desa Timuhun. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#wbtb #warisan budaya #klungkung #tradisi #mejurag tipat