BALIEXPRESS.ID – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti keterbatasan kapasitas Bandara I Gusti Ngurah Rai yang kerap menimbulkan persoalan ketika terjadi kondisi darurat penerbangan.
Menurutnya, selama ini pesawat yang mengalami gangguan harus dialihkan untuk mendarat di luar Bali.
“Jadi salah satu yang masalah adalah kalau terjadi masalah ban pecah pesawatnya atau masalah lain mendarat daruratnya itu harus ke Surabaya, Makassar atau ke NTB. Jadi karena itu kebetulan sekarang di Buleleng ada Bandara Perintis yakni Bandar Udara Letkol Wisnu,” jelas Koster dalam acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Pemerintah Provinsi Bali dengan Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan terkait Trans Metro Dewata, Kamis (4/9).
Baca Juga: Usulan Pelabuhan Roro untuk Truk Logistik, Anggaran Diperkirakan Rp50 Miliar
Koster mengungkapkan, pemerintah berencana memperpanjang landasan pacu (runway) di Bandara Letkol Wisnu.
Dari panjang awal 900 meter, runway tersebut akan dikembangkan hingga mencapai 2.000 meter.
“Runway-nya 900 meter sudah terintegrasi di Kementerian Perhubungan. Ini kita akan kembangkan runway-nya diskusi kemarin dengan Pak Menteri itu kira-kira 2000 meter,” imbuhnya.
Baca Juga: Karangasem Berpotensi Terima BKK Rp 60 Miliar dari Badung, Gianyar, dan Denpasar
Dengan pengembangan ini, Bandara Letkol Wisnu diharapkan dapat difungsikan sebagai bandara alternatif untuk penerbangan darurat yang tidak bisa ditangani di Bandara Ngurah Rai.
“Jadi nanti kalau problem di Ngurah Rai bisa mendarat darurat di sana, ini akan digunakan,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti