Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tanpa BBM, Tanpa Polusi, Dedi Rakit Barang Bekas Jadi Kendaraan Listrik Tenaga Surya

Dian Suryantini • Jumat, 5 September 2025 | 07:02 WIB
 
I Putu Dedi Wihartama Griadhi membersihkan mobil listrik rakitannya.
I Putu Dedi Wihartama Griadhi membersihkan mobil listrik rakitannya.
 
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Enam unit panel surya terpampang di atas genteng begitu memasuki rumah I Putu Dedi Wihartama Griadhi, di Banjar Dinas Kayuputih, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak. Panel surya nampak berkilau diterpa sinar matahari. Pada tiang bangunan, menjuntai beberapa kabel yang menghubungkan panel surya dengan beberapa peralatan elektronik.
 
Di samping rumahnya, terparkir mungil sebuah kendaraan berwarna biru. Dari kejauhan kendaraan ini cukup nyentrik. Pada bagian samping tidak dilengkapi dengan pintu. Bagian belakang terdapat sebuah kursi penumpang. Dan yang paling unik, atap kendaraan ini seluruhnya menggunakan panel surya. Disamping itu, rangka kendaraan ini sebagian besar menggunakan pipa holo dan besi bekas. "Ini kendaraan rakitan saya sendiri," tukas Dedi saat dijumpai di rumahnya, belum lama ini.
 
Mengendarai kendaraan ini sangat mudah. Sistem pengoperasiannya dibuat begitu sederhana. Hanya terdapat tiga buah tombol pada bagian depan yang terletak di sisi kanan dan kiri kemudi. Satu tombol sebelah kiri difungsikan untuk menyalakan lampu sen. Tombol on/off berwarna merah digunakan untuk menyalakan lampu serta tombol hitam disampingnya untuk kontrol kemudi. Bagian samping kanan bawah juga dilengkapi sebuah tuas yang berfungsi untuk menambah daya dorong pada jalan menanjak. "Kalau kontrol kemudinya gampang. Putar kanan untuk maju dan putar kiri untuk mundur. Sama seperti mobil matic tinggal gas dan rem saja," tambahnya. 
 
Kendaraan dengan energi matahari ini menggunakan 5 buah baterai dari aki. Masing-masing baterai memiliki kekuatan 12 volt. Sementara panel surya yang digunakan sebagai penyerap energi matahari berkekuatan 5.000 WP. Dari segi daya tampung, kendaraan ini mampu mengangkut 500 kilogram beban. "Sampai saat ini sudah habis Rp 35 juta untuk membuat kendaraan ini," kata dia. 
 
Mobil listrik rancangan Dedi ini merupakan hasil eksperimen. Ia gelisah dengan polusi yang mengudara. Semakin hari semakin bertambah. Polusi rata-rata ditimbukan dari asap kendaraan. Maka ia pun memiliki ide untuk membuat kendaraan yang bebas polusi serta tidak bising. Setelah bereksperimen selama 7 bulan, maka jadilah sebuah kendaraan tenaga surya yang kini kerap digunakan untuk pergi ke kebun. Hasil rancangan mobil listriknya tentu berbeda dengan mobil listrik yang beredar di pasaran.
 
Dedi tidak memerlukan Electric Vehicle Charging Station (EVCS) atau stasiun pengisian baterai mobil listrik. Apabila hari cerah dan matahari terik, pengisian listrik bisa langsung dilakukan saat berkendara dengan mobil tersebut. Namun bila tidak digunakan, mobil cukup dijemur dibawah terik sekitar 3 jam.
 
"Kalau beli mobil listrik kan harus ada tempat pengisiannya. Isi daya di rumah pakai listrik 7.000 watt kan lumayan tinggi. Rumah-rumah kalangan menengah ke bawah jarang ada listrik sampai segitu. Nah kalau ini pakai listrik tegangan 2.000 watt sudah bisa. Kalau lagi di luar  tidak perlu repot cari colokan listrik," terang bapak empat anak ini. 
 
Meski sudah bisa dikendarai, mobil listrik milik pria kelahiran 3 Maret 1971 ini belum sempurna. Jarak tempuh terjauh masih menjangkau 18 kilometer saat siang hari dan 15 kilometer saat malam hari. Begitu pula dengan ijin jalan kendaraan yang masih belum dimiliki.
 
"Kalau ke Gondol 8 kilometer PP baterai masih full. Karena sambil jalan, sambil isi daya. Kalau untuk pergi-pergi masih belum bisa. Karena belum punya ijin. Nanti ditilang. Harus pakai surat jalan kalau mau pakai pergi jauh," ujarnya.
 
Panel surya milik Dedi tidak saja digunakan pada mobil rancangannya. Dua unit panel surya juga terpasang di atap garase rumahnya. Kabel menjulur ke bawah menuju aki. Daya listrik yang ditampung dari energi matahari dialirkan ke sebuah sepeda. Lagi-lagi, sepeda ini dirancang Dedi dari barang bekas dengan memanfaatkan tenaga surya. "Ini saya rakit sendiri juga," singkat suami dari Ketut Kartika Putri itu. 
 
Seolah menjadi candu, kebutuhan listrik di rumahnya juga memanfaatkan energi matahari. Enam buah panel surya yang terpasang di atap rumahnya itu menghasilkan 1.500 watt. Daya ini mampu mengaliri listrik ke komputer, dua AC, satu kulkas serta menggerakan mesin air. Pemanfaatan energi terbarukan di rumahnya itu sudah 7 tahun ia lakukan. Sehingga beban tagihan listrik dapat dikurangi. Per harinya, Dedi mampu menghemat 9 kWh.
 
"Nanti mau dikembangkan lagi jadi 5.000 watt," terang alumni Ekonomi Akuntansi, Universitas Warmadewa ini. ***
Editor : Dian Suryantini
#unik #kendaraan listrik #eksperimen #gerokgak #panel surya #sinar matahari