Dan setelah satu bulan akan dievaluasi lagi oleh Gubernur Koster. Menurut Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahaydnya sangat wajar jika Gubernur Bali sampai marah, Ketika rapat di Bandara.
Walapun selama ini Bandara Ngurah Rai punya pusat, Gubernur punya wewenang untuk mendorong perbaikan.
Karena Pemprov Bali adalah perpanjangan tangan pusat di daerah.
“Wajar Pak Gub marah, dan beliau marah juga karena sangat aneh dengan penghasilan bandara triliunan tapi fasilitas dan tata Kelola masih kacau,” ujar politisi yang akrab disapa Dewa Jack.
Bendahara DPD PDIP ini mengatakan, Bali adalah wajah Indonesia dimata dunia. Dan Bandara Ngurah Rai adalah Kesan pertama Ketika memasuki Bali.
Jika sudah kacau tata Kelola dan pelayanannya, jelas akan berimbas jelek terhadap citra Bali.
“Bandara Ngurah Rai itu adalah first imperession (Kesan pertama). Jadi jika baru mendarat di Bandara, proses menjelimet. Nunggu bagasi hingga 1,5 jam. Total bisa sampaii 3 jam proses di Bandara semua. Mereka capek perjalanan belasan jam, itu sangat buruk imbasnya bagi Bali,” urai politisi yang lama di luar negeri ini.
“Ibaratnya jika pandangan pertama udah bagus. Akan memberikan Kesan bagus bagi Bali. Bali adalah wajah Indonesia dimata dunia, dan Bandara adalah wajah Bali dimata wisatawan yang mendarat di Bandara Ngurah Rai,” lanjut politisi asal Banjar, Buleleng ini.
Jadi Gubernur Bali saat ini berkomitmen serius untuk melakukan penataan pariwisata secara seluruh. Dari segala lini dan mampu nanti membangun pariwisata budaya secara holistik.
“Bandara saat ini untung triliunan, itu karena daya Tarik Bali dimata dunia. Jika bandara tidak memperbaiki diri, otomatis wisatawan sedikit ke Bali, yang rugi juga Bandara,” ungkapnya.
Kedepan jika nanti Bandara memperbaiki diri, Bali bernenah terkait masalah macet, sampah dan membangun pertanian organic dan lainnya. Akan mampu membangun pariwisata berdasarkan kualitas, bukan hanya kuantitas.
“Arah Bali adalah quality tourism. Bukan lagi hanya mementingkan jumlah atau kuantitas. Tapi membangun pariwisata yang bagus, dan mampu mendatangkan wisatawan yang berkualitas. Bukan asal banyak, sedikit tapi berkelas dan PADnya juga tinggi. Atau banyak dan berkelas, itu paling sempurna,” cetusnya.
Salah satu yang juga harus dikedepankan, adalah hospitality atau keramah tamahan. Jadi bisnis pariwisata, salah satu kuncinya adalah hospitality.
“Jika mampu menjaga Bali tetap dengan kualitas hospitality yang baik. Tentu mampu terus berkembang menjadi quality tourism. Bagaimana kita mampu membuat nyaman dengan keramahtamahan, Ketika baru turun bandara sudah kacau. Wajib mampu menyelesaikan masalah dalam satu bulan, seperti permintaan Gubernur,” pungkas Dewa Jack.
Sebelumnya, Gubernur Koster sangat murka alias marah – marah dalam rapat koordinasi itu. Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Bandara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting.
Diantaranya General Manager PT Angkasa Pura I Ahmad Syaugi Shahab, Kepala Kanwil Bea Cukai Bali-Nusra R. Fadjar Donny Tjahjadi, Kepala Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai Winarko, Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Cecep Kurniawan, serta jajaran Kepala OPD Pemprov Bali.
Diawal pertemuan Koster menjelaskan Gambaran umum tentang kondisi Bali. Misalnya kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) ke Bali mencapai 6,4 juta, secara nasional jumlah wisman 13,9 juta orang. Artinya 46 persen kunjungan wisman dari total nasional ke Bali.
“Jumlah 6,4 juta kunjungan wisman tahun 2024 itu melebihi dari jumlah sebelum covid- 19, yaitu 6,25 juta orang,” jelas Gubernur yang adalah Mantan DPR RI tiga periode ini.
Terkait dengan devisi dari Bali Rp 107 triiun, atau 44 persen dari devisa Indonesia yaitu Rp 243 triliun. Sedangkan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali sangat tinggi, yaitu 66 persen.
“Kalau PT Angkasa Pura I berapa untungnya tahun lalu,” tanya Gubernur Koster.
Ternyata sangat fantastis, keuntungan pengelola Bandara Ngurah Rai ini mencapai Rp 3,2 triliun. Angka ini disebutkan oleh General Manager PT Angkasa Pura I Ahmad Syaugi Shahab.
Dengan kondisi ini Gubernur Koster mulai mengharapkan, agar keuntungan itu jangan malah digunakan untuk pengelolaan bandara diluar Bali semua.
“Untung besar, mestinya digunakan untuk perbaikan fasilitas di Bali. Jangan malah dipakai keluar saja. Ingat ya, Bali itu wajah Indonesia dimata dunia. Kalua jelek Bandaranya dalam melayani, itu nama Indonesia yang jelek,” ungkap Gubernur Koster dengan suara mulai meninggi.
Koster kemudian membeberkan fakta – fakat kacaunya di Bandara.
Misalnya wisman yang sudah naik pesawat lama, bahkan ada yang melebihi 10 jam. Kondisi sampai Bali sudah malam. Namun mereka sangat lama lagi mendapatkan pelayanan. Bahkan bisa sampai tiga mereka baru bisa keluar Bandara.
Dalam pelayanan imigrasi juga tolong disikat habis adanya transaksi dalam pelayanan. “Tolong sikat habis pelayanan imigrasi yang menyangkut transaksional,” urainya.
Termasuk juga ubah wajah pelayanan, sehingga Kesan masuk Bali pertama kali menginjakan kaki bagus.
Karena Koster melihat banyak alat – alat yang sudah usang, meja yang sudah jelek. Bahkan tidak seragam.
Ganti fasilitas lama, dan pastikan semua kendaraan operasional pakai kendaraan listrik untuk mendukung lingkungan. (art)
Editor : I Putu Mardika