Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Emas Kadek Bayu Suteja di Porprov Bali 2025, Latihan Muaythai Sampai Muntah

Dian Suryantini • Rabu, 10 September 2025 | 23:00 WIB

Kadek Bayu Suteja, peraih emas Muaythai Buleleng di Porprov 2025
Kadek Bayu Suteja, peraih emas Muaythai Buleleng di Porprov 2025

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sorak penonton menggema di Aula Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, pada 4 September 2025, lalu. Di sudut ring, seorang anak muda dari Kalibukbuk, Buleleng, berdiri dengan napas tersengal, wajah berkeringat, tetapi matanya menyala. Dialah Kadek Bayu Suteja, 21 tahun, petarung Muaythai yang baru saja memastikan langkah ke final.

Pertarungan itu berlangsung sengit. Bayu berhadapan dengan Kadek Angga, wakil Denpasar. Sejak ronde pertama, Angga tampil agresif, meluncurkan tendangan dan pukulan tanpa jeda. Namun, di ronde terakhir, energinya mulai terkuras. Itulah celah yang dimanfaatkan Bayu. Tinju berulang masuk ke wajah, siku mendarat mulus, lalu sebuah tendangan keras mengenai pelipis lawan. Darah mengalir. Wasit segera menghentikan pertarungan. Bayu menang TKO, dan langkahnya menuju emas semakin dekat.

“Momentum itu jadi titik balik. Saya bisa masuk final,” kenang Bayu, saat ditemui di Kampus Undiksha, Jinengdalem, belum lama ini.

Di partai puncak, Bayu bertemu Baim, wakil Badung. Pertarungan itu bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal mental. Bayu sempat terjebak dalam strategi lawan. Ia lebih banyak defensif, menerima hantaman pukulan dan tendangan brutal yang menghujani wajah dan dadanya.

“Saya kira energi lawan sudah habis, ternyata masih banyak. Saya benar-benar kewalahan,” ujarnya.

Namun, di ronde terakhir, Bayu mengambil keputusan untuk menyerang balik tanpa pikir panjang. Dengan tubuh penuh lebam, ia mengerahkan seluruh tenaga. Pukulan demi pukulan menghantam, tendangan masuk ke tubuh lawan, hingga akhirnya Baim terpojok ke pembatas ring. Wasit menghentikan laga. Bayu menang. Medali emas resmi ia kantongi.

"Saya menang dengan rasa lelah yang luar biasa," kata Bayu, seraya menegaskan bahwa final bukan sekadar soal kemenangan, tetapi juga ajang uji ketahanan.

Baca Juga: Lulus Cumlaude 3,5 Tahun, Atha Kini Bersiap Belajar di Inggris dengan Beasiswa Penuh

Kemenangan di Porprov Bali 2025 bukan kejutan. Bayu memang sudah lama mengukir prestasi. Sejak 2018, ia rutin naik podium. Dia pernah menjadi Juara 1 Kejurnas Muaythai 45 kg di Jawa Timur, Juara 3 di Jakarta Selatan, Juara 1 Porprov Bali 2022, hingga Winner Rumble Night Promotion 2025. Konsistensi itulah yang membuat namanya diperhitungkan di dunia Muaythai Bali.

Namun, siapa sangka perjalanan Bayu bermula dari kegagalan. Saat duduk di kelas 4 SD, ia belajar silat di bawah bimbingan ayahnya, Gede Sudarma. Tubuh gendut membuatnya sulit lincah. Ia mundur sebelum benar-benar mahir.

“Setidaknya saya bisa menendang. Itu saja jurus yang tersisa,” kata Bayu sambil tertawa.

Baru pada 2017, saat SMP, Bayu benar-benar serius menekuni beladiri. Sang ayah mengubah perguruan silat Walet Putih menjadi Walet Fighter Club dengan aliran Muaythai. Ibunya, Luh Parmita, mendorong Bayu untuk bergabung. Dari situlah perjalanan panjangnya sebagai petarung dimulai.

Di balik emas Porprov 2025, ada proses latihan yang ekstrem. Empat bulan sebelum pertandingan, Bayu digembleng keras oleh ayahnya. Latihan fisik tanpa kompromi, sparing hingga jatuh bangun, bahkan seringkali sampai muntah dan menangis.

“Bapak melatih saya bukan sebagai anak, tapi sebagai murid. Kalau muntah, tetap lanjut. Katanya, biar mental dan fisik kuat,” ungkap Bayu.

Sakit, lelah, bahkan luka menjadi bagian dari perjalanan. Tetapi semua itu berbuah manis di ring.

Bayu lahir dari keluarga petarung. Kakaknya, Gede David Subrata, pernah juara Wushu Sandha di Porprov Bali 2019. Sang ayah dikenal sebagai pelatih keras, sedangkan ibunya menjadi penopang dengan kasih sayang dan motivasi. “Kalau bukan karena ibu, saya mungkin tidak akan masuk Muaythai,” kata Bayu.

Medali emas Porprov Bali 2025 hanyalah batu loncatan. Bayu tahu jalan masih panjang. Ia bermimpi menembus kejuaraan nasional, bahkan internasional. “Saya ingin buktikan kalau anak Lovina bisa berprestasi besar. Tidak hanya di Bali, tapi juga Indonesia dan dunia,” katanya penuh semangat.

Dari muntah di latihan, darah di ring, hingga sorak kemenangan di atas podium, perjalanan Bayu adalah kisah tentang kegigihan. Ia membuktikan bahwa emas tidak lahir begitu saja, tetapi ditempa dari air mata, keringat, dan keberanian untuk tidak menyerah. ***

Editor : Dian Suryantini
#bali #muaythai #emas #Porprov 2025 #porprov bali 2025 #buleleng