Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Untung Rp 3,2 T, Angkasa Pura Masih Kacau Gubernur Koster 'Murka' Saat Rapat di Bandara Ngurah Rai

I Ketut Ari Teja • Senin, 25 Agustus 2025 | 00:06 WIB
MURKA : Gubernur Wayan Koster dengan wajah kelihatan marah karena melihat kondisi pengelolaan bandara yang masih kacau. Padahal pendapatannya triliunan.
MURKA : Gubernur Wayan Koster dengan wajah kelihatan marah karena melihat kondisi pengelolaan bandara yang masih kacau. Padahal pendapatannya triliunan.

BALIEXPRESS.ID – Bandara Ngurah Rai saat ini menjadi Kesan pertama Ketika wisatawan memasuki Bali. Bahkan sudah diakui bahwa Bali adalah wajah Indonesia dimata dunia.

Gubernur Bali Wayan Koster masih melihat pengelolaan di Bandara Ngurah Rai masih sangat kacau. Ini membuat dia datang ke Bandara Ngurah Rai. Bahkan Koster sangat murka alias marah – marah dalam rapat koordinasi itu.

Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Bandara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, diantaranya General Manager PT Angkasa Pura I Ahmad Syaugi Shahab, Kepala Kanwil Bea Cukai Bali-Nusra R. Fadjar Donny Tjahjadi, Kepala Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai Winarko, Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Cecep Kurniawan, serta jajaran Kepala OPD Pemprov Bali.
Diawal pertemuan Koster menjelaskan Gambaran umum tentang kondisi Bali. Misalnya kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) ke Bali mencapai 6,4 juta, secara nasional jumlah wisman 13,9 juta orang. Artinya 46 persen kunjungan wisman dari total nasional ke Bali. “Jumlah 6,4 juta kunjungan wisman tahun 2024 itu melebihi dari jumlah sebelum covid- 19, yaitu 6,25 juta orang,” jelas Gubernur yang adalah Mantan DPR RI tiga periode ini.


Terkait dengan devisi dari Bali Rp 107 triiun, atau 44 persen dari devisa Indonesia yaitu Rp 243 triliun. Sedangkan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali sangat tinggi, yaitu 66 persen. “Kalau PT Angkasa Pura I berapa untungnya tahun lalu,” tanya Gubernur Koster.


Ternyata sangat fantastis, keuntungan pengelola Bandara Ngurah Rai ini mencapai Rp 3,2 triliun. Angka ini disebutkan oleh General Manager PT Angkasa Pura I Ahmad Syaugi Shahab. Dengan kondisi ini Gubernur Koster mulai mengharapkan, agar keuntungan itu jangan malah digunakan untuk pengelolaan bandara diluar Bali semua, “Untung besar, mestinya digunakan untuk perbaikan fasilitas di Bali. Jangan malah dipakai keluar saja. Ingat ya, Bali itu wajah Indonesia dimata dunia. Kalau jelek Bandaranya dalam melayani, itu nama Indonesia yang jelek,” ungkap Gubernur Koster dengan suara mulai meninggi.


Koster kemudian membeberkan fakta – fakat kacaunya di Bandara. Misalnya wisman yang sudah naik pesawat lama, bahkan ada yang melebihi 10 jam. Kondisi sampai Bali sudah malam. Namun mereka sangat lama lagi mendapatkan pelayanan. Bahkan bisa sampai tiga mereka baru bisa keluar Bandara.

“Tolonglah perbaiki Kondisi pelayanan. Masak ambil bagisi hingga 1,5 jam, kemudian proses lain. Bisa – bisa menunggu sampai keluar Bandara 3 jam,” ungkap Koster. “Saya ndak mau tahu, untung banyak itu pakai perbaiki fasilitasnya. Bulan depan kita rapat koordinasi lagi, dan wajib hanya dengan waktu 30 menit, sudah keluar Bandara,” cetus Ketua DPD PDIP Bali ini.


Dalam pelayanan imigrasi juga tolong disikat habis adanya transaksi dalam pelayanan. “Tolong sikat habis pelayanan imigrasi yang menyangkut transaksional,” urainya. Termasuk juga ubah wajah pelayanan, sehingga Kesan masuk Bali pertama kali menginjakan kaki bagus. Karena Koster melihat banyak alat – alat yang sudah usang, meja yang sudah jelek. Bahkan tidak seragam. Ganti fasilitas lama, dan pastikan semua kendaraan operasional pakai kendaraan listrik untuk mendukung lingkungan. “Perbaiki masalah teknis seperti pencahayaan, serta tata ulang pintu masuk dan keluar yang jadi biang kemacetan,” imbuhnya. “Tertibkan angkutan ilegal, tingkatkan keamanan, dan pastikan toilet bersih,” sambungnya.


Koster akan melakukan rapat evaluasi lagi bulan depan. Untuk nantinya agar ada perubahan dalam pengelolaan. Baginya Pemprov Bali adalah perpanjangan pemerintah pusat di daerah. “Jangan hanya berpatokan sebagai Lembaga vertikal. Pemprov Bali adalah perwakilan pemerintah pusat di daearah. Satu bulan lagi saya ingin lihat perbaikan signifikan dalam,” pungkasnya. Atas harapan ini semua pihak, siap akan melakukan perbaikan. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#gubernur #wisatawan #murka #ngurah rai #koster #angkasa pura #bandara