Program sosial ternama dari Jepang, Restoran Paman Ashinaga (Ashinaga Ojisan), kini resmi hadir di Indonesia melalui PT HAYAX Resort Indonesia. Kehadirannya ditandai dengan acara amal Charity Party yang berlangsung di Bintang Carnival Beach Club, Pantai Kelan, dan diikuti oleh 168 anak beserta 10 guru pendamping.
Pendiri Bintang Carnival Beach Club sekaligus perwakilan HAYAX Group, Tomoaki Hayakawa, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen sosial perusahaan.
Baca Juga: Diduga Akibat Trek-trekan, Video Kecelakaan Maut di Jembatan Merah PKB Klungkung Viral!
“Kontribusi sosial adalah hati dari perusahaan kami. Di Jepang, program Paman Ashinaga sudah berjalan lebih dari tujuh tahun, termasuk pesta Natal untuk anak-anak dari keluarga single mother, korban KDRT, hingga pengungsi perang Ukraina. Kini kami ingin menghadirkan semangat itu di Indonesia, dimulai dari Bali,” ujar Tomoaki.
HAYAX Group berencana menjadikan kegiatan sosial ini sebagai agenda rutin, termasuk pesta Natal yang akan digelar serentak antara Jepang dan Bali melalui koneksi internet. “Kami ingin anak-anak di Bali juga merasakan kebahagiaan yang sama seperti anak-anak di Jepang,” tambahnya.
Acara amal ini turut didukung oleh Hayax Corporation yang berbasis di Gifu, Jepang, serta PT Kebun Teknologi Indonesia sebagai sponsor utama.
HAYAX Group sendiri telah membuka cabang di Bali sejak awal 2024 dan mengoperasikan Bintang Carnival Kelan sejak Februari 2025. Beach club ini hadir dengan konsep tiga lantai: kafe di lantai satu, restoran di lantai dua, dan klub malam di lantai atas.
Selain bergerak di bidang pariwisata, HAYAX juga bekerja sama dengan Universitas Udayana untuk penyelenggaraan ujian kemampuan bahasa Jepang. Mereka juga mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LBK HAYAX) guna menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang ingin berkarier di Jepang.
Dengan total tujuh perusahaan—enam di Jepang dan satu di Indonesia—serta lebih dari 1.000 karyawan, kehadiran HAYAX di Bali diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata, membuka lapangan kerja lokal, sekaligus menjadi jembatan budaya Indonesia–Jepang.
Editor : Ninuk Febriani