Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Panglukatan Agung Banyu Pinaruh, Ribuan Masyarakat Padati Pantai Mertasari Sanur

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 8 September 2025 | 00:29 WIB

Peaksanaan pangelukatan agung banyu pinaruh yang diikuti ribuan umat hindu di Pantai Mertasari, Sanur, Minggu (7/9).
Peaksanaan pangelukatan agung banyu pinaruh yang diikuti ribuan umat hindu di Pantai Mertasari, Sanur, Minggu (7/9).

BALIEXPRESS.ID - Pantai Mertasari, Sanur dipadati ribuan orang saat hari banyu pinaruh yang bertepatan dengan Purnama sasih ketiga Minggu (7/9).

Masyarakat dari Kota Denpasar dan sekitarnya ini datang untuk mengikuti pangelukatan agung yang digelar oleh Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali.

Bahkan pangelukatan ini pun dipuput oleh tujuh Sulinggih.

Baca Juga: Antisipasi Bencana, BPBD Tabanan Usulkan Anggaran Rp100 Juta pada APBD 2026

Ketua PSN Korwil Bali, Pinandita I Wayan Dodi Arianta mengatakan, panglukatan ini disebut sebagai panglukatan agung dikarenakan dipuput oleh tujuh sulinggih.

Selain itu para pamedek juga mendapatkan tujuh jenis pangelukatan, meliputi panglukatan Gangga, Siwa Baruna, Wisnu Panjara, Siwa Geni, Budha, Wana Gamana dan Marga Gamana.

“Pesertanya sangat ramai. Kami membuat 1.500 karawista langsung habis. Masih banyak yang belum dapat. Pesertanya sekitar 5.000 lebih,” ujar Dodi Arianta.

Baca Juga: Karangasem Menang Telak atas Jembrana di Laga Pembuka Voli Porprov Bali XVI

Pihaknya menyebutkan, masyarakat yang mengikuti prosesi ini membawa pejati maupun canang semampunya.

Panglukatan Banyu Pinaruh kali ini pun disebut sangat istimewa karena bertepatan dengan Purnama Katiga.

Prosesi upacara dimulai dari saraswati malam, saat itu para pemangku menggelar upacara di tengah laut. Dalam prosesinya pemangku mencelupkan botol yang ditutup rapat ke dalam laut.

Baca Juga: Makna Hari Soma Ribek: Simbol Hari Pangan, Gunakan Ilmu dengan Bijak demi Kesejahteraan

Tujuannya untuk mendapatkan tirta nirmala yang digunakan sebagai salah satu sarana melukat. Kemudian, bertepatan dengan hari Banyu Pinaruh, tirta tersebut kemudian dipendak.

"Ida Sulinggih memberikan puja untuk tirta nirmala ini dan menjadi salah satu bahan dasar tirta untuk melukat," ungkapnya.

Dodi Arianta menambahkan, selama ini saat banyu pinaruh, masyarakat akan melukat ke pantai untuk menghilangkan mala.

Namun, dengan panglukatan agung Banyu Pinaruh juga akan memperoleh tirta pangweruh agar mendapatkan pengetahuan sejati.

Sementara itu, Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak mengatakan, Banyu Pinaruh berasal dari dua kata.

Banyu yang bermakna air dan Pinaruh bermakna pengetahuan.

“Jadi bagaimana kegelapan pikiran, kekotoran pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan,” terang Kenak.

Ia menjelaskan, saat banyu pinaruh merupakan hari pertama dari 30 siklus wuku yang berganti setiap minggu.

Hari banyu pinaruh pun berkaitan erat dengan Saraswati yang digelar sehari sebelumnya. Sebab hari saraswati adalah hari terakhir dalam wuku watugunung.

"Watugunung di Bali dimaknai sebagai turunnya Weda atau turunnya ilmu pengetahuan. Saras atinya layaknya air mengalir. Sehingga Saraswati dan Banyupinaruh saling terkait," paparnya.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, saat banyu pinaruh dimaknai sebagai pengendalian diri melalui ilmu pengetahuan.

Ia pun menyebut jika melukat saat banyu pinaruh adalah hal yang bagus.

Namun hal ini tak akan maksimal tanpa dibarengi dengan belajar dan pengendalian diri.

“Apalagi kewajiban manusia adalah belajar. Long life education. Tiada henti belajar baik secara formal maupun informal,” jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#pantai mertasari #banyu pinaruh #sanur