BALIEXPRESS.ID – Seniman Bali, I Wayan Sujana Suklu, kembali menyapa publik seni dengan pameran tunggal bertajuk "Tubuh dan Waktu: Kesadaran Nawasena", yang digelar di Tony Raka Gallery, Ubud, mulai 23 Agustus hingga 23 Oktober 2025.
Lebih dari sekadar pameran visual, karya-karya Suklu kali ini mengajak pengunjung masuk dalam ruang refleksi mendalam tentang tubuh, waktu, dan kesadaran melalui proses kolaborasi lintas disiplin yang kaya dan unik.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Pelajar SMP Jembrana: NMAX Tabrak Mobil Tengah Malam di Jalur Minim Penerangan
Pameran ini lahir dari dialog kreatif antara Suklu dan penulis Anak Agung Mas Ruscitadewi (Gungmas). Menariknya, karya-karya visual Suklu dalam pameran ini adalah tanggapan atas novel karya Gungmas—yang justru awalnya terinspirasi dari instalasi arsitektural Suklu di ruang Bencingah Pura Besakih.
“Refleksi menjadi kolaborasi, dan kolaborasi kembali menjadi refleksi baru,” terang Suklu, menggambarkan siklus kreatif yang ia bangun bersama Gungmas.
Nawasena mencerminkan perjalanan artistik Suklu yang berpusat pada kepekaan empati, jejak yang menurut kurator Benito Lopulalan dapat ditelusuri hingga lukisannya tahun 2002 yang terinspirasi ketangguhan ibunya. Kepekaan empati ini dapat disaksikan pula pada kecenderungan estetis baik pada proses kreatif maupun pada karya-karya yang ditampilkan.
Scenographer Hartanto, yang menjadi pendorong siklus kolaborasi ini, menyebut karya-karya Suklu sebagai "prosa liris visual", suatu pasatmian menurut Prof. Darma Putra yang menyatukan keberagaman bentuk dan narasi dalam ruang kontemplatif, seperti gerbang candi bentar Bali.
Nawasena yang berarti "masa depan cerah" dalam Sanskerta mewujudkan harmoni energi feminin (Nawa) dan maskulin (Sena) melalui karya dua dan tiga dimensi.
Karya Jejak Tubuh dalam Lontar, misalnya, menghadirkan tubuh sebagai manuskrip hidup dengan bentuk terfragmentasi, sementara Pohon Nawasena, relief batu, membangkitkan resonansi spiritual alam. Tubuh Wiracarita Akasa menggambarkan dua figur berpelukan dalam warna cerah, melambangkan penyatuan eksistensial.
Karya Percumbuan Nawasena, menampilkan patung kawat stainless yang mengundang interaksi visual aktif. Berbahan kawat logam yang dipilin dalam struktur berkelindan, karya ini tidak hanya menyajikan figur representasional tetapi membuka ruang interpretasi luas, bisa dibaca sebagai simbol keterhubungan, keruwetan batin, atau jaringan kosmik.
Hartanto mendiskusikan karya ini memiliki kemiripan dialog dengan karya Loop Wire Ruth Asawa,seniman Amerika keturunan Jepang. Struktur yang terbuka dan berongga memungkinkan cahaya dan bayangan bermain di antara celah-celah, menciptakan efek visual yang berubah tergantung sudut pandang. Penikmat harus bergerak, mengubah perspektif, menjadikannya karya performatif secara pasif yang memaksa interaksi dinamis. Dalam konteks psikologis, bentuk yang saling mengikat mencerminkan struktur batin manusia modern, penuh simpul dan arus namun tetap memiliki pola dan arah, seperti "peta batin" dalam bentuk resonansi daripada garis lurus.
Baca Juga: Sadis, Janda Usai 50 Tahun Dibunuh Usai Pelaku Tak Mampu Bayar Open BO
Proses kolaboratif multimatra ini menciptakan ruang kreatif perenungan, membangun kesadaran sebagai seniman dan manusia multidimensi. Kesadaran yang mengugat kecenderungan dimensi tunggal dari dunia kapitalisme lanjut yang menjadikan rasionalitas logika hanya sebagai alat industrial. Di dalam pencaharian ini, Suklu membangun dialog dengan praktik seni kontemporer seperti halnya Ruth Asawa mengeksplorasi kawat sebagai medium naratif.
Bedanya, Suklu berakar pada spiritualitas-sosial ala Bali, yang khas. Kekhasan yang mendekatkan ruang pribadi dengan interaksi kolaboratif, dimana keruwetan pribadi menjadi bagian dari kreativitas. Lalu menjadi kawat-kawat yang berjalin memasuki ruang sosial. Membangun siklus yang sekaligus menjadi milik pribadi dan milik bersama.
Dari sinilah pemahaman Suklu akan tubuh dan waktu melahirkan tema bagi pameran ini. Multidimensionalitas terefleksikan pada lukisan tubuh pada kanvas, tubuh diperankan dan dihidupi, menjadi ruang dialetika antara memori dan kesadaran kosmik.
Tubuh bekerja sebagai alat navigasi; mengalami landskap, merasakan energi ruang, dan mengaktifkan narasi yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa verbal. Tubuh dan waktu dipadukan oleh anyaman, garis-garis dalam jejak empathy. Waktu? Waktu adalah lapisan-lapisan peristiwa, lapisan demi lapisan pengalaman yag dapat dikreasikan bersama.
Melalui proses dan waktu, kolaborasi menjadi ko-kreasi dari suatu proses. Memahami proses, pameran ini adalah bagian dari cerita ketulusan terbuka antar seniman, yang bersedia berproses bersama dan membangun siklus yang saling berinteraksi. Melalui ketulusan itu, pameran ini bukan sekadar presentasi karya, tetapi perayaan proses hidup yang mengundang dialog kreatif tentang eksistensi, konektivitas, dan harapan.
Editor : Wiwin Meliana