BALIEXPRESS.ID- Program pengembangan desa wisata di Kabupaten Bangli, Bali, mendapat sorotan.
Dari total 31 desa wisata yang telah mengantongi SK Bupati, hanya tujuh yang benar-benar aktif mengelola pariwisata sekaligus mampu menarik kunjungan wisatawan. Sementara sisanya masih jalan di tempat.
Anggota DPRD Bangli I Made Sudiasa menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap 24 desa wisata yang hingga kini belum berkembang.
“Apakah desa-desa yang ditetapkan sebagai desa wisata benar-benar memiliki potensi? Baik potensi alam, seni, budaya, maupun sumber daya manusia. Jangan sampai menetapkan desa wisata yang pada akhirnya tidak terkelola dengan baik,” kritik Sudiasa, Kamis (25/9/2025).
Menurutnya, banyak desa wisata masih terkendala pada kesiapan sumber daya manusia (SDM), keterbatasan fasilitas penunjang, serta minimnya promosi.
Padahal ketiga aspek tersebut sangat penting untuk mendorong perkembangan desa wisata, tentu dengan dibarengi komitmen yang kuat dari berbagai pihak.
Sudiasa mencontohkan Desa Wisata Undisan yang mampu berkembang berkat dukungan SDM.
Banyak tokoh pariwisata di desa itu yang memahami industri pariwisata. Mereka juga memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan potensi desa.
“Komitmen ini penting, karena menggali dan mengembangkan desa wisata jelas membutuhkan anggaran,” tegasnya.
Politikus Partai Demokrat menegaskan bahwa Pemkab Bangli perlu melakukan pemetaan ulang terhadap desa-desa wisata yang benar-benar potensial untuk dikembangkan.
Tidak hanya terbatas pada 31 desa sesuai SK, tetapi juga desa lain yang mungkin memiliki potensi meski belum ditetapkan secara resmi.
Dengan pemetaan yang tepat, desa wisata yang diprioritaskan bisa lebih fokus mendapatkan pendampingan hingga promosi.
Desa yang sudah berjalan baik seperti Penglipuran dan Undisan bisa dijadikan model, lalu ditularkan ke desa lainnya.
Selain itu, ia juga berharap keberadaan Forkomdewi Bangli dapat menjadi motor penggerak untuk membangkitkan sejumlah desa wisata yang selama ini tertidur. (*)
Editor : I Made Mertawan