SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mulai mematangkan rencana besar untuk menata kawasan titik nol Kota Singaraja. Kawasan yang berada di sekitar Patung Singa Ambara Raja, ikon kota yang selama ini menjadi pusat aktivitas warga, akan diubah wajahnya menjadi lebih tertata, bernuansa heritage, sekaligus ramah bagi masyarakat.
Sekda Buleleng, Gede Suyasa menegaskan bahwa penataan titik nol bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari visi besar Bupati Buleleng untuk lima tahun mendatang yakni memperkuat identitas Singaraja sebagai kota heritage.
“Titik nol ini memiliki nilai sejarah tinggi. Di sini ada kantor bupati, kantor-kantor lama peninggalan Belanda, hingga Patung Singa Ambara Raja yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat. Semua akan kita tata agar nuansa sejarahnya tetap terjaga,” jelas Suyasa, Jumat (12/9).
Penataan akan meliputi berbagai aspek, mulai dari lingkungan, sanitasi, hingga utilitas. Kabel listrik dan telekomunikasi yang selama ini tampak semrawut di udara, serta pipa-pipa PDAM yang terlihat di permukaan, akan dipindahkan ke bawah tanah. Dengan begitu, wajah kawasan menjadi lebih rapi, bersih, dan layak menyandang predikat heritage.
Kawasan titik nol Singaraja dikelilingi bangunan bersejarah, termasuk Kantor Bupati Buleleng, Kantor Bappeda, hingga Kantor Disdikpora. Hampir seluruh gedung tersebut dibangun pada masa kolonial Belanda dan hingga kini masih difungsikan sebagai pusat pelayanan publik.
Menurut Suyasa, penataan nantinya juga menyentuh aspek konservasi gedung-gedung tersebut. Seluruh bangunan akan dikembalikan pada bentuk aslinya, tanpa menghilangkan nilai orisinalitas.
“Selama ini ada kanopi tambahan yang menempel di gedung. Itu akan kita hilangkan. Gedung akan diperbaiki mengikuti bentuk aslinya, sehingga identitas sejarah benar-benar hidup kembali,” tegasnya.
Baca Juga: Pemkab Buleleng Akan Restorasi Gerbang Utama Kantor Bupati Buleleng
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat citra Singaraja sebagai kota tua yang penuh sejarah. Selain itu, warga juga bisa merasakan kembali atmosfer kota tempo dulu, namun dengan kenyamanan fasilitas modern.
Tak hanya berorientasi pada pelestarian sejarah, rencana penataan juga diarahkan agar kawasan kantor bupati dan sekitarnya lebih ramah masyarakat. Area Patung Singa hingga Jalan Krisna, Jalan Catus Pata, hingga depan Makam Curastana akan ikut ditata.
Kawasan tersebut akan disiapkan sebagai ruang publik yang nyaman, dengan tambahan ruang terbuka hijau (RTH). Penambahan RTH ini bukan hanya untuk memperindah kota, tetapi juga untuk menjaga kualitas udara serta menekan polusi.
“Pemerintah menargetkan minimal 30 persen kawasan ini memiliki RTH. Jadi selain indah, juga sehat dan nyaman,” ujar Suyasa.
Kepala Dinas PUTR Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, menambahkan bahwa proyek penataan titik nol akan melalui beberapa tahapan teknis. Tahap awal mencakup penyesuaian aset dan koordinasi dengan para pemilik utilitas, seperti PLN, Telkom, dan PDAM.
“Semua pemilik utilitas harus kita ajak bicara agar tidak ada kendala saat pemindahan ke bawah tanah. Kalau sudah ada kesepahaman, tender bisa dilaksanakan pada Desember, dan awal tahun depan pengerjaan mulai dilakukan,” jelasnya.
Dengan rencana itu, kawasan titik nol Singaraja diproyeksikan akan memiliki wajah baru pada tahun depan.
Pemkab Buleleng berharap, penataan ini dapat menjadi tonggak baru dalam pembangunan kota. Titik nol Singaraja diharapkan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga ruang publik yang nyaman sekaligus destinasi heritage yang membanggakan.
“Kami ingin masyarakat merasa memiliki. Kalau semua pihak mendukung, kawasan ini bisa benar-benar menjadi pusat kota yang berkarakter heritage sekaligus nyaman bagi siapa saja,” ujar Suyasa. ***
Editor : Dian Suryantini