SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sebuah gerai kecil di pinggiran kota Singaraja tampak sibuk. Spon bertumpuk di samping mesin jahit kuno. Di sebelahnya berdiri laki-laki sedang memegang alat kikir. Seorang lelaki yang hidupnya nyaris sepenuhnya didedikasikan pada sebuah benda kecil, yang sering luput dari perhatian orang. Sadel motor. Lelaki itu bernama Nur Hamang, namun orang-orang lebih akrab memanggilnya Amang.
Usianya kini telah memasuki 62 tahun. Rambutnya mulai memutih, kerutan di wajahnya semakin jelas, tetapi tangannya masih cekatan, matanya masih teliti, dan konsentrasinya tak pernah goyah. Setiap hari, ia sibuk di bengkel kecilnya. Bukan bengkel motor atau mobil seperti yang umum ditemui, melainkan bengkel servis sadel.
Bengkel itu ia sewa setelah sebelumnya membuka bengkel di jalan Hasanudin, Singaraja. Di jalan Hasanudin itulah pertama kali Amang memngembangkan usaha servis sadel sejak tahun 1986.
Amang bukan orang baru di bidang ini. Sejak muda, ia sudah akrab dengan sadel. Lulusan Sekolah Teknik Mesin (STM), yang kini dikenal sebagai SMKN 3 Singaraja, itu memulai perjalanan kariernya pada 1982, tepat setelah menamatkan sekolah. Ia sempat merantau ke Denpasar, ikut seorang teman untuk bekerja di bidang yang sama.
“Tahun 1982 saya mulai ikut teman di Denpasar setelah lulus SMA,” kenangnya.
Dari kota itu, ia belajar banyak. Pengalaman bertahun-tahun mengutak-atik sadel membuat tangannya semakin terampil. Lalu, empat tahun berselang, Amang kembali ke kampung halamannya di Singaraja. Dengan bekal keterampilan dan pengalaman, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Sejak saat itulah namanya dikenal sebagai tukang servis sadel pertama di Buleleng.
Baca Juga: Yahya Umar Si Penulis Berita dan Penulis Cerita
Mereka yang pernah datang ke bengkel Amang tahu persis mengapa jasanya dicari. Bukan hanya karena hasil kerjanya rapi, tetapi juga karena ketelitiannya. Setiap sisi sadel yang ia garap selalu simetris, sejajar, tanpa ada yang miring atau mencang-mencong. Baginya, kerapian bukan sekadar estetika, melainkan tanggung jawab.
“Kalau hasilnya tidak simetris, orang pasti tidak nyaman. Sadel itu kan tempat duduk utama, jadi harus pas,” katanya sambil tersenyum.
Di masa mudanya, Amang bisa mengerjakan hingga lima sadel per hari. Kini, seiring bertambahnya usia, ia membatasi diri mengerjakan tiga sadel sehari. Meski begitu, hasil garapannya tetap konsisten. Anak muda yang gemar memodifikasi motor masih setia menjadi pelanggannya.
“Sekarang banyak anak muda suka modif motor. Sadel pasti kena revisi berkali-kali. Jadi ya, mereka bolak-balik ke sini,” ujarnya.
Ada satu hal yang membuat Amang berbeda dari tukang servis kebanyakan. Kejujuran dan sikapnya yang sederhana. Baginya, pelayanan yang baik lebih penting daripada keuntungan semata.
Jika ada pelanggan yang meminta jenis kulit sadel tertentu, ia tak segan memberikan konsultasi gratis. Ia akan menjelaskan mana bahan yang bagus dan mana yang cepat rusak.
“Saya beri tahu saja mana yang bagus dan yang tidak. Kasihan kalau harus keluar uang berkali-kali untuk servis terus,” tuturnya.
Padahal, bila ia mau, itu bisa saja dijadikan strategi marketing agar pelanggannya terus kembali. Namun Amang memilih untuk tidak melakukannya.
“Tidak baik seperti itu. Saya tidak bisa begitu,” tegasnya.
Kejujuran inilah yang membuat Amang disegani dan dipercaya pelanggan. Banyak orang datang dari jauh hanya untuk memperbaiki sadel di bengkelnya.
Kini, di usia senjanya, Amang masih setia dengan pekerjaannya. Ia tak pernah berpikir untuk berhenti atau mencari jalan lain. Baginya, sadel sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Sejak muda saya sudah begini. Tidak pernah berubah. Sama saja sampai sekarang,” ucapnya lirih.
Bagi sebagian orang, pekerjaan memperbaiki sadel mungkin terlihat sederhana, bahkan dianggap sepele. Namun bagi Amang, setiap jahitan, setiap potongan kulit, dan setiap bentuk simetris yang ia hasilkan adalah karya. Sebuah dedikasi panjang lebih dari empat dekade, yang membuat namanya melekat dalam sejarah kecil di Buleleng sebagai tukang servis sadel pertama.
Ia tidak sibuk dengan promosi atau strategi bisnis rumit, tidak pula mengejar keuntungan besar. Ia hanya bekerja dengan tulus, memberikan yang terbaik untuk setiap pelanggan.
Di tengah hiruk pikuk modernisasi, di saat orang lebih sering memilih produk baru ketimbang memperbaiki yang lama, Amang tetap teguh dengan bengkelnya. Seperti sadel yang ia rapikan, hidupnya pun lurus dan simetris. Sederhana, rapi, dan penuh ketelitian.
Dan di bengkel kecilnya di Kampung Kajanan, denting palu, suara gunting kulit, serta aroma lem perekat masih terus menemani hari-harinya. Amang, lelaki 62 tahun itu, masih setia berkarya—seperti hari-hari pertamanya empat puluh tahun silam. ***
Editor : Dian Suryantini