BALIEXPRESS.ID – Tren penjualan properti di Bali, baik rumah subsidi maupun komersial, menunjukkan penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini dipengaruhi oleh keterbatasan lahan yang bisa dikembangkan serta harga tanah yang semakin melambung.
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Bali, A.A. Dharma Setiawan, mengungkapkan rumah komersial masih memiliki permintaan cukup tinggi, terutama di kawasan Denpasar dan Badung.
Baca Juga: Tak Hanya Sahroni, Eko Patrio Diduga Asyik Belanja di China Saat Rakyat Demo Gedung DPR
Hunian hingga vila menjadi pilihan utama pembeli.
Namun, semakin terbatasnya lahan di dua wilayah tersebut membuat pemenuhan permintaan menjadi sulit.
“Orang masih berpikir untuk membeli rumah, PBB naik, lahan juga mahal. Jadi memang ada penurunan penjualan, dari temen-temen anggota juga bilang seperti itu,” ujar Dharma Setiawan, Sabtu (30/8).
Ia menjelaskan, harga tanah di Kota Denpasar saat ini sudah berada di kisaran Rp600 juta hingga Rp1 miliar per are.
Sementara di wilayah Badung, khususnya Badung Selatan, harga mencapai Rp400 juta hingga Rp550 juta per are.
Menurutnya, angka tersebut masih berpotensi naik karena adanya penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang sedang gencar dilakukan di berbagai daerah.
Dharma menambahkan, kenaikan harga lahan dan NJOP turut menekan daya beli masyarakat.
Hal ini berimbas pada penurunan penjualan properti sekitar 5 hingga 10 persen tahun ini.
Tidak hanya rumah komersial, penurunan juga terjadi pada rumah sederhana atau bersubsidi. Ia menyebut, berkurangnya peminat rumah subsidi salah satunya dipengaruhi oleh aturan yang semakin ketat.
Baca Juga: Intip Rumah 7 Lantai Ahmad Sahroni dan Koleksi Mobil Super di Tanjung Priok
Rumah bersubsidi di Bali umumnya berada di wilayah Buleleng, Jembrana, Tabanan, Bangli, dan Karangasem.(***)
Editor : Rika Riyanti