Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Anyangaksara dalam Upacara Mebayuh Oton, Diucapkan dalam Bentuk Mantra, Simbol Energi Spiritual

I Putu Mardika • Kamis, 21 Agustus 2025 | 02:10 WIB
Prosesi Mebayuh Oton yang dipimpin oleh Jro Mangku
Prosesi Mebayuh Oton yang dipimpin oleh Jro Mangku

BALIEXPRESS.ID-Mebayuh oton merupakan salah satu ritual sakral dalam tradisi Bali yang dilaksanakan untuk merayakan hari kelahiran seseorang, yang dikenal sebagai otonan. Otonan adalah momen penting dalam siklus kehidupan seorang individu Bali, yang dirayakan setiap 210 hari berdasarkan kalender Pawukon.

Akademisi Institut Mpu Kuturan, Dr. Wayan Sudiarta, M.Pd menjelaskan, salah satu hal penting dalam mebayuh oton adalah penggunaan Anyangaksara, yaitu aksara suci yang memiliki kekuatan magis dan spiritual.

Anyangaksara diucapkan dalam bentuk mantra oleh pemangku atau pendeta yang memimpin upacara. Mantra-mantra ini tidak hanya berfungsi sebagai doa, tetapi juga sebagai sarana untuk mengaktifkan energi spiritual yang terkandung dalam aksara tersebut.

“Setiap aksara diyakini memiliki makna simbolis dan energi tersendiri yang dapat memberikan perlindungan, kesejahteraan, dan keseimbangan spiritual,” jelasnya.

Penggunaan Anyangaksara dalam upacara ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali menghargai kekuatan kata-kata suci dan keyakinan mereka bahwa pengucapan aksara ini dapat menghubungkan manusia dengan kekuatan yang maha kuasa.

Dijelaskan Wayan Sudiarta, ada sejumlah tahapan dalam prosesi Mebayuh oton. Pertama, upacara dimulai dengan penyucian diri.

Individu yang akan merayakan otonan harus melakukan penyucian diri dengan menggunakan air suci.

Kedua, dilakukan persembahan sesajen atau banten Sesajen. Adapun sarana yang diperlukan, diantaranya, banten peras pejati (untuk Bhatara Guru / Kemulan), Dapetan (sebagai tanda syukur), Sesayut pawetuan (untuk Sang Manumadi), Segehan (untuk Bhuta), Sebuah simbolis yaitu pemasangan gelang berupa benang ditangan berwarna putih.

“Kenapa menggunakan benang? karena benang mempunyai konotasi benang dalam bahasa Bali halus. Yang dapat diartikan dua hal yaitu Karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur, ini maksudnya agar hati yang otonan selalu di jalan yang lurus,” sebutnya.

Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Proses terakhir adalah pemberian tirta, atau air suci. Tirta dipercayai memiliki kekuatan untuk memberikan berkah dan perlindungan bagi individu yang merayakan otonan.

Pemberian tirta merupakan penutup dari upacara mebayuh oton dan menandai selesainya prosesi ritual tersebut.

Baca Juga: Vaksinasi PMK di Jembrana Baru Capai 13,5 Persen

Selanjutnya, dilakukan pengucapan mantra yang mengandung Anyangaksara. Mantra-mantra ini diucapkan dengan penuh hening oleh pemangku atau Sulinggih yang memimpin upacara Bayuh Oton.

Pengucapan mantra ini diyakini sebagai cara untuk mengaktifkan energi spiritual yang terkandung dalam aksara suci tersebut.

Proses terakhir adalah pemberian tirta, atau air suci. Tirta dipercayai memiliki kekuatan untuk memberikan berkah dan perlindungan bagi individu yang merayakan otonan.

Pemberian tirta merupakan penutup dari upacara mebayuh oton dan menandai selesainya prosesi ritual tersebut

Anyangaksara, aksara suci dalam aksara Bali, memiliki simbolisme yang mendalam dalam konteks upacara mebayuh oton di Bali. Penggunaan Anyangaksara dalam upacara ini tidak sekadar sebagai simbol ritual, tetapi juga sebagai media berkomunikasi dengan Sang Hyang Widhi.

Setiap aksara memiliki makna simbolis yang terkait dengan kekuatan alam semesta dan dewa-dewa tertentu, yang diyakini mampu memberikan perlindungan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi individu yang merayakan otonan.

Simbolisme Anyangaksara dalam mebayuh oton juga mencerminkan filosofi Hindu Bali tentang harmoni dan keseimbangan.

“Penggunaan Anyangaksara dalam upacara ini menggambarkan keyakinan akan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia spiritual,” paparnya.

Melalui pengucapan mantra-mantra yang mengandung Anyangaksara, individu berusaha untuk memperkuat ikatan spiritual dengan alam semesta dan memperbaharui hubungan dengan Sang Hyang Widhi

Selain itu, Anyangaksara juga memiliki simbol sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tradisi. Penggunaan Anyangaksara dalam upacara mebayuh oton merupakan bagian dari warisan budaya Bali yang harus dijaga dan dilestarikan.

Melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat Bali berusaha untuk mempertahankan identitas dan kearifan lokal mereka. Secara keseluruhan, simbolisme Anyangaksara dalam konteks mebayuh oton mencerminkan keyakinan spiritual, filosofi keseimbangan, dan upaya pelestarian tradisi dan identitas budaya masyarakat Bali.

“Penggunaan Anyangaksara sebagai ekspresi dari nilai-nilai dan keyakinan yang mendalam dalam kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Bali,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#mebayuh oton #ritual #bali #sakral #Anyangaksara #hindu