BALIEXPRESS.ID – Banjir yang melanda kawasan Jembrana, Bali, pada Rabu (10/9/2025) lalu mulai menampakkan dampak serius, terutama di sektor pertanian.
Data sementara dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana mencatat, sebanyak 301,3 hektare sawah di wilayah Bali Barat terendam air banjir, dan sebagian besar berpotensi mengalami gagal panen (puso).
Baca Juga: Usai Banjir, Toko Karpet di Denpasar Diserbu Warga Gara-Gara Promo, Harga Terjun Bebas
Namun, kepastian jumlah kerusakan masih menunggu proses verifikasi lanjutan. Pasalnya, tingkat kerusakan dan usia tanaman di setiap lahan berbeda-beda.
“Kami masih melakukan pendataan di lapangan bersama BPBD Jembrana. Angka 301,3 hektare ini bisa saja bertambah. Estimasi kerugian juga masih dihitung,” ujar I Komang Ngurah Arya Kusuma, Kabid Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, Minggu (14/9).
Adapun sebaran sawah yang terendam banjir adalah sebagai berikut:
Kecamatan Jembrana: 114 hektare
Kecamatan Negara: 95,5 hektare
Kecamatan Melaya: 70 hektare
Kecamatan Mendoyo: 10 hektare
Kecamatan Pekutatan: nihil
Baca Juga: UPDATE! Pemuda Hilang di Pantai Kelan Ditemukan Meninggal di Perairan Benoa
Beberapa areal sawah di sepanjang Jalan Denpasar–Gilimanuk, terutama di Desa Baluk hingga Desa Banyubiru, bahkan turut tertimbun material banjir seperti batu, tanah, sampah, dan pohon tumbang, akibat jebolnya pondasi penahan tanah.
“Kalau usia tanamnya masih muda, bisa ditanam ulang setelah dibersihkan. Tapi kalau sudah usia hampir panen dan terendam lebih dari tiga hari, besar kemungkinan akan puso,” jelas Arya Kusuma.
Selain merendam tanaman, banjir juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah saluran irigasi primer dan sekunder, serta pompa air yang ada di sumur bor milik kelompok tani.
Kerusakan ini dikhawatirkan akan menimbulkan masalah lanjutan berupa kekeringan, terutama jika perbaikan tidak segera dilakukan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Dorong Generasi Muda Jadi Katalis Ekonomi, BRI Gelar Program Pengusaha Muda BRILiaN 2025
“Kami pantau terus. Selain kerusakan tanaman, kami juga khawatir pasokan air terganggu akibat kerusakan infrastruktur,” imbuhnya.
Dinas Pertanian Jembrana saat ini masih terus melakukan pemantauan dan akan mengecek kondisi tanaman kembali setelah lewat tiga hari pascabanjir, untuk memastikan status kerusakan dan kemungkinan puso.
Pemulihan dan pembersihan material banjir di areal sawah akan menjadi langkah awal agar petani bisa kembali berproduksi.
Editor : Wiwin Meliana