BALIEXPRESS.ID - Polemik pengelolaan sampah memicu suhu panas. Bahkan beberapa tokoh nyerang Gubernur Bali hingga istri. Tanggapan istri Gubernur di medsos juga memicu perlawanan sengit dari pengamat IGP Artha dan politisi Gede Pasek Suardika (GPS) dan tokoh lain.
Polemik sempat mendapatkan tanggapan dari Dekan Fakultas Hukum Unmas Prof. Dr. Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa SH.M.hum. Situasi ini akhirnya juga ikut ditanggapi oleh Pegiat Lingkungan Ketut Udi Prayudi. SE, SH, MH. Salah satu tokoh sentral yang mengkampanyekan konsep biopori, teba modern, eco enzym dan lainnya.
“Saya misalnya mengenalkan eco enzym untuk disemprotkan di jalan untuk membersihkan udara, bekerjasama dengan Pemkot Denpasar,” urai Mantan Anggota KPUD Bali ini.
Udi mengatakan, Gubernur Koster bukan ujug ujug mau nutup dan lainnya terkait TPA. Langkah langkah sudah dilakukan. Di awal adalah Pergub perngurangan plastik sekali pakai. melarang tas kresek, sedotan plastik, steroaform dan lainnya.
“Awal memimpin di awal tahun 2019 sudah kenceng terkait penangan sampah, menekan plastik. Sampai membentuk TPS3R di Desa dan kelurahan. Walaupun belum semua berhasil, tapi langkah awal sudah jelas, bahwa Gubernur serius ingin menangani sampah,” jelas pria yang memperoleh penghargaan Walikota Denpasar sebagai Pegiat Lingkungan.
Dia juga mengatakan, bahwa Gubernur Koster serius ingin melakukan langkah nyata tentang pengelolaan sampah di Bali. Bukan lagi open dumping dan lainnya. Pola yang dilakukan di rumah ada biopori, teba modern, ditingkat desa TPS3R, untuk skup besar nanti ada insenerator. Udi mengatakn itu sudah terpola dan berjalan. “Tinggal diberikan lagi sosialisasi lebih serius. Memberikan pemahaman masyarakat agar berperan aktif,” sambung Mantan Anggota KPUD Bali yang dulunya ngantor naik sepeda lipat ini.
Udi mengatakan, ketika pergub tahun 2019 diterbitkan. Dirinya sebagai Penyarikan Banjar Kertha Sari Panjer langsung berbuat nyata. Membuat awig terkait lingkungan. Yang pertama setiap ada yang nikah wajib mempelai menanam pohon. “Dimana saja, di banjar boleh. di rumahnya boleh,” urainya.
Saat itu juga mulai membuat biopori di banjr dan warga. Termasuk teba modern, membuat eco enzym. “Ini saya sebut aksi nyata. Peran serta kita sebagai warga masyarakat, orang Bali,” tandasnya.
Kemudian, dirinya juga sebagai Ketua Rumah Kebangsaan yang berlokasi di penatih, langsung juga tahun 2019 menyambut dengan membuat biopori, teba modern, eco enzym, bahkan membuat pola water treatment. Sehingga semua limbah tidak ada keluar ke got. “Kami punya 178 biopori di Rumah Kebangsaan. 178 ini jadi 17 Agustus (bulan 8). teba modern, sampai ini eco enzym terus buat. Bahkan Rumah Kebangsaan ini adalah bangunan tanpa got atau buat limbah ke got. Semua limbah terserat dan masuk tanah. dengan water treatment,” cetusnya.
Baginya ketika Pemprov Bali mengeluarkan kebijakan, mengeluarkan program untuk keterlibatan masyarakat, bukan lagi untuk dipertentangkan tapi untuk dijalankan.
“Gubernur mengeluarkan program untuk sampah dan lainnya, bukan lagi dipertentangkan. Secara probadi saya, programnya untuk kebaikan Bali. Ayo jalankan, tidak usah lagi dipertentangkan. Kita ini negara demokrasi, peran serta masyarakat untuk partisipasi diperlukan,” kata Udi Prayudi.
Bagaimana dengan polemik para tokoh terkait sampah? Udi Prayudi mengtakan, saatnya semua sama sama untuk menghentikan polemik. Dan mestinya untuk memfokuskan energi untuk mampu lepas dari masalah sampah. “Ngapain ribut ribut, hentikan polemik. Ayoo gunakan energi ini untuk sama sama berbuat untuk mencari jalan keluar masalah sampah ini,” jawabnya.
Termasuk ketika IGP Artha menyatakan bahwa dirinya bukan pemegang anggaran, sehingga tidak bisa menunjukan hasil kerja. Udi Prayudi juga menanggapi, baginya partisipasi setiap warga bisa dilakukan tanpa harus memegang anggaran dan menjadi pemimpin daerah.
“Bagi saya bukan urusan pemegang anggaran. Urusan sampah menjadi tanggungjawab kita bersama. Kalo saya terkait sampah, sebatas mana kita bisa. Saya buat biopori di rumah kebangsaan, di lingkungan saya dibanjar. Kalo sebagai warga, di rumah masing masing,” jelasnya. “Kalau sekelas tokoh IGP Artha, bergerak untuk mengajak warga, mungkin pengaruhnya lebih besar. Jangan menunggu jadi pemegang anggaran daerah atau pemimpin daerah dulu, baru bergerak. Siapapun bisa berpartisipasi. Ketimbang energi habis untuk debat, mending digunakan buat biopori, teba modern,” cetusnya.
Apa harapannya? Udi mengatakan IGP Artha maupun Gede Pasek Suardika (GPS) teman baiknya, bahkan sudah sangat lama. “Bli Artha, Bli Pasek teman baik saya sejak lama. Ayoo bli, sudahi polemik ini. Ayoo sama sama buat program partisipasi. Dua tokoh ini bisa menggerakan lebih banyak partisipasi masyarakat, untuk masyarakat sadar terkait pengolahan sampah,” harapnya. “Sampah ndak akan bisa ditanggulangi dengan debat. Dengan saling serang di medsos. Tapi bisa ditangulangi dengan bersatu dan sama sama memerangi sampah,” pungkasnya. (*)