BALIEXPRESS.ID- Guncangan gempa berkekuatan 5,7 SR terjadi pukul 16.40 WITA. Pusat gempa terjadi di wilayah Selat Bali dekat Banyuwangi. Namun Guncangan ya terasa hampir di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng.Guncangan gempa terasa cukup keras. Warga yang merasakan guncangan gempa sempat panik dan berhamburan keluar rumah.
Baca Juga: Vonis Bebas Pemicu Kerusuhan, Sidang Pembunuhan di PN Gianyar Mencekam, Keluarga Korban Mengamuk
"Cukup keras saya rasakan guncangannya. Saya sedang berada di lantai 2 tadi. Sedang ada kegiatan," kata Budi Susanta, warga Kelurahan Banyuning, Kamis (25/9) sore.
Meski gempa terjadi pada sore hari, kepanikan warga masih terasa hingga pukul 18.45 WITA. Beberapa warga terlihat masih berada di luar rumah. Mereka waspada jika terjadi gempa susulan.
Sejauh ini, belum ada kerusakan yang dilaporkan akibat gempa yang terjadi di Buleleng. Pun demikian, BPBD Buleleng tetap melakukan penyisiran atas dampak gempa.
Sebelum terjadi gempa dengan kekuatan yang cukup keras, BPBD Buleleng melakukan simulasi siaga bencana gempa bumi dan tsunami.
Simulasi dilakukan di Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Kamis (25/9) siang.
Diketahui, wilayah Pengastulan merupakan salah satu wilayah di Buleleng yang sempat diguncang gempa hebat tahun 1976 silam.
Simulai ini dilakukan guna memperkuat budaya siaga bencana dan meningkatkan keterampilan kapasitas ketika terjadi bencana gempa bumi dan tsunami.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi menyampaikan, kegiatan tanggap bencana dilakukan serangkaian peringatan Hari Tsunami, yang digelar secara internasional bersamaan dengan IOWAVE (Indian Ocean Wave Exercise) tahun 2025.
Dipilihnya Desa Pengastulan dalam kegiatan itu karena daerahnya berpotensi gempa bumi dan tsunami berdasarkan kajian resiko bencana.
"Berdasarkan kajian resiko bencana yang kami lakukan, ya Desa Pengastulan memiliki potensi gempa bumi dan tsunami, terlebih lagi pernah tragedi gempa bumi besar pada tahun 1976. Jadi kami secara berkelanjutan melakukan simulasi siaga bencana disini,” ujar Kalak Ariadi.
Pihaknya menambahkan, kegiatan simulasi rutin dan berkelanjutan dilakukan di Pengastulan karena sudah terbentuk relawan Tsunami Ready pada tahun 2024 dan diakui oleh UNESCO.
Kalak Ariadi berharap melalui latihan secara berkelanjutan seperti itu dapat menurunkan resiko bencana seperti halnya meminimalisir korban jiwa.
“Kami harap masyarakat semakin paham langkah apa yang dilakukan bila terjadi gempa bumi dan gempa bumi yang beresiko tsunami,” kata dia. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana