BALIEXPRESS.ID – Sebanyak 91 seniman dari Desa Singapadu memamerkan 126 karya seni dalam pameran bertajuk “Taksu Jagaraga” yang resmi dibuka pada Minggu (14/9) di Arma Bali Living Museum, Gianyar. Opening ceremony dimeriahkan art performance kolaborasi dengan seniman cilik dan UNHI Denpasar yang memukau penonton.
Pameran ini menjadi catatan penting perjalanan kesenian Singapadu yang telah melahirkan banyak maestro seni rupa dan seni pertunjukan.
Ketua Asosiasi Seniman Singapadu, Cokorda Alit Artawan, menjelaskan tema Taksu Jagaraga dimaknai sebagai kesiagaan diri para seniman dalam menjalani profesi seni masing-masing.
Menurutnya, karya yang dihadirkan mencerminkan semangat untuk terus responsif, kreatif, dan kontemplatif terhadap dinamika kehidupan seni dan budaya, baik di lingkungan sekitar maupun masyarakat luas.
“Seniman Singapadu telah membangun identitasnya dari masa lalu sampai kini yang memiliki nilai tinggi dan berpengaruh bagi perkembangan seni rupa dan seni pertunjukan, tidak hanya di Singapadu dan Bali, tetapi juga mengglobal,” ujar Cokorda Alit.
Ia menambahkan, taksu dalam pandangan masyarakat Bali dipahami sebagai energi luar biasa yang mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi istimewa.
“Taksu, yang tergali dari kekuatan terbaik potensi diri dan atas berkah dari Hyang Maha Kuasa, akan sulit untuk dilemahkan oleh kekuatan manusia dan akan bisa bertahan lama bahkan seumur hidup,” jelasnya.
Perjalanan seni di Singapadu berakar sejak abad ke-18 ketika Ida Dewa Agung Api menciptakan barong dan rangda sebagai pujaan masyarakat.
Baca Juga: Kapolri Tak Tampak Sambut Kedatangan Prabowo di Bali, Spekulasi Pergantian Makin Menguat
Karya tersebut bukan hanya bagian dari seni pertunjukan, tetapi juga sarana religius dan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Hingga kini, peninggalan beliau masih disucikan di berbagai pura di Bali seperti Tegeh Tabanan, Antap Tabanan, Tojan Klungkung, Serongga, Puaya, Intaran Sanur, Gria Dalem Sibang Badung, dan lainnya.
Generasi berikutnya, Ida Dewa Agung Anom Api atau Ida Dewa Agung Geni, melanjutkan tradisi tersebut dengan menciptakan topeng sebagai persembahan.
Karya barong dan rangda beliau dipuja di Banjar Kederi Singapadu Kaler, Pura Desa Celuk Sukawati, serta Pura Dalem Desa Guwang Sukawati.
Tradisi pembuatan topeng berlanjut di Puri Singapadu melalui sosok Tjokorda Oka Tublen atau Ida Dwagung Singapadu.
Ia terinspirasi dari petangkilan barong di Pura Merajan Agung Puri Singapadu, sebuah peristiwa berkumpulnya barong buatan Puri Singapadu yang dipasupati setiap upacara besar.
Baca Juga: Jenazah Suwandi Ditemukan di Bawah Tumpukan Sampah, 4 Korban Masih Dinyatakan Hilang
Kiprah Tjokorda Oka Tublen bahkan tercatat dalam katalog Exposition De La Paris 1931, ketika ia dipercaya menjadi dekorator pameran internasional di Paris bersama rombongan seniman dari Ubud dan Peliatan.
Pada 1952–1953, ia juga bergabung dengan grup Gunung Sari Peliatan dalam misi kesenian ke Eropa dan Amerika.
John Coast dalam bukunya Dancing Out Of Bali menyebut Tjokorda Oka sebagai desainer kostum sekaligus pembuat topeng, barong, dan rangda.
Seiring waktu, lahir sejumlah maestro seni rupa dari Singapadu, di antaranya I Wayan Tangguh, I Wayan Pugeg, I Wayan Tedun, I Ketut Muja, I Nyoman Cetug, Gusti Putu Brata, I Wayan Susun, I Nyoman Renu, Tjokorda Raka Tisnu, I Wayan Sukarya, Ketut Kodi, I Wayan Salin, I Wayan Wardana, I Wayan Tama, I Made Hartawan, I Made Mesium, Mangku Ketut Korma, I Nyoman Carman, Cokorda Raka Sedana, Mangku Made Sutiarka, I Nyoman Narka, I Wayan Teba Gunastra, I Ketut Letra, I Ketut Brati, I Nyoman Rupik, hingga I Nyoman Rubig.
Baca Juga: Selamat Jalan Suwandi, Jenazah Korban Banjir ke-18 Ditemukan di Sungai Banjar Pohgading, Denpasar
Generasi berikutnya antara lain Jero Mangku Adi Kusuma, I Gusti Putu Miasa, I Gusti Ngurah Mirjana, I Nengah Soma, I Wayan Jana, I Made Supena, I Made Sugiantara, I Ketut Sugantika, I Made Ardika, Cokorda Sutrisna Putra, I Ketut Dirga, Cokorda Alit Artawan, I Made Martin, I Kadek Puriartha, Cokorda Gede Trisna, I Wayan Gede Budayana, I Wayan Bagiartana, dan Made Suarmika.
Kini, seniman muda yang mulai menorehkan prestasi di antaranya I Komang Agus Parinata (Eben), I Wayan Budiana, I Komang Erik Setiawan, Cokorda Putra Wiyuda, I Putu Ade Sastra Wiguna, Made Depyo, I Kadek Sudirman, dan I Wayan Ponco Maryuda.
Menurut Cokorda Alit, pameran kali ini bukan hanya bentuk apresiasi seni, tetapi juga momentum kebersamaan.
“Peristiwa kali ini akan menjadi salah satu catatan penting bagi perjalanan kesenian Desa Singapadu, khususnya Asosiasi Seniman Singapadu. Dalam kebersamaan, kita diberi kesempatan memamerkan karya di salah satu museum terbaik, Agung Rai Museum of Art (ARMA), yang menjadi barometer perkembangan kesenian di Bali, Indonesia bahkan dunia,” ungkapnya.
Baca Juga: Karate Buleleng Kembali Perkasa, Cetak Tiga Kali Juara Umum Beruntun
Pameran Taksu Jagaraga menampilkan karya lintas generasi, mulai dari topeng, lukisan, patung, tatah kulit, desain, hingga fotografi. “Mari merayakan Taksu Jagaraga,” ajak Cokorda Alit.(***)
Editor : Rika Riyanti