SINGARAJA, BALI EXPRESS - Langkah Putu Luhur Apngal Kusuma di arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2025 kembali menjadi sorotan. Master Nasional (MN) asal Buleleng itu sukses mempersembahkan medali emas di kategori catur perorangan standar setelah menumbangkan lawan tangguh dari Denpasar yang notabene atlet pelatnas.
Bagi Putu Luhur, kemenangan ini bukan sekadar prestasi, melainkan bentuk loyalitasnya kepada daerah kelahiran. Meski saat ini ia menempuh kuliah dengan beasiswa penuh di Universitas Gunadarma Jakarta, ia tetap memilih membela Buleleng di setiap laga resmi.
“Saya lahir dan besar di Buleleng. Perjalanan catur saya dirintis sejak kecil di sini. Jadi saya tetap ingin membela Buleleng, meski sempat ada tawaran dari kabupaten lain,” ungkapnya, Kamis (11/9) siang.
Persaingan di meja catur kali ini bukan perkara mudah. Di kategori cepat perorangan, lawan utama datang dari Denpasar yang menurunkan pemain master, serta Gianyar dengan kekuatan penuh. Namun, persiapan matang membuat Putu Luhur percaya diri.
Sejak tiga bulan sebelum Porprov, ia sudah menyiapkan diri secara serius. Ia bahkan menyewa pelatih internasional master dari luar dengan biaya pribadi mencapai Rp3 juta untuk mendampinginya. “Kebetulan saya kuliah di Jakarta, jadi saya mulai persiapan sejak jauh-jauh hari bersama pelatih,” ujarnya.
Usahanya terbayar manis. Pada kategori catur standar perorangan, Putu berhasil menundukkan atlet pelatnas Denpasar. Pertandingan berjalan dramatis. “Kalau saya kalah, emasnya dia. Kalau draw, justru saya yang menang. Dan hasilnya draw, jadi emasnya untuk saya,” katanya dengan senyum puas.
Raihan medali emas ini bukan akhir dari perjalanan Luhur di Porprov Bali 2025. Jalannya masih panjang dan harus menumbangkan lawan-lawan lainnya. Kali ini Luhur turun di lima nomor pertandingan. Diantaranya, Kelas Terbatas Catur Kilat, Kelas Terbatas Catur Standar, Beregu Catur Kilat, Perorangan Catur Standar dan Perorangan Catur Cepat.
Baca Juga: Porprov Bali Jadi Pintu Wahyu Surya ke Kejuaraan Angkat Berat Dunia
Raihan medali emas di kelas Perorangan Catur Standar ini menambah panjang daftar prestasi Putu Luhur di Porprov. Sebelumnya, ia langganan emas di kategori catur cepat perorangan dengan catatan dua kali berturut-turut menguasai podium utama.
Tak heran jika Percasi Buleleng menaruh harapan besar kepadanya. Sekretaris Percasi Buleleng, Kadek Agus Juniarta, menyebut kontribusi Putu menjadi modal berharga untuk mengangkat posisi Buleleng di klasemen perolehan medali.
“Raihan emas kali ini datang dari Putu Luhur Apngal Kusuma di kategori catur perorangan standar. Selain itu kami juga menyumbang perak di catur standar beregu dengan pemain saya sendiri, Gusti Bagus Oka, Dewa Aditya, dan Nyoman Mariasa. Satu lagi perak datang dari kategori beregu standar putri dengan komposisi Kadek Lusiana, Ribka Sri Wirat Setiani, dan Komang Yuliani,” papar Kadek Agus.
Hingga pertengahan kompetisi, Percasi Buleleng menargetkan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu dari 15 medali yang diperebutkan. “Saat ini kami berada di posisi kedua klasemen umum di bawah Badung. Kami optimistis bisa melampaui target,” tambahnya.
Perjalanan akademis Putu Luhur tak bisa dilepaskan dari catur. Berkat akumulasi prestasi nasional hingga internasional, ia mendapatkan beasiswa penuh di Universitas Gunadarma Jakarta. Meski padat dengan kuliah, ia tetap menjaga performa dengan latihan online secara rutin.
“Catur sudah jadi bagian hidup saya. Bukan hanya memberi prestasi, tapi juga mengantarkan saya mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya.
Sebelumnya, ia juga pernah mencatat prestasi di berbagai Kejurnas, yang semakin menguatkan statusnya sebagai salah satu atlet catur terbaik Bali.
Meski begitu, ada catatan penting dari Percasi Buleleng. Banyak atlet muda potensial yang hanya mentok di tingkat Porjar karena ajang Popnas sudah tidak lagi digelar sejak 2016. Kondisi ini membuat regenerasi atlet terasa stagnan.
“Ada banyak bibit atlet catur di Buleleng yang berani bersaing. Sayangnya, karena Popnas sudah tidak ada, mereka kehilangan motivasi. Padahal catur adalah cabang olahraga yang punya level kejuaraan dunia,” ujar Arya Kusuma, pelatih catur Buleleng.
Ia berharap pemerintah bisa memperjuangkan ruang kompetisi lebih luas bagi atlet catur muda. “Kalau ada wadah berjenjang, saya yakin catur Buleleng bisa melahirkan lebih banyak master di masa depan,” tambahnya.
Di balik semua raihan medali, loyalitas Putu Luhur tetap menjadi cerita tersendiri. Ia tak tergoda tawaran dari kabupaten lain yang sempat mencoba merekrutnya.
“Pernah ada yang ingin meminang dengan komisi tertentu. Tapi saya sudah nyaman di Buleleng. Saya ingin tetap membela daerah yang sudah membesarkan saya,” tegasnya. ***
Editor : Dian Suryantini