BALIEXPRESS.ID – Duka masih menyelimuti warga Perumahan Permata Residence, Banjar Kelod Kauh, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, pasca banjir bandang yang menerjang kawasan itu pada Rabu (10/9/2025).
Hingga Minggu (14/9), satu keluarga yang terdiri dari tiga orang masih belum ditemukan.
Baca Juga: Sama-sama Kuat, Gung Anom dan Suwirta Bakal Tarung Rebut Kursi Ketua DPC PDIP Klungkung
Sebagai bentuk doa dan permohonan keselamatan, Desa Adat Beringkit bersama warga setempat menggelar ritual Guru Piduka dan Bendu Piduka, Sabtu malam (13/9), di sekitar lokasi kejadian.
Upacara ini dilakukan untuk menenangkan alam, menghaturkan permohonan maaf kepada alam semesta, sekaligus memohon kelancaran dalam proses pencarian korban.
Ritual Guru Piduka dalam tradisi Bali merupakan bentuk permohonan maaf kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kemungkinan adanya pelanggaran kesucian atau keseimbangan alam yang menyebabkan bencana.
Upacara ini dipimpin oleh para pemangku adat dan diikuti puluhan warga serta keluarga korban yang masih menanti kabar pasti.
Baca Juga: Rumah Amblas Terseret Arus Banjir Yeh Penet, Satu Keluarga di Mengwi Belum Ditemukan
“Kami berharap melalui upacara ini, proses pencarian dipermudah dan semoga arwah para korban diberikan jalan yang terang,” ujar Jro Bendesa Adat Beringkit, dalam keterangannya.
Selain Guru Piduka, juga dilaksanakan Bendu Piduka, sebagai upaya spiritual untuk memohon agar energi negatif yang menyebabkan bencana dapat dinetralisir.
Adapun ketiga korban yang masih dalam pencarian adalah:
Rio Hatnar Boelan (56)
Dewi Ratnawati Soenarjo (57)
Riviere Timothy George Wicaksono Boelan (23)
Ketiganya dinyatakan hilang sejak rumah mereka amblas dan hanyut terbawa arus deras Tukad Yeh Penet pada Rabu dini hari. Hingga kini, tim SAR gabungan dari Basarnas Bali dan Polres Badung masih terus melakukan penyisiran, baik di aliran sungai maupun area reruntuhan rumah menggunakan alat berat.
Baca Juga: Ratusan Hektare Sawah di Jembrana Terendam Banjir, Petani Terancam Gagal Panen
Banjir bandang terjadi akibat debit air di Tukad Yeh Penet yang melonjak drastis hingga mencapai 3,5 meter, menyapu kawasan permukiman di tepi sungai. Rumah keluarga Boelan hancur total, sementara rumah di sebelahnya mengalami kerusakan parah di bagian belakang.
Tukad Yeh Penet sendiri merupakan sungai sepanjang 45 kilometer yang berhulu di Danau Beratan dan bermuara di Pantai Nyanyi, Tabanan.
Berdasarkan data terbaru Basarnas Bali, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Bali sejak Rabu lalu telah menelan 17 korban jiwa. Lima orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk keluarga di Mengwitani dan dua orang di Denpasar.
“Kami masih terus menyisir aliran sungai hingga ke muara. Fokus kami juga pada tumpukan material di bawah jembatan yang berpotensi menjebak korban,” kata I Ketut Wirajaya, Koordinator Pencarian Basarnas Bali.
Baca Juga: Usai Banjir, Toko Karpet di Denpasar Diserbu Warga Gara-Gara Promo, Harga Terjun Bebas
Warga Desa Adat Beringkit dan keluarga korban terus berharap agar korban segera ditemukan, apapun keadaannya. Ritual spiritual yang digelar menjadi simbol bahwa pencarian tidak hanya dilakukan secara fisik, namun juga secara niskala (spiritual).
Editor : Wiwin Meliana