SINGARAJA, BALI EXPRESS - Singaraja, ibu kota Kabupaten Buleleng di Bali Utara, telah dikenal tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan sejarah, tetapi juga sebagai pusat sastra dan budaya puisi. Sebutan “Ibukota Puisi” mengandung makna historis dan kontemporer. Kota yang melahirkan puisi, karya sastra, institusi pengarsipan lontar, dan komunitas sastra yang aktif.
Pembahasan mengenai Singaraja Ibukota Puisi disampaikan dalam sebuah seminar dalam kegiatan Rabu Puisi, Rabu (1/10) pagi. Rabu Puisi adalah sebuah program reguler yang dibuat oleh Komunitas Mahima untuk mengapresiasi dan merayakan puisi sebagai jiwa kehidupan. Singaraja adalah Ibu kota puisi.
Beradasrkan catatan temuan sejarah yang dipaparkan oleh Guru Besar Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Darma Putra, menerangkan, Singaraja dahulu adalah ibu kota Kerajaan Buleleng. Tahun 1604, kota ini resmi disebut “Singaraja”.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia (1945), Singaraja menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada 1958, status ibu kota provinsi dialihkan dari Singaraja ke Denpasar.
Banyak bangunan kolonial Belanda, jalan-jalan kuno, pelabuhan lama, dan struktur pemerintahan tua yang melambangkan masa penjajahan dan sejarah.
“Terkait puisi, ada arsip bahwa puisi Indonesia pertama yang lahir di Bali, berjudul Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana oleh Gd.P. Kertanadi, diterbitkan di Singaraja pada 1 Januari 1925,” ujar Prof. Darma Putra sebagaimana ia membacakan puisi tersebut, dalam Seminar.
Baca Juga: Singaraja Literary Festival 2025: Menghidupkan Pengetahuan di Masa Lalu dalam Napas Baru
Puisi-puisi lain dari tahun 1925 juga muncul di media massa Singaraja. Seperti Assalamualaikum (oleh WD) dan Ilmu (oleh AWD) yang dimuat dalam surat kabar Surya Kanta.
Ada jurusan Pendidikan Bahasa Bali di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, yang aktif mengadakan lomba, penelitian, dan publikasi dalam puisi Bali (bahasa Bali purwa dan anyar).
Kegiatan seperti Singaraja Literary Festival memperkuat identitas sastra kota ini—lomba baca puisi, teater, musikalisasi puisi, bedah buku, dll. Dan kali ini diperdalam pada sebuah seminar dalam rangkaian acara Rabu Puisi.
Media-massa lokal seperti Kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta memainkan peranan penting dalam menerbitkan karya puisi di masa kolonial.
Gedong Kirtya menyimpan banyak manuskrip lontar, menjadi pusat literasi dan warisan budaya. Legitimasi sejarah yang kuat sebagai tempat kelahiran puisi di Bali, terutama lewat media zaman kolonial.
Institusi budaya yang sudah ada (Gedong Kirtya, Undiksha, komunitas sastra seperti Mahima) mendukung pelestarian dan produksi literasi sastra.
Kegiatan festival sastra yang terus berjalan, melibatkan generasi muda, dan menjembatani kearifan lokal dengan ekspresi kontemporer.
Singaraja adalah salah satu wilayah paling awal di Bali yang menjadi wadah lahirnya puisi-berbahasa Indonesia, lewat media massa lokal.
Ada warisan manuskrip (lontar) yang menjadi sumber literasi dan sejarah sastra unik, termasuk Gedong Kirtya.
Sejarah pemerintahannya yang membuatnya pernah berdiri sebagai pusat budaya dan pemerintahan menambah bobot simbolik.
“Rabu Puisi adalah sebuah gerakan mengingatkan kembali Singaraja khususnya dan Bali umumnya bahwa puisi adalah jiwa kota Singaraja bahkan sejak seabad lalu,” kata Kadek Sonia Piscayanti, Ketua Komunitas Mahima.
Singaraja memang punya alasan kuat untuk disebut Ibukota Puisi Bali (bahkan Indonesia, dalam konteks tertentu). Gelar ini bukan sekadar pujian estetis, tetapi berdasarkan sejarah, artis, karya, dan lembaga nyata yang sudah ada.
“Dengan perawatan dan pengembangan yang tepat, Singaraja bisa menjadi contoh kota sastra yang hidup, yang tidak hanya menyimpan warisan, tapi juga terus melahirkan karya, ide, dan generasi yang mencintai puisi,” ujarnya. ***
Editor : Dian Suryantini