Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bangun Ketahanan Pangan, Gede Praja Sulap Pekarangan Jadi Lumbung Pangan Keluarga

Wiwin Meliana • Sabtu, 20 September 2025 | 17:08 WIB

Gede Praja,  Sosok Pegawai PUPR Buleleng yang Ubah Pekarangan Jadi Lumbung Pangan Keluarga
Gede Praja, Sosok Pegawai PUPR Buleleng yang Ubah Pekarangan Jadi Lumbung Pangan Keluarga

BALIEXPRESS.ID— Di tengah gemuruh pandemi yang melanda dunia pada tahun 2020, ketika ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seorang pegawai negeri di Kabupaten Buleleng, Bali, justru menyalakan harapan dari hal yang paling sederhana, yakni pekarangan rumah.

Namanya Gede Praja Mahardika Sujana Putra, pria 35 tahun yang bekerja sebagai honorer di Dinas PUTR Kabupaten Buleleng. Alih-alih larut dalam keterpurukan, ia melihat peluang dari keterbatasan.  Halaman kecil, tanah seadanya, dan barang-barang bekas yang tak lagi dipakai.

Dari sinilah konsep "Indung Pangan Keluarga" ia gagas. Sebuah gerakan yang mendorong masyarakat menanam sayur dan tanaman obat sendiri di rumah.

Praja memulai dengan mengedukasi masyarakat sekitar bagaimana memanfaatkan pekarangan rumah, tak peduli sekecil apa pun itu. Bagi yang tak memiliki tanah luas, ia mengenalkan metode tabulampot (tanaman buah dalam pot) dan pemanfaatan barang bekas seperti kampil, botol plastik, hingga ember rusak sebagai media tanam.

"Saat itu semua serba sulit. Tapi saya berpikir, kalau kita bisa menanam sendiri, setidaknya kita tidak perlu beli sayur. Itu sudah penghematan," ujar Praja kepada Koran Bali Express, Sabtu (20/09/2025).

Masyarakat yang mengolah pangan untuk dikeringkan
Masyarakat yang mengolah pangan untuk dikeringkan

Tanaman yang dianjurkan pun bukan sembarang tanaman. Ia memilih jenis empon-empon seperti jahe, kunyit, sereh, sambiroto, hingga bunga telang, yang selain bermanfaat untuk kesehatan juga memiliki nilai jual.

"Misalnya bunga telang, masyarakat saya ajarkan cara mengeringkannya agar bisa dijadikan teh. Nilai jualnya jadi lebih tinggi ketimbang hanya menjual bunga segar," kata pria yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial itu.

Namun gerakan ini tak hanya soal menanam. Praja juga menyisipkan edukasi penting tentang pengelolaan sampah rumah tangga. Ia mengajarkan cara membuat biopori, tong komposter, hingga eco enzyme, agar sampah organik tak sekadar dibuang tapi justru jadi pupuk alami untuk menyuburkan tanaman.

"Kalau sampah kita olah jadi pupuk, kita tak perlu beli pupuk kimia. Itu juga penghematan. Dan tentu lebih ramah lingkungan," tambahnya.

Sementara untuk mereka yang memiliki lahan lebih, ia mendorong untuk mulai memelihara ayam petelur dan memperluas jenis tanaman. Hasilnya? Bisa dijual dan menjadi sumber tambahan pendapatan.

sayuran yang ditanaman memanfaatkan sampah kemasan
sayuran yang ditanaman memanfaatkan sampah kemasan

Meski gerakan ini terus berkembang, Praja mengakui tak semua berjalan mulus. Lahan pekarangan yang sempit menjadi tantangan utama di wilayah-wilayah padat penduduk. Namun melalui pendekatan kreatif seperti vertikultur dan hidroponik sederhana, ia berusaha mencari solusi.

Masalah lain adalah pemasaran hasil produk. Saat ini, produk olahan hasil panen masyarakat masih sebatas dijual di pasar lokal. Praja dan timnya sedang mencoba memperbaiki kemasan dan branding agar bisa menembus pasar yang lebih luas, bahkan nasional.

Bagi Gede Praja, program ini bukan semata soal bertani atau berkebun. Ini adalah tentang kemandirian, tentang membangun martabat keluarga dari tanah yang mereka pijak sendiri. Setiap sayur yang tumbuh di pekarangan adalah bukti bahwa harapan bisa ditanam, bahkan di masa-masa paling sulit sekalipun.

"Dengan menanam cabai, sayur, kita bisa hemat uang dapur. Dengan kelola sampah, kita hemat uang angkut. Ini soal hidup berdaya dari rumah sendiri," pungkasnya dengan senyum penuh semangat.

Editor : Wiwin Meliana
#keluarga #pangan #pekarangan #buleleng