Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Magrumbungan, Tarian Buleleng yang Hidupkan Suasana Sawah di Atas Panggung

Dian Suryantini • Selasa, 19 Agustus 2025 | 01:43 WIB
UNIK : Tari Magrumbungan dipentaskan secara masal di ruas jalan protokol Singaraja.
UNIK : Tari Magrumbungan dipentaskan secara masal di ruas jalan protokol Singaraja.

BALIEXPRESS.ID – Di panggung seni, suara gamelan bertalu, mengiringi gerakan tubuh yang penuh tenaga. Panggung kali ini adalah ruas jalan protokol – Jalan Ngurah Rai, Singaraja. Penonton terpaku pada ratusan penari yang melenggok.

 

Para penari memerankan seorang petani dan seekor sapi. Bukan kisah dongeng, melainkan kisah kehidupan sawah yang dikemas dalam bentuk tari. Inilah Tari Magrumbungan, tarian khas Buleleng yang menghidupkan suasana membajak sawah di atas pentas.

 

Tarian ini lahir dari gagasan seniman Ketut Artika, sementara iringan tabuhnya digarap oleh maestro karawitan, Nyoman Durpa. Keduanya berhasil mengangkat aktivitas pertanian yang sederhana menjadi sebuah tontonan seni yang kaya makna, penuh energi, dan sarat nilai budaya.

 Baca Juga: Khusus Usaha PBB-P2 Meroket, Akibat Penyesuaian NJOP di Badung

Magrumbungan bukan tarian biasa. Tarian ini menghadirkan dua peran utama yang melekat erat dengan kehidupan masyarakat agraris, petani dan sapi. Petani digambarkan sebagai sosok pengendali, pemimpin yang mengarahkan jalannya bajak. Sementara sapi hadir sebagai tenaga penggerak, simbol kesetiaan sekaligus kekuatan.

 

Begitu pula kepemimpinan seorang bupati. Ia adalah sang petani—pengarah, pengendali, dan penentu haluan pembangunan. Namun kekuatan sejatinya lahir dari rakyat, yang diibaratkan sebagai sapi, setia menopang setiap langkah. Jika keduanya berjalan seirama, sawah kehidupan akan subur, hasil panen melimpah, dan kesejahteraan pun nyata terasa.

 Baca Juga: PBB-P2 Naik Ribuan Persen, DPRD Badung Minta Kaji Ulang: UMKM Harus Dipertimbangkan

Dalam pertunjukan, peran sebagai sapi bukanlah hal ringan. Sang penari harus mampu melompat, berlari, dan bergerak dengan ritme tertentu yang sudah ditentukan. Gerakannya menuntut stamina prima sekaligus keterampilan teknik tinggi. Itulah sebabnya peran sapi dalam Tari Magrumbungan kerap disebut sebagai pekerjaan rumah terberat.

 

Meski demikian, keduanya tak bisa dipisahkan. Hubungan antara petani dan sapi menjadi roh dari tarian ini. Seperti dalam kehidupan nyata, petani dan sapi bekerja beriringan untuk menumbuhkan kehidupan, memberi makan, dan menjaga keseimbangan alam.

 

Keindahan Magrumbungan tak hanya terletak pada kisahnya, tetapi juga pada perpaduan unsur dasar tari Bali. Agem (sikap tubuh), tandang (gerak langkah), dan tangkep (ekspresi wajah).

 Baca Juga: Diduga Sopir Mengantuk, Truk Terguling ke Jurang, Kata Polisi: Jalan Labil dan Amblas

Seorang penari Magrumbungan tak hanya menari dengan tubuhnya, melainkan juga dengan tatapan mata, ekspresi wajah, hingga aura energi yang dipancarkan. Saat penari berperan sebagai sapi, mata yang tajam, kepala yang sedikit menunduk, dan gerakan tubuh yang melompat-lompat menegaskan karakter binatang pekerja yang penuh tenaga. Sebaliknya, peran petani diperlihatkan dengan sikap tegas, gerakan mantap, serta ekspresi penuh konsentrasi yang menggambarkan kerja keras mengendalikan bajak.

 

Tabuhan gamelan yang digarap Nyoman Durpa menambah daya magis tarian ini. Irama yang dinamis, sesekali menghentak, memberi ruang bagi penari untuk bermain dengan tempo. Dari gerak perlahan seperti membajak tanah basah, hingga lompatan cepat seolah sapi sedang dikejar waktu, semua berpadu harmonis di atas panggung.

 Baca Juga: Miris! Bayi 1 Tahun Dianiaya Anak 2,5 Tahun hingga Luka Parah dan Trauma, Pihak Daycare Dilaporkan ke Polisi: Begini Kejadiannya

Magrumbungan bukan hanya pertunjukan yang menghibur, namun juga pengingat akan akar budaya dan kehidupan agraris Bali. Buleleng, dengan sawah-sawah luas dan tradisi pertaniannya, menemukan pantulan jati diri dalam tarian ini.

 

Di tengah modernisasi yang kian deras, Magrumbungan menjadi ruang refleksi. Kesenian ini mengingatkan bahwa petani dan sapi bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang membentuk masyarakat.

 

Kini, Tari Magrumbungan ditampilkan pembukaan Buleleng Festival 2025, Senin (18/8). Kehadirannya menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng sekaligus bagian penting dari kekayaan seni tari Bali.

 Baca Juga: Legenda Sepak Bola Asal Bali IGK Manila Berpulang, Erick Thohir Ungkap Sosok Sang Jenderal Lapangan

Ketika tirai panggung terbuka dan alunan gamelan mengalun, Magrumbungan seolah menghadirkan aroma tanah basah sawah ke hadapan penonton. Gerakan energik, irama yang dinamis, serta simbol petani dan sapi menjadikan tarian ini lebih dari sekadar hiburan.

 

Tari Magrumbungan adalah identitas, serta jiwa yang hidup di tengah masyarakatnya. Tarian ini membuktikan bahwa seni bisa lahir dari kerja sehari-hari, dan kehidupan di sawah pun layak ditransformasikan menjadi karya seni.

 

 

Sekda Buleleng, Gede Suyasa yang juga ketua panitia Bulfest 2025 mengatakan, pagelaran seni budaya ini menjadi penguat pariwisata Buleleng serta identitas Buleleng.

 Baca Juga: Syukuran HUT Kemerdekaan RI Ke-80, Bupati Adi Arnawa: Tetap Junjung Persatuan dan Kesatuan

Bulfest ke-8 dilakukan kembali tahun 2025. Terakhir dilakukan tahun 2019. Bulfest ini terselenggara atas animo masyarakat yang tinggi. Lewat Buleleng Festival ini diharapkan dapat membangun kesadaran baru akan identitas untuk menjadi daerah maju dan berkembang.

 

Salah satu potensi yang dimiliki oleh Buleleng adalah topeng Buleleng. Tahun 2011 lalu Buleleng pernah menjadi tuan rumah festival topeng dunia. Dengan tema The Mask History of Buleleng, Bulfest akan dilakukan selama 6 hari.

 

"Dalam Bulfest ini dipentaskan kesenian tradisional. Salah satunya Tari Magrumbungan karya Ketut Artika dari Busungbiu. Ada 100 lebih UMKM dan kuliner. Ada 1.000 seniman hingga 20 komunitas modern juga yang terlibat," ujar Suyasa.

 

Selain pagelaran seni budaya yang menjadi daya tarik Bulfest, karya seni yang menjadi backdrop panggung juga menjadi perhatian . Dua topeng raksasa berdiri tegak memandang ke arah utara.

 Baca Juga: Malam Hiburan Meriahkan HUT ke-80 RI di Klungkung

Suyasa mengatakan topeng itu terbuat dari sampah plastik. Sampah tersebut dicacah lalu diolah menjadi bentuk topeng Rama dan Laksamana.

 

"Sebanyak 1,7 ton sampah plastik diolah menjadi topeng raksasa. Dua karakteristik itu melambangkan kesetiaan dan kebijaksanaan. Dalam waktu 1 bulan, dua topebg ini langsung jadi," kata dia.

 

Setiap sampah yang ada di Buleleng Festival ini akan diberdayakan. Akan diolah menjadi kerajinan yang memiliki nilai seni. Ada 135 relawan yang siap membersihkan sampah di area ini. Yang organik akan diolah ke TPA Jagaraga dan non-organik akan didaur ulang di Bank Sampah Induk.

 

"Sehingga Bulfest tidak lagi menjadi penyumbang sampah di TPA Bengkala," ujarnya.

 

Topeng bukan hanya penutup wajah, namun ia memiliki nilai lain. Topeng juga sebagai salah satu identitas yang telah menjadi bagian penting dari seni budaya Buleleng.

 

"Di sini kita akan menyaksikan berbagai pertunjukkan seni budaya. Festival ini akan menjadi langkah untuk mengembalikan marwah Buleleng Festival," ujar Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra.

 

Buleleng Festival yang berbasis lingkungan ini juga untuk mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam rangka Bali Bebas Sampah Plastik.

 

Upaya itu pun mendapat respon positif dari Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta. Tindaklanjut terhadap sampah yang dilakukan oleh Buleleng disebut menjadi salah satu solusi kreatif. Ia menghimbau kepada seluruh desa/kelurahan di Buleleng agar memiliki TPS3R.

 

"Dengan TPS3R itu masalah sampah dapat tertangani dengan baik," ujarnya.

 

Untuk sanggar yang telah terdaftar di Buleleng, Giri Prasta akan mendukung secara penuh. Bila Buleleng Festival kembali dilakukan tahun depan, makan Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan suntikan dana.

 Baca Juga: TRAGIS! Kronologi Bocah 12 Tahun Tenggelam Saat Mancing, Sempat Melambai ke Warga

"Kami akan berikan. Berapa anggaran yang digunakan saat ini, maka kami akan bantu dengan jumlah yang sama. Sehingga jadi dua kali lipat. Untuk kesenian, tidak boleh setengah-setengah," tegas Giri Prasta. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#tarian #festival #gamelan #Tari Magrumbungan #buleleng