SINGARAJA, BALI EXPRESS - Setelah bertahun-tahun bergulir dalam wacana, proyek pembangunan Bandara Bali Utara kini memasuki tahap krusial. Hanya saja masih menunggu keputusan langsung Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Surat resmi terkait permohonan audiensi dan laporan kesiapan proyek telah dikirim kepada Presiden sekitar 1 Agustus 2025 lalu. Surat itu bahkan disebut sudah diterima oleh Sekretariat Kepresidenan. Rencana lebih lanjut, Presiden dijadwalkan akan menerima langsung para pemrakarsa proyek dalam bulan ini.
“Pertemuan selanjutnya, kami sudah mengirim surat kepada Presiden agar segera diputuskan. Rundown acara sudah ada, dan kami akan diterima langsung oleh Presiden. Semoga bisa secepatnya,” tegas Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Direktur Utama PT. BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adyatmoko Hariwibowo, Minggu (24/8).
Dalam pertemuan mendatang, laporan utama yang akan disampaikan adalah kesiapan menyeluruh dari berbagai aspek. Kesiapan tidak hanya mencakup infrastruktur dan pendanaan, tetapi juga tenaga kerja yang selama ini kerap diragukan.
“Laporan kami sederhana tapi penting. Bali sudah siap. Siap dengan infrastruktur, siap dengan dana, dan siap dengan tenaga kerja. Selama ini orang meragukan kesiapan tenaga kerja, tetapi sekarang kami buktikan bahwa itu bukan masalah. Buktikan dengan bekerja saja,” kata Erwanto.
Baca Juga: Cokorda Gde Putra Nindia: Bali Harus Punya Dua Bandara, Selatan dan Utara
Salah satu poin yang paling ditunggu publik adalah kepastian pendanaan. Disebutkan, dana sebesar Rp50 triliun telah dikonfirmasi untuk proyek ini. Sumber dana berasal dari gabungan konsorsium internasional.
“Seperti yang sudah pernah saya sampaikan, ada tambahan dari Qatar sebesar 1,8 miliar dolar AS. Sementara dengan Singapura dan Dubai masih dalam tahap proses, tetapi dana dari Qatar sudah pasti,” jelasnya.
Pendanaan ini menjadi bukti keseriusan investor global terhadap pembangunan bandara yang diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi Bali, khususnya di kawasan utara.
Meski sempat beredar kabar adanya perubahan lokasi, Erwanto memastikan bahwa lokasi bandara tidak berubah sejak awal perencanaan. Bandara ini dirancang bukan hanya melayani penerbangan penumpang, tetapi juga difokuskan pada pengelolaan kargo.
“Bandara ini lengkap, untuk penumpang dan juga kargo. Jadi, bukan hanya mendatangkan wisatawan, tapi juga memperlancar jalur logistik dari dan menuju Bali,” ujarnya.
Antusiasme maskapai penerbangan terhadap bandara baru ini juga diklaim cukup tinggi. Beberapa maskapai internasional disebut sudah menyatakan minat untuk menjadikan Bandara Bali Utara sebagai home base.
“Investornya mayoritas memang dari perusahaan infrastruktur. Tetapi maskapai juga luar biasa. Sudah ada beberapa maskapai dari luar negeri, dan dua maskapai dalam negeri yang siap bergabung. Bahkan dengan maskapai terbesar di Indonesia, kami sedang jajaki kerja sama,” paparnya.
Meski di lapangan sempat beredar isu-isu negatif dan keraguan dari sebagian masyarakat, Erwanto menegaskan bahwa mereka lebih memilih bekerja daripada berdebat.
“Terkait isu negatif, kita kerja saja. Optimisme harus dijaga, karena proyek ini akan membawa dampak besar bagi masa depan Bali,” kata dia. ***
Editor : Dian Suryantini