BALIEXPRESS.ID – Ribuan pecalang dari berbagai kabupaten/kota di Bali dikerahkan dalam agenda Gelar Agung Pecalang Bali yang berlangsung di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Denpasar, Senin (1/9).
Langkah ini diambil pasca terjadinya aksi demonstrasi yang berujung ricuh pada Sabtu (30/8).
Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menegaskan bahwa keberadaan pecalang memiliki urgensi penting dalam menjaga kondusivitas daerah.
Baca Juga: Pemkab Badung Finalisasi Pendataan Potensi Pajak Daerah, Potensi Pajak Baru 19.829
“Urgensinya jelas untuk ini—Bali sangat bergantung dengan kerukunan, keamanan, kedamaian, sangat bergantung pada pariwisata. Kalau itu terganggu, pariwisata terganggu, Bali kocar-kacir. Oleh karena itu urgensinya penting,” ujarnya.
Menurutnya, aksi cepat dilakukan dengan mengumpulkan pecalang dari berbagai daerah hanya dalam waktu singkat.
“Oleh karena itu maka kita kumpulkan dalam mengantisipasi unjuk rasa yang sudah mengarah ke anarkis, bahkan informasinya didatangkan dari luar daerah. Hanya dalam hitungan 24 jam mengumpulkan pecalang. Ada dari Singaraja, Negara, dan mereka membagi diri, membanggakan semangat pecalang,” kata Sukahet.
Baca Juga: TNI/Polri, Bali Angunggah Shanti, Hingga Pecalang Jaga Ketat Puspem Badung, Ini Alasannya
Meski ribuan pecalang hadir, jumlah pastinya tidak dihitung karena sebagian tetap ditugaskan menjaga wilayah masing-masing.
“Ga hitung tadi berapa ribu ya? Ternyata kan mereka membagi diri, mereka harus menjaga kabupaten/kota masing-masing,” jelasnya.
Pengamanan dilakukan di masing-masing desa adat, khususnya untuk menjaga fasilitas umum. Sukahet juga memberikan imbauan khusus agar pecalang tetap menjaga marwah Bali sebagai daerah pariwisata.
Baca Juga: Pasca Demo Ricuh di Bali: Ratusan Orang Dibebaskan, Tiga Masih Diamankan Polda, ini Perannya
“Pecalang jaga keamanan dan kedamaian Bali karena Bali bergantung pada pariwisata, beda dengan daerah lain,” tegasnya.
Meskipun diterjunkan dalam jumlah besar, pecalang tidak dibekali dengan senjata.
“Tidak, pecalang tidak dibekali senjata, cukup memogol. Tapi sudah Ratu ingatkan pendemo tidak ada ke pecalang, jangan pernah menyakiti pecalang,” ungkapnya.
Adapun langkah tegas yang diperbolehkan sebatas peringatan secara verbal serta penggunaan atribut tradisional.
Baca Juga: Belasan Ribu Pecalang Siap Amankan Bali dari Demo Anarkis, Gubernur Koster: Bali Harus Tetap Damai!
“Tegas sama ucapan, keris aksesoris mungkin keris kayu atau puntul,” tambahnya.
Sukahet menegaskan, pecalang akan terus disiagakan hingga situasi Bali kembali sepenuhnya aman.
“Sampai Bali aman,” pungkasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti