BALIEXPRESS.ID - Semangat berkarya dengan berakar pada budaya lokal kembali diwujudkan lewat program Tulola Kawan Nusantara Identitas yang digelar di Andaz Bali.
Perhelatan ini menampilkan karya seni, perhiasan, dan kolaborasi lintas bidang yang mengangkat warisan leluhur sekaligus berani menghadirkan inovasi sesuai perkembangan zaman.
Tahun ini, program tersebut dibuka dengan penampilan seni dari Desa Taro berjudul Tarian Narnir sebuah persembahan otentik dari masyarakat setempat.
Founder & Creative Conceptor Tulola, Happy Salma, menekankan pentingnya Bali sebagai sumber inspirasi.
Baca Juga: Belajar dari Tragedi Nepal: Waspadai Hoaks dan Jaga Persatuan Bangsa
“Bagi saya pribadi dan Tulola, Bali adalah rumah—tanah yang menumbuhkan, mengilhami, sekaligus menjadi sumber nilai yang kami bawa dalam karya. Karena itu, sangat penting menghadirkan Kawan Nusantara di Bali, agar masyarakat Bali juga dapat merasakan, menyaksikan, dan ikut merayakan karya-karya ini di tempat asal inspirasi kami,” ungkapnya.
Dalam program Identitas, ditampilkan instalasi kreatif berupa 12 art-wear, hasil sinergi dengan sejumlah seniman lintas bidang.
Kolaborasi itu antara lain melibatkan Didit Hediprasetyo dengan karya busana kontemporer, Garin Nugroho melalui film pendek “Kegelisahan Sinta”, dan Trianzani Sulshi yang menafsirkan relasi identitas personal dengan ruang.
Founder & Creative Designer Tulola, Sri Luce Rusna, menambahkan bahwa karya instalasi ini lahir dari riset panjang mengenai simbol tradisi Nusantara.
“Bali bagi saya adalah inspirasi yang hidup: alam, budaya, dan kehangatan manusianya memberi napas dalam setiap karya. Karena itu, penting sekali karya ini ditampilkan di Bali,” tuturnya.
Kolaborasi lain juga menghadirkan aktor Putri Marino yang ikut menyelami makna “Identitas”. Tulola menerjemahkan gagasan tersebut dalam rangkaian artwear dan signature items.
Selain itu, diluncurkan pula koleksi artwear berupa perhiasan yang dibagi ke dalam empat babak perjalanan penemuan diri: Warisan, Komunitas, Dunia Baru, dan Legacy.
Karya-karya itu bukan hanya perhiasan, melainkan representasi nilai.
Baca Juga: Diperiksa KPK, Eks Wamenaker Noel Ebenezer Tetiba Pakai Peci, Alasannya Bikin Geleng-Geleng
Misalnya, Warisan yang mencerminkan akar tumbuh dengan motif flora-fauna, Komunitas dengan anyaman sebagai simbol keterhubungan, Dunia Baru yang merayakan kebebasan individu, hingga Legacy sebagai warisan untuk generasi mendatang.
Semangat serupa juga diperlihatkan oleh enam jenama lokal yang ikut dikurasi dalam Kawan Nusantara Bali, seperti Paulina Katarina, Jasmine Elizabeth, NAMU, Webeings, Utama Spice, dan Kevala.
Salah satu bagian acara yang menarik adalah pameran Heroes of Heritage, hasil kolaborasi dengan dua perajin perak senior asal Desa Wisata Taro, I Made Suama dan Ketut Daging.
Keduanya telah lama berkarya dan menjadi saksi perjalanan panjang seni perhiasan di Bali.
Baca Juga: Lagi, Budi Arie Kembali Dikritik Warganet Usai Ucapan Terima Kasih ke Diri Sendiri
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan dukungannya terhadap keberlangsungan budaya lokal.
“Kerja sama seperti ini merupakan hal penting dan perlu dijaga keberadaannya, agar berbagai budaya asli Indonesia tetap lestari dan penggunaannya sesuai perkembangan zaman,” ujarnya.
Sementara itu, Marc Walz, Chief of the Village Andaz Bali, menegaskan komitmen ruang acara sebagai tempat yang terbuka bagi seniman dan UMKM lokal.
“Kami memiliki komitmen kuat untuk berjalan berdampingan dengan budaya lokal serta para praktisinya. Andaz Bali bukan hanya tempat bagi para tamu, tetapi juga ruang bagi seniman lokal untuk mengekspresikan diri, berkembang, dan menjaga kelestarian budaya Bali hingga dapat diwariskan ke generasi berikutnya,” katanya.(***)
Editor : Rika Riyanti